Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Empat Puluh Dua


__ADS_3

Nevan sudah duduk di kursi teras rumah ketika Gantari pulang kerja bersama Retic. Keningnya bahkan sudah tampak sampai tujuh gelombang menunggu kepulangan Gantari.


"Bawa bakso lagi?" goda Gantari sembari memakirkan sepeda motor. Sebenarnya, dia tahu Nevan sedang merajuk.


"Syukur, deh, kamu udah nyampe rumah. Aku pulang, ya." Nevan berdiri dan akan beranjak pergi.


Ya, akan, karena tentu saja Gantari mencegahnya.


"Aku mau masak. Kamu mau masuk dulu?"


Nevan tampak berpikir, lalu menggeleng. "Lain kali, deh."


Duh! Ini mah udah ngambek tingkat tinggi.


"Gas habis," Gantari mengatup bibirnya, lalu melanjutkan, "Tolong pasangin."


Akhirnya, Nevan mau juga masuk ke dalam rumah Gantari. Ngomong-ngomong, ini kali pertama dia masuk ke rumah lagi setelah lima tahun yang lalu dan hampir tidak ada yang berubah dari rumah ini. Hingga, diam-diam Nevan kembali terjebak nostalgia.


"Sebenarnya aku nggak lapar," ujar Nevan setelah berhasil memasang gas.


"Lagian kamu juga pasti capek, jadi nggak usah masak, deh," lanjutnya kemudian.


Gantari menggeleng. "Aku nggak capek. Seharian cuma keliling-keliling kantor aja, kok. Perkenalan."


Gantari tahu, Nevan menghawatirkannya, jadi sebisa mungkin Gantari bercerita yang baik-baik saja dulu.


"Tapi aku beneran nggak lapar," balas Nevan pelan.


"Mau minum kopi aja?" tawar Gantari lagi.


Sepertinya, itu ide terbaik untuk suasana tak nyaman seperti ini, jadi Nevan mengangguk setuju.


Selagi Gantari membuat kopi, Nevan menunggunya di ruang tengah. Duduk di sofa usang berwarna hijau tosca. Dulu, di sini adalah tempat ia menghalau penat setiap pulang bekerja di proyek bangunan.

__ADS_1


Aroma khas kopi menyeruak dan menarik Nevan kembali kemasa kini. Ia menoleh dan mendapati Gantari sedang membawa dua cangkir kopi dan meletakkannya ke atas meja. Kemudian, ia memilih duduk di samping Nevan.


Nevan diam saja. Ia hanya menatap Gantari lekat.


Merasa risih, Gantari meraih cangkir dan menyeruput kopinya sedikit, lalu meletakkannya lagi ke atas meja. Namun, rupanya Nevan belum juga selesai menatapnya.


"Kenapa?" tanya Gantari kikuk.


Lagi-lagi Nevan tidak menjawab. Tatapannya hangat sekali, hingga membuat Gantari makin salah tingkah.


Akhirnya, Nevan menghela napasnya pelan, lantas merebahkan tubuh di sofa dan meletakkan kepalanya di pangkuan Gantari.


"Hari ini aku capek sekali," lirih Nevan.


"Banyak kerjaan?" tanya Gantari pelan.


Nevan mengangguk. "Capek fisik. Capek pikiran juga gara-gara mikirin kamu."


Mendengar itu membuat Gantari mengulum senyum tipis. Tanpa sadar tangannya mulai bergerak mengelus sayang rambut Nevan.


"Aku tau, tapi tetap aja khawatir," gumam Nevan.


Matanya mulai terpejam, namun dia tidak tidur.


"Angkasa itu punya dendam sama aku. Aku takut dia memanfaatkan kamu."


Mendengar pengakuan Nevan tersebut membuat Gantari teringat pada tugas pertama yang diberikan Angkasa padanya tadi.


"Kalian pernah rebutan perempuan?" tanya Gantari santai.


Namun, reaksi yang diberikan Nevan tak sesantai nada bicara Gantari. Nevan membuka matanya, lalu mendelik pada Gantari membuat perempuan cantik itu terkikik geli.


"Dia pernah dipecat dari Rawikara dan posisinya aku yang mengantikan," jelas Nevan. Matanya terasa berat, jadi dia tidak bisa mendelik lama-lama.

__ADS_1


Gantari langsung ber-oh paham, lalu Nevan kembali melanjutkan, "Kamu tau? Rawikara itu salah satu perusahaan milik keluarga Angkasa."


Kali ini Gantari tidak bisa bereaksi santai lagi. Ia membulatkan matanya tak percaya.


"Jadi dia dibuang keluarganya?"


Nevan mengangguk dengan masih memejamkan mata. "Seenggaknya, begitulah anggapan Ang."


Setelah ucapan Nevan tersebut, tidak ada lagi yang bersuara, bahkan sampai kepulan asap putih menghilang dari atas cangkir kopi. Hanya aromanya saja yang menemani Gantari menikmati suara dengkuran halus Nevan.


***


"Jadi bagaimana? Kamu sudah punya ide untuk menghancurkan Nevan?"


Mendengar itu, Gantari langsung mendelik tajam pada Angkasa, hingga membuat Angkasa refleks mengatup mulutnya. Sedangkan, di belakang ada Leo yang sedang mati-matian menahan tawa.


"Sebelum mengatur strategi, lebih baik kita perbaiki dulu citra Angkasa Grup," ujar Gantari sembari menatap layar laptopnya, "Citra Angkasa Grup sangat buruk," tekan Gantari dramatis, lalu menatap tajam Angkasa yang duduk di seberang meja, membuat wajah Angkasa langsung berubah masam.


"Mangkir pajak, kasus pemasok ilegal." Gantari semakin mengerutkan keningnya ketika membaca salah satu situs berita daring, "Dan apa ini ... Presdirnya kena banyak skandal dengan wanita?"


Angkasa gelagapan. Dia membusungkan dadanya demi menjaga wibawa.


"Aku memintamu memenangkan tender, bukan membuka aibku," sungutnya tak terima.


Dia bahkan menggulung berkas yang berada di atas meja dan melemparkannya pada Leo yang dari tadi cekikikan saja.


"Aib Bapak yang buat perusahaan ini jadi dipandang sebelah mata, Bapak Angkasa yang terhormat," geram Gantari.


Angkasa menggaruk kasar kepalanya. "Terus gimana?"


"Ya, seperti yang saya bilang, perbaiki dulu citra perusahaan ini."


"Caranya?"

__ADS_1


"Mengadakan acara amal."


Angkasa menggaruk telinganya, takut salah dengar. "Acara apa?"


__ADS_2