
Tidak sempat tidur, tidak masalah bagi Nevan. Pagi ini dia sudah buat janji dengan seorang Dokter kandungan dan sekarang sedang bersiap pergi ke sana bersama Gantari, tentu saja.
"Kita bisa pergi nanti sore, Dion."
Nevan menggeleng tegas. "Takut kamu berubah pikiran."
Bibir Gantari langsung mencebik. Namun, Nevan langsung menarik tangan Gantari dan menariknya masuk ke dalam mobil. Sedangkan, Bi Murni yang menjadi saksi bisu perdebatan kecil pengantin baru itu hanya tersenyum geli. Kemudian, ia mulai membersihkan meja makan.
***
Nevan dan Gantari terpaksa menunggu sekitar 15 menit karena memang mereka datang lebih awal dari janji.
"Tuh, kan, kita datang terlalu cepat." Gantari celingak-celinguk memperhatikan beberapa orang yang juga duduk di kursi tunggu.
"Cuma 15 menit nggak masalah," balas Nevan santai. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka aplikasi kamera dan langsung menjepret Gantari yang tampak terkejut.
"Kamu ngapain?"
"Hari pertama periksa si kecil," gumam Nevan, lalu menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celana.
Gantari melongo, lantas tertawa geli. "Alay banget suamiku, ya Allah."
Tawa Gantari terhenti karena seorang perawat memanggil namanya. Nevan sontak berdiri dengan semangat, membuat Gantari kembali meledakkan tawa.
"Anak pertama, ya?" Seorang Dokter wanita bertanya ramah setelah mempersilakan keduanya duduk yang disambut anggukan malu-malu oleh Gantari.
"Kita hitung usianya dulu, ya," beritahu sang Dokter. "Tanggal pertama haid terakhir kapan?"
"25 September."
Dokter tampak mengetikkan sesuatu di ponselnya. "Sudah 5 minggu," ujarnya tersenyum hangat.
Tubuh Gantari menegang. Ia menoleh cepat pada Nevan yang juga menoleh ke arahnya.
"Tapi kami baru nikah 3 mingguan, Dok."
"Hampir 4 Minggu," tambah Nevan.
__ADS_1
Sang Dokter tersenyum maklum. Beginilah seharusnya seorang dokter, ramah dan menenangkan.
"Perhitungan usia kehamilan dimulai dari HPHT bukan dari tanggal nikah." Dokter berhijab itu kembali melanjutkan, "Kenapa? Takut jadi fitnah?"
Gantari tidak menjawab, namun dokter itu sudah paham betul. "Tenang aja. Orang sekarang udah pinter-pinter, kok. Banyak yang udah paham masalah ini."
Melihat raut wajah Gantari yang belum juga berubah, dokter lagi-lagi melanjutkan, "Kalau pun ada yang nggak paham dan nggak mau paham, berapa lama sih tahan nyinyir dan nyindirnya? Nanti juga capek sendiri."
Kali ini Gantari tersenyum. Dokter di hadapannya ini benar-benar mencoba memperbaiki suasana hatinya, seolah fenomena yang terjadi pada Gantari bukan kali pertama ia hadapi.
"Sekarang egois aja dulu. Pikirin diri sendiri. Pikirin anak kalian. Itu jauh lebih penting dari pada omongan orang."
Diam-diam, Nevan meraih tangan Gantari dan menggenggamnya. Seolah meyakinkan Gantari jika ia tidak sendiri.
"Kita USG, ya. Cara ini lebih akurat untuk menentukan usia janin." Dokter bersiap berdiri yang diikuti oleh Gantari dan Nevan. Kemudian, Gantari diminta berbaring, lalu perutnya diolesi gel oleh sang dokter.
"Ini kantung kehamilan," jelas dokter sembari menggerakkan alat transducer. "Nah! Yang seperti biji wijen itu janinnya."
Ada desir yang Gantari rasakan ketika melihat pemandangan yang menakjubkan itu. Ia menatap monitor tanpa berkedip. Cintanya sudah jatuh meski ia hanya melihat titik sekecil itu.
"Detak jantungnya belum kedengaran. Kalau kedengaran rasanya lebih luar biasa lagi," ujar dokter seolah paham oleh rasa haru Gantari.
...****************...
"Makin khawatir, ya?" Nevan yang sedang mengemudikan mobil, mengulurkan sebelah tangannya dan meraih tangan Gantari, lalu menggenggamnya lagi.
Gantari menggeleng. "Udah biasa aja."
Nevan mengerling tak percaya, hingga membuat Gantari kembali menekankan. "Beneran. Udah biasa aja."
"Oh." Nevan membulatkan bibirnya, lalu susah payah menahan tawa.
"Nggak usah ketawa. Sekarang aku mau ke rumah mama."
Nevan menoleh lagi. "Ke rumah mama?"
"Iya. Mau kasih pengumuman. Habis itu langsung ke rumah kakek, ya."
__ADS_1
Wow!
Ada lega yang teramat sangat Nevan rasakan. Syukurlah Gantari sudah bisa mengendalikan rasa khawatirnya.
"Kita ke rumah kakek dulu, ya. Lebih dekat dari sini," ujar Nevan yang disambut anggukan setuju Gantari.
Sepanjang jalan, Nevan bersenandung saja, hingga membuat Gantari bergidik ngeri. Namun, tidak ia larang karena diam-diam Gantari menikmati ungkapan kebahagiaan Nevan tersebut.
Sebuah mobil pickup dari jalur sebelah kiri melaju dengan kecepatan tinggi. Kemudian, menyalip begitu saja mobil yang dikendarai Nevan, hingga kini mobil bercat hitam itu ada di depan mereka. Namun, tiba-tiba mobil pickup tersebut langsung mengerem mendadak, hingga membuat Nevan kaget. Sedangkan, Gantari sudah memekik panik.
Cittttttt!
Nevan menginjak kuat pedal remnya, namun karena jarak kendaraan yang kepalang dekat, akhirnya benturan tetap tidak bisa dihindarkan.
Brakkkk!
Keduanya terhuyung ke depan. Beruntung mereka menggunakan sabuk pengaman, namun Gantari sempat meringis dan itu membuat Nevan panik.
Nevan membuka sabuk pengamannya dengan capat dan langsung memeriksa keadaan Gantari. "Kamu nggak apa-apa, kan?"
Beberapa warga mulai berdatangan. Namun, Nevan belum membuka pintu sampai ia mendapatkan jawaban dari Gantari.
"Nggak apa-apa."
Baru setelah itu Nevan membuka pintu mobil dan menjelaskan kalau mereka baik-baik saja. Sopir pickup datang dengan tergopoh. Pelipis bapak berkulit gelap itu tampak memar, tapi dia datang menghampiri Nevan dengan wajah begitu khawatir.
"Bapak nggak apa-apa? Maaf sekali, Pak. Maaf," katanya dengan kedua tangan yang menangkup di depan dada. "Anak saya sakit, makanya saya buru-buru mau pulang. M
Sekali lagi maaf, Pak."
Nevan mengangguk pelan. "Nggak apa-apa. Istri saya juga baik-baik saja."
Sopir tersebut mencoba mengintip Gantari yang masih duduk di dalam mobil dan wajah sopir itu kembali pucat ketika melihat bagian depan mobil Nevan. "Mobil bapak ...."
"Nggak apa-apa. Cuma lecet."
Wajah pucat itu perlahan berubah sedikit cerah. Matanya tampak berembun ketika berkata, "Boleh saya pergi sekarang? Atau ada yang harus saya selesaikan dulu?"
__ADS_1
"Pergilah. Nanti semua saya yang urus."
Tulang punggung keluarga itu langsung menjabat tangan Nevan dan mengucapkan maaf serta terima kasih secara berulang-ulang. "Semoga bapak dan istri bahagia dan sehat selalu."