
"Dia bicara dengan ibuku?"
Farez mengangguk. Ia kembali menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena baru menceritakan semuanya pada Gantari.
"Aku mengawasinya, tapi sepertinya ibumu ... mengenalnya."
Gantari merapatkan bibirnya, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sepengetahuannya, ibunya hidup sebatang kara tanpa sanak saudara. Mereka terdiam cukup lama, hingga Gantari kembali bersuara.
"Kamu bisa menghubunginya? Aku ingin bertemu."
"Dokter!"
Farez dan Gantari menoleh bersamaan dan mendapati Utami sedang berjalan mendekat dengan mata membulat ketika meyadari keberadaan Gantari.
"Loh, ada Gantari juga?" ringis Utami canggung.
Gantari hanya tersenyum tipis, pikirannya sedang berakar tak karuan. "Kalian lanjut aja. Aku duluan, ya," pamit Gantari, lantas berdiri dan meraih kotak makan yang tadi sudah dirapikannnya.
Farez ikut berdiri dan mengangguk. Dia jadi merasa tidak enak pada Gantari karena menyembunyikan hal tersebut selama ini. Saking terjebak dengan pikiran masing-masing, mereka tidak sadar jika Utami tidak datang sendiri melainkan dengan sekotak bekal di tangannya spesial untuk Dokter Farez.
"Utami, aku duluan," ucap Gantari sambil berlalu, setelah melempar senyum pada sekretaris pacarnya tersebut.
"Eh, iya. Hati-hati, ya." Utami balas tersenyum canggung. Ekor matanya memperhatikan kotak bekal yang dibawa Gantari, lantas dengan cepat menyembunyikan kotak bekal yang tadi ia bawa ke belakang tubuhnya sendiri.
"Ada apa?"
Utami seperti hilang fokus. Ia menoleh dan menatap Farez linglung.
Kenapa Gantari begitu? Bukannya dia memiliki hubungan serius dengan Pak Nevan? Aku sudah merelakan cinta pertamaku untuknya, tapi kenapa Gantari justru begini?
"Utami?" Farez memanggil lagi, menatap Utami bingung.
"Eh, itu Dok ...." Utami berusaha memutar otak, beruntung ponselnya berdering, hingga membuatnya selamat dari menciptakan alasan dadakan.
"Sebentar," ucap Utami cepat. Kemudian, ia berjalan sedikit menjauhi Farez setelah melihat nama yang tertera di ponselnya, Pak Bos Nevan.
"Iya, Pak?"
"Hm, Utami. Segera email-kan pada saya kontrak lengkap proyek di Jogja, ya. Secepatnya," titah Nevan tanpa basa-basi. Semua berkas dipegang Fikri dan karena kekacauan di proyek lain, membuat Fikri batal ikut.
__ADS_1
Utami mengangguk, lantas segera menyanggupi. Ia berjalan cepat keluar kantin dengan ponsel yang masih menempel di telinga tanpa menoleh pada Farez. Dia sedang bergegas menuju tempat mobilnya terparkir. Menjadi sekretaris, membuat Utami terbiasa membawa laptopnya kemana-mana.
"Baik, Pak."
"Terima kasih, Utami."
"Eh, iya, Pak."
"Ada apa?"
Utami menjeda ucapannya, bahkan langkah kakinya yang tadi bergerak cepat, kini tampak melambat.
"Saya ada di Sila Hospital sekarang dan ... ada Gantari juga."
Nevan menghela napas dalam setelah sambungan telepon ia putuskan dengan terlebih dahulu bersandiwara seolah tahu segalanya tentang yang dilakukan Gantari hari ini. Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jas, kemudian berbalik dan bergabung dengan penanggung jawab proyek, mandor serta Mariah juga.
Dia harus fokus dulu. Selesaikan satu masalah agar masalah lain terselesaikan.
***
Ponsel Gantari berdenting dan dia buru-buru mengeceknya. Gantari memang sedang menunggu kabar dari Farez, kapan dia bisa bertemu dengan wanita yang dipanggil Jero itu.
Nevandra Ardiona
14.15 WIB Read
Dion?
Gantari Dihyan Irawan
Hari ini sedikit sibuk. Semuanya lancar?
14.16 WIB Read
Nevandra Ardiona
Ada kendala sedikit, tapi sudah beres. Ngapain aja hari ini?
14.17 WIB Read
__ADS_1
Baru saja Gantari akan membalas pesan dari Nevan, ponselnya bergetar dan menampilkan nama Farez.
"Farez?"
"Maaf, Dihyan." Nada suara Farez terdengar begitu serba salah. "Aku nggak bisa menghubunginya."
Gantari menghela napas kecewa. Dia benar-benar penasaran dengan sosok wanita tersebut dan lagi kenapa ibunya tidak pernah menceritakan apapun tentang wanita itu kalau memang beliau mengenalnya?
"Dihyan?"
"Oh, iya. Makasih, Farez. Kalau ada kabar, tolong kabari aku, ya."
"Tentu."
Panggilan terputus dan Gantari hanya bisa termenung. Namun, kemudian dia bangkit dan berjalan menuju kamar orang tuanya, lantas membongkar lemari, mencoba mencari petunjuk.
Di tempat lain, lagi-lagi Nevan menghela napas kecewa karena Gantari menghilang tanpa memberi kabar.
"Mas suka kopi hitam, ya?"
Lamunan Nevan terusik. Mariah, gadis berwajah mungil itu rupanya sedang tersenyum lebar menatapnya.
Mereka baru saja selesai membahas masalah proyek dan kini hanya tinggal berdua saja di Coffee Shop karena yang lain sudah pamit duluan.
Nevan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Mariah cukup lama, baru kemudian membalas dengan nada suara tidak terbaca, "Suka."
Hotel Tentrem memang difasilitasi oleh Coffee Shop Kayu manis yang menghadap kolam renang. Mungkin, itulah yang menjadi salah satu alasan Nevan menjadikan hotel bintang 5 ini sebagai langganan.
Sido muncul punch sudah tersaji di dapan Mariah, sedangkan americano menjadi pilihan Nevan.
"Kenapa?"
"Hm?" Mariah berdeham, lalu tersenyum lagi. "Penasaran aja, Mas."
Nevan membuka kancing lengan kemejanya, lantas menggulungnya hingga ke siku tak acuh. Kemudian, ia meraih cangkir americano dan menyesapnya sedikit.
"Maksud saya, kenapa memanggil saya dengan panggilan tidak formal? Kita rekan bisnis kalau kamu lupa," kata Nevan dingin, sembari meletakkan cangkir tersebut kembali ke atas meja.
***
__ADS_1