Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Lima Puluh Empat


__ADS_3

Seperti yang Nevan duga, Gantari memang selalu lemah jika berhubungan dengan embel-embel keluarga. Meski hari ini ia tampak sudah biasa saja, namun nyatanya sore ini Gantari sudah berdiri di kediaman Ardiwinata.


Retic ia parkirkan di depan pagar dan dia sendiri sudah berdiri menatap rumah megah yang lima tahun dihuninya itu dengan tatapan sedih.


Pak Pradana yang sedang duduk di pos sambil minum kopi, menyadari keberadaan Gantari, lantas dengan sedikit berlari ia membuka pagar dan menghampiri mantan nonanya itu.


"Non Gantari?" sapanya ramah. "Ayo, masuk."


Gantari tersentak. Ia membalas senyum security keluarga Ardiwinata itu, lantas menggeleng.


"Nggak apa-apa, Pak. Cuma mampir sebentar tadi."


Ia berjalan kembali menuju sepeda motor, namun kemudian membalikkan tubuhnya lagi ketika teringat sesuatu.


"Jangan sampai ada yang tau aku ke sini, ya, Pak."


Pradana tampak bingung, namun kemudian ia mengangguk setuju.


Gantari memakai helm, lalu men-stater sepeda motornya. Kemudian, ia mengangguk pamit pada Pradana ketika tiba-tiba sebuah mobil MPV berhenti tepat di sampingnya.


Gantari memejamkan matanya kuat, lalu menggigit bibir bawahnya.


"Gantari?"


Shanessa keluar dari MPV silver tersebut, lantas menghampiri Gantari yang sudah duduk di atas motor. Mau tidak mau Gantari membuka kaca helmnya lagi, lalu tersenyum kikuk.


Meski aura canggung masih begitu terasa, namun keadaan Shanessa jauh lebih baik dari pertemuan sebelumnya. Ia sudah tampak kembali ceria, meski siapa yang tahu dengan hatinya.


Setelah dipaksa masuk, akhirnya Gantari menurut. Ardiman langsung menyambutnya dengan pelukan.


"Om, benar-benar berharap kamu bisa kembali lagi ke sini," ucapnya sungguh-sungguh.


Gantari diam saja. Ia hanya menikmati hangatnya pelukan adik kandung ayahnya itu.


"Kakek ada di taman belakang, sedang berkebun," lanjut Ardiman setelah melepas pelukan.


Sebuah senyum hangat langsung Gantari terima ketika Darya menyadari kedatangannya. Lelaki tua yang tumben-tumbenannya memakai kaos oblong itu tampak sedang berjongkok melihat sesuatu.


"Untung kamu datang. Lihat, jahe merah kakek sudah bertunas," adunya pada sang cucu.


Hati Gantari langsung dijalari rasa hangat. Keluarga utuh selalu menjadi hal yang ia dambakan.


Sejak kecil Awan, ayahnya, selalu mencekokinya dengan cerita kehangatan keluarga Ardiwinata, sedangkan Bulan, ibunya, selalu bercerita pada Gantari dengan mata yang nyaris selalu berembun, betapa dinginnya hidup tanpa keluarga dan betapa inginnya ia punya keluarga besar yang bisa dikunjungi di hari raya. Namun, nyatanya belasan tahun mereka hanya selalu menghabiskan hari raya bertiga.


"Kakek yang nanam sendiri di bantu Shaness," lanjut Darya, membuyarkan lamunan Gantari.


Gantari mendekat, lalu ikut berjongkok untuk melihat tunas yang dimaksud.

__ADS_1


"Ibumu sangat menyukai tanaman, pasti kamu belajar banyak darinya. Kapan-kapan bantu kakek membuat toga."


Gantari tertegun. Ini kali pertama sang kakek membicarakan ibunya dengan cara yang baik.


Ibu dengar, kan?


Gantari susah payah membendung air matanya. Ia menoleh, membalas tatap Darya, lalu mengangguk pelan.


"Ayah mandi dulu. Udah sore," seru Ardiman. Dia juga sama bahagianya melihat suasana sore ini.


Akhirnya, tinggallah Shanessa dan Gantari. Mereka memilih duduk di kursi kayu taman belakang rumah setelah Ardiman mendapat panggilan di ponselnya.


"Gimana kuliahmu?" mulai Gantari.


Shanessa yang memaku tatapannya ke ujung kaki hanya mengangguk. Ia masih tampak enggan beradu pandang dengan Gantari.


"Aku lebih menikmatinya sekarang. Nggak seberat dulu," jawabnya kemudian.


Gantari balas mengangguk. Pantas saja dulu Shanessa begitu berat menyelesaikan kuliahnya di bidang seni, rupanya karena itu bukan keinginan hatinya.


"Kalau kabarmu, gimana?" lanjut Gantari hati-hati. Sebenarnya, jawaban dari pertanyaan ini yang sedang ia butuhkan.


Shanessa terdiam sesat, tak langsung menjawab. Namun, kemudian ia menoleh pada Gantari.


"Awalnya nggak mudah. Mungkin sampai sekarang juga masih nggak mudah," jawab Shanessa akhirnya, membuat Gantari merasakan pahit di pangkal lidahnya.


Gantari tahu pasti, kehilangan satu hal yang dimaksud Shanessa adalah Nevan.


Shanessa menghela napasnya lagi, kali ini terdengar lebih lega, lalu ia mengarahkan pandangannya lurus ke depan ketika melanjutkan, "Sekarang, aku bisa kuliah sesuai jurusan yang aku inginkan, kakek juga udah mulai menganggapku ada. Duniaku udah mulai berputar lagi."


Kali ini segurat senyum mulai turut terukir di bibirnya ketika mengatakan hal tersebut, membuat Gantari sedikit merasa lega.


"Gantari."


"Hm?"


Shanessa menoleh. Untuk pertama kalinya ia menatap sang sepupu lama sejak kejadian pahit yang dialaminya beberapa saat yang lalu.


"Berhentilah mengkhawatirkanku. Aku baik-baik aja," ucapnya meyakinkan, lalu sebuah senyum kembali gerulas.


Gantari menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Ia menundukkan kepalanya, lalu mengangguk. Entah mengapa bekalangan ini dia jadi mellow sekali.


"Hei! Jangan cengeng, gitu ah."


Ucapan Shanessa tersebut justru membuat bendungan di mata Gantari bobol. Air matanya sudah tumpah dan mengalir membasahi pipi.


"Aih! Beneran nangis," ucap Shanessa tertawa geli, lalu menarik Gantari dalam pelukannya.

__ADS_1


Gantari menghapus air matanya sendiri dengan punggung tangan, lalu ikut tertawa.


Tiba-tiba saja beban yang selama ini menghimpit hatinya sedikit demi sedikit mulai terangkat dan menciptakan ruang yang lapang. Meski air matanya menetes, namun Gantari merasakan hatinya begitu lega.


Shanessa masih saja cekikikan melihat sisi lain sang sepupu yang selama ini belum pernah dilihatnya. Kemudian, sebuah senyum sumringah terukir di bibirnya ketika mengingat sesuatu.


"O, iya. Ada kabar bagus," ucapnya sembari melonggarkan pelukan.


"Apa?"


"Aku ditawarin pekerjaan."


Gantari membeliakkan matanya takjub. "Keren. Di mana?"


"Di ... Angkasa Grup."


Glek!


***


Tes! Tes! Satu, dua, tiga.


Bang Nevan, geser dulu bang. Jika mau ngomong bentar.



Biasa aja itu mata. Nggak Jika restui sama Gantari baru kapok.


Oke, serius.


Selama ini, aku memang jarang sekali menyapa para readers. Kali ini aku hadir buat menyapa kalian semua. Semoga selalu sehat dan bahagia, ya.


Nevan : Kayaknya beneran serius. Oke gue duduk.



Walaupun kita jarang berinteraksi, tapi percaya deh, aku selalu baca dan senyum-senyum sendiri setiap baca komen-komen kalian.


Belakangan, mood nulis udah kaya rollercoaster naik turun wkwkwk. Nah, dukungan-dukungan kalian itulah yang selalu jadi penyemangatku. Bagi kamu yang jarang komen, kuy sekarang rajin komen. Buat kamu yang belum like semua bab, yuk balik bentar buat ninggalin jempol disemua bab. Untuk kamu yang belum pernah vote, ayo mulai vote dari sekarang. Kalau mau share Alhamdulillah-nya double2, hahaha.


Serius, deh, aku tanpa dukungan kalian itu butiran debu. Mulai tunjukkan dukungan kalian, ya.


Love love love



Jika : Bang Nevan, biasa aja itu mulut.

__ADS_1


__ADS_2