Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Tiga Puluh


__ADS_3

"Masa laluku sama sekali tidak ada artinya lagi sekarang."


Nevan membeku. Sejenak tatapannya tampak kosong, lantas ia membalikkan kasar tubuhnya dan melangkah cepat keluar dari sana.


Tatapannya menyalang tajam pada sebuah mobil Ferrari hitam yang terparkir di halaman. Seorang pria tua baru saja menutupkan pintu untuk Gantari, lantas beranjak mengelilingi mobil untuk bisa masuk dari pintu lainnya.


Nevan membuka pintu itu kembali dengan ekspresi mengeras, hingga kakek muda menatapnya kaget. Tangannya ia ulurkan ke dalam, kemudian dengan cepat mencengkram pergelangan tangan kiri Gantari dan menariknya agar keluar.


"Mau apa kau?" teriak Kakek muda.


Nevan tidak peduli. Ia tetap menarik Gantari yang masih mencoba melepaskan diri.


"Pak!"


Sekali lagi Nevan tak peduli. Ia terus menarik Gantari menuju mobilnya dengan langkah lebar, meski Gantari berulang kali meneriakkan namanya.


"Nevan, lepas!"


Masih sama.


"Dion!"


Cengkraman itu akhirnya terlepas dengan sekali sentakan. Napas Gantari memburu. Matanya berkilat marah.


"Kau gila?"


Nevan sontak menghentikan langkah dan membalas tatapan Gantari tajam.


"Kamu masih ingat namaku, rupanya," ucapnya dingin.


Belum sempat Gantari membalas, Nevan sudah membuka pintu mobil dan mendorong Gantari masuk. Kemudian memasang paksa safety belt pada Gantari, lantas ikut masuk dari pintu kemudi.


Kakek muda menatapnya dari jauh. Kakinya tidak bergerak selangkah pun dari mobilnya. Bukti kalau dia memang tidak berniat menghentikan Nevan yang membawa pergi cucunya, Gantari.


Nevan memacu mobilnya dengan kecepatan yang bisa membuat penumpang berteriak histeris. Rahangnya terkatup keras dengan sorot mata gelap menatap jalanan.

__ADS_1


Ia baru mulai mengurangi kecepatan ketika melihat Gantari mencengkram erat sabuk pengaman.


Tanpa sadar Gantari menghela napas lega karena laju kendaraan sudah mulai normal. Cengkramannya pada sabuk pengaman juga mulai ia kendurkan.


Tak ada yang bersuara sejak insiden tarik menarik tadi. Mobil yang dikemudikan Nevan juga hanya berkeliling tak tentu arah.


Gantari memutuskan untuk lebih dulu memulai, maka ia berdeham. "Kalau nggak ada yang mau diomongin, aku turun disini aja," ucapnya.


"Nggak usah ngancam." Nevan melirik sebentar, kemudian fokus lagi pada kemudinya.


"Bagian mana yang ngancam?" gumam Gantari, kemudian mendengus berkali-kali, lantas melemparkan pandangan keluar jendela.


Nevan melirik lagi. Dia mendengarnya, tapi memilih untuk tidak menanggapi dan mereka kembali hening.


"Kamu mau aku antar kemana?" tanya Nevan akhirnya.


Gantari menoleh tak habis pikir.


"Kau membuat kesalahpahaman semakin besar."


"Saya nggak mau diantar," jawab Gantari dingin.


Nevan menghela napasnya dalam. Seolah mencoba menambah batas kesabaran. "Aku sedang berusaha menahan diri. Jadi, tolong...," Nevan memang tidak berniat melanjutkan ucapannya, ia menoleh lagi dan kali ini tatapannya tampak putus asa.


"Pulang," jawab Gantari cepat. Tatapannya beralih ke depan. Tidak ada emosi yang tergambar diraut wajahnya.


Pulang yang dimaksud Gantari sudah dipahami Nevan betul. Jadi dia membelokkan mobilnya ke gang yang sangat familiar untuknya beberapa tahun yang lalu.


Gang yang mereka lalui semakin sempit, jadi mobil ia parkirkan disana. Dia hendak membuka pintu, namun diurungkan ketika melihat Gantari menatap lurus ke depan. Menatap gang sempit yang akan membawanya pulang ke rumahnya dulu. Satu-satunya rumah peninggalan mendiang ayahnya dan juga... Ibunya.


Nevan tahu pikiran Gantari masih melayang. Jadi ia berdeham, lantas memanggil namanya.


"Dihyan?"


Gantari tersentak. Ia menoleh pada Nevan dengan napas yang terdengar memburu. Dia kembali lagi kesini, namun sendiri. Ada air tipis yang menyelimuti bola mata hitam kopinya, namun ia buru-buru membuka pintu sebelum sisi rapuhnya menguasai.

__ADS_1


Gantari melangkah menyusuri gang, tempat lalu lalang dirinya semasa kecil. Dinding-dinding pembatas yang sudah berlumut ia sentuh dengan ujung jarinya sembari terus meneruskan langkah.


Dulu, ayahnya selalu menggandengnya melewati jalan ini agar Gantari kecil tak berlari. Dulu, ibunya bersenandung kecil sambil menggandeng tangannya yang lain. Semua terasa indah ketika kata dulu disebutkan.


Dibelakang, Nevan mengikuti. Entah Gantari sadar atau memang tak peduli, yang jelas kini mereka sudah sampai di rumah keluarga Gantari dengan lampu yang sudah menyala.


Rumahnya kecil. Hanya ada dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Teras dibuat lapang, untuk tempat bermain karet gelang Gantari bersama teman-teman. Halaman ditumbuhi rerumputan dengan jejeran rak yang mengelilingi teras disesaki oleh pot berisi berbagai macam bunga. Ibunya pecinta tanaman, pecinta bunga dan ayahnya tau jelas itu.


Semua kenangan kembali menggoda untuk diingat. Namun, Bu Fatimah, tetangga Gantari menginterupsi lamunannya.


"Ya Allah. Dihyan?" Bu Fatimah dengan sedikit tergopoh mendekati Gantari, lalu memeluknya erat. "Apa kabar, Neng?"


Gantari tersenyum ketika pelukan dilepaskan, lantas menjawab ramah, "Alhamdulillah. Senang bisa ketemu ibu lagi."


Entah apa yang diingatnya, tapi mendadak Bu Fatimah menitikkan air mata. Ia segera mengusapnya cepat tak ingin menambah kesedihan Gantari.


"Rumah udah ibu beresin tiap hari. Tanaman juga ibu siram. Sesuai dengan keinginan, Neng," jelasnya bersemangat.


Gantari mengangguk.


"Bentar ya, ibu ambilin kuncinya." Bu Fatimah sedikit berlari ke dalam rumahnya dan tak lama keluar lagi dengan kunci yang tadi ia ucapkan.


Dia langsung membuka pintu rumah Gantari dan benar .... rumahnya masih seperti dulu ketika masih ditempati. Tidak ada barang yang berpindah tempat. Mendadak air matanya menetes lagi, namun segera ia seka.


Sembari menemani Gantari melihat-lihat, Bu Fatimah kembali bersuara, "Uang yang Neng kirim nggak ibu pake semua. Sebagian ibu pake, sebagian lagi ibu simpan buat Neng," jelasnya, "Ibu udah lama nungguin Neng Dihyan pulang," lanjutnya hampir menangis lagi.


Gantari menatap Bu Fatimah haru. Tetangganya itu selalu baik padanya dan keluarganya dulu, bahkan sampai sekarang.


"Itu uangnya memang untuk Ibu," ujar Gantari seraya tersenyum hangat. "Dihyan makasih banget Bu Fatimah mau bersih-bersih rumah Dihyan padahal udah lama ditinggal," lanjutnya.


Bu Fatimah menggeleng. "Ibu Neng itu baik sama ibu. Almarhum bapak juga. Si Anwar di sekolahin, ibu dibeliin mesin jahit. Ibu nggak akan bisa bayarnya, Neng," Bu Fatimah tersedu, lantas merengkuh Gantari ke dalam pelukannya.


Pintu sudah ditutup kembali. Gantari ada di kamar orang tuanya sedang solat isya, dilanjutkan mengaji, sedangkan Bu Fatimah telah kembali ke rumahnya sendiri setelah memastikan Gantari tidak lagi memerlukan bantuannya.


Diluar masih ada Nevan. Sedang menatap rumah yang juga pernah dihuninya bersama Gantari dan sang ibu meski tak lama.

__ADS_1


Nevan hanya ingin memastikan Gantari disini dan tak akan menghilang lagi. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia juga tidak tahu perbuatannya hari ini benar atau tidak, tapi satu hal yang ia tahu, dia tidak ingin menyesal lagi.


__ADS_2