Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Tujuh Puluh Sembilan


__ADS_3

Setelah mengantar si do'i dengan selamat tanpa kurang satu apapun ke rumahnya, Nevan langsung pulang dengan membawa motor Fikri. Sudah malam, besok saja mengembalikannya, begitu pikirnya.


Nevan masuk ke rumah dengan bersiul dan bersenandung sembari memutar-mutar kunci motor pinjamannya di jari telunjuk.


"DOR!"


Astaga! Nevan terlonjak kaget. Dia mencondongkan tubuhnya ke belakang sembari memegangi dada. Dia tidak ingat mengasuh anak kecil di rumahnya saat ini.


"Bi Murni?" Nevan membulatkan matanya ngeri, terlebih ketika melihat asisten rumah tangganya itu nyengir lebar.


"Mas Nevan senang banget. Habis jalan sama mbak Gantari, ya?"


Setelah menegakkan tubuh dan menenangkan jantungnya yang sempat bergoyang, Nevan berdeham sebentar, lalu ikut nyengir. "Iya, dong, Bi. Namanya anak muda," pamer Nevan bangga.


Melihat kehadiran Bi Murni di rumahnya malam-malam begini, membuat cengiran Nevan memudar. "Tumben Bibi belum pulang? Belum dijemput?"


"Oh, iya!" Perempuan berhijab itu menepuk keningnya sendiri seolah sudah melupakan sesuatu yang penting. "Tadi nyonya ke sini. Lama nunggu Mas Nevan."


"Mama?" tebak Nevan ragu.


"Ya, iya. Kalau Mbak Gantari, kan, nona," kelakar Bi Murni.


Nevan terkekeh mendengarnya, namun rautnya sedikit terganggu dengan kabar kedatangan sang ibu. Ada satu hal yang sempat luput dari pikiran Nevan tentang hubungannya dengan Gantari, yaitu Tiwi, ibu kandungnya sendiri.


***


Awkward moment adalah ketika kamu mengutarakan cinta, namun belum juga mendapat jawaban. Meski tidak yakin akan menerima jawaban, namun di sudut hari Shanessa yang paling sudut, ia menginginkan Angkasa memberi respons.


"Setelah ini temani saya makan siang, ya."


Shanessa yang sedang berdiri di seberang meja Angkasa mendongak, lalu mengerutkan dahinya.


"Bukan kita berdua. Sama klien juga," tegas Angkasa ketika melihat raut bingung Shanessa, namun tampak enggan bertanya.


"Saya ngajak kamu karena Leo sakit. Sepertinya dia kurang vitamin," cerocos Angkasa. Dia seperti sedang bicara satu arah.


Shanessa mengangguk tanpa bicara, lalu meraih berkas yang sudah selesai di tanda tangani Angkasa, juga tanpa bicara.


"Kamu sariawan?"

__ADS_1


"Hah?"


"Kurang vitamin C dan A juga kayak Leo?"


***


Pagi ini Nevan meluncur kembali dengan sepeda motor sport Fikri menuju kantor. Lengkap dengan helm dan jaket, namun kali ini Nevan tidak mengenakkan jaket hitam seperti kemarin. Hari ini dia memilih menggunakan jeket kulit berwarna merah maroon. Kalau Gantari melihat Nevan pagi ini, pasti dia uring-uringan lagi karena ternyata warna merah jauh lebih membuat Nevan semakin menggoda.


Nanda yang baru turun dari motor ojek online langsung melongo ketika melihat Nevan memasuki perkarangan Rawikara Retail dengan sepeda motor. Mata Nanda belum juga berkedip meski Nevan telah melewatinya sembari membunyikan klakson singkat, tanda menyapa, padanya.


"Pak Nevan?" gumam Nanda ragu. Helm berwarna hijau masih betah nangkring kepala Nanda, mungkin itu yang membuat si Abang ojek belum juga beranjak.


Sembari bersenandung, Nevan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan bantuan kaca spion, mengabaikan tatapan beberapa orang di parkiran. Setelah dirasa sudah cukup rapi baru Nevan melanjutkan langkah dengan penuh wibawa.


"Beneran Pak Nevan?"


Astaga!


Nevan sontak mundur satu langkah karena terlalu terkejut dengan sapaan Nanda yang tiba-tiba. Rupanya gadis rantau itu sudah menunggunya di lobi. Nevan menatap Nanda dengan pandangan ngeri. Tiba-tiba ia teringat dengan tingkah Bi Murni tadi malam.


"Emang kamu kira siapa?" tanya Nevan datar.


"Maksud loe? Maksud loe?" Nah, si makhluk yang sedang digunjing hadir dengan wajah siap tempur dan disambut Nanda dengan pukulan tepat di lengan Fikri.


"Emang iya, kan?" Nanda melihat Nevan dari atas sampai bawah dengan tatapan memuja, lantas beralih pada Fikri dan tatapannya langsung berubah datar.


"Gue sakit hati beneran ini loh, Nan." Fikri melangkah dan kini berdiri tepat di samping Nevan. "Loe nggak liat kalau ketampanan kami beda-beda tipis?"


Sebelum Nanda mulai membalas dengan cemoohan pedasnya, Firki sudah memulai dengan pemaparan fakta versi dirinya.


"Liat! Tinggi badan kami cuma beda sejengkal, Nan," terang Fikri menggebu, lalu ia menggulung lengan bajunya hingga ke siku. "Nih! Warna kulit kami beda setingkat, doang."


Nanda mendengarkan penjelasan Fikri dengan mata yang berkedip lambat, sedangkan Nevan sudah dari tadi mendengkus mendengar perdebatan konyol dua karyawannya itu.


"Tampang?" Fikri buru-buru mendekatkan wajahnya pada wajah Nevan. "Hampir serupa! Cuma beda cetakan doang."


Hanya terdengar lengkingan tawa hambar dari Nanda sebagai respons usaha keras klarifikasi Fikri barusan. Sedangkan, Fikri yang kepalanya sudah menampakkan kepulan asap, bersiap menyumpal mulut Nanda, namun Nevan keburu menjepit leher Fikri dan menariknya menjauh.


"Nggak usah marah, nanti jadi cinta, loh," ucap Nevan santai, meski Fikri sudah teriak-teriak minta dilepaskan.

__ADS_1


Firki masih saja tersungut-sungut di ruangan Nevan mengingat kejadian barusan. Tiba-tiba dia merasa benci dengan sepeda motornya sendiri. Sepertinya ini saat-saat yang tepat untuk mengajukan penawaran pada bosnya itu.


"Masalah motor ...." Fikri memulai. Ia melirik Nevan yang sedang membuka jaket kulitnya. "Kemarin janjinya cuma minjam sehari, kan, Pak? Berarti Ferrari jadi milik saya. Begitu, kan?"


Nevan menoleh, menatap Fikri sejenak, lantas duduk di kursi kebanggaannya.


"Boleh," jawab Nevan dengan kepala terangguk. Tanggannya dengan cekatan membuka laptop dan menekan tombol power.


"Serius?" Firki membulatkan matanya sempurna dan disusul dengan tawa lega. Dia tidak menyangka bernegosiasi dengan bosnya semudah ini.


"Huum. Tinggal dipotong saja dengan gaji kamu selama lima tahun, kan?" balas Nevan enteng. Dia mendongak, menatap Fikri dengan sebelah alis terangkat. "Bagaimana?"


Wajah Fikri yang tadi sudah cerah ceria kembali kusut dan muram. Dia mendelikkan tajam matanya pada Nevan yang kini justru sedang tertawa puas.


"Jangan lupa, besok kita ada peninjauan proyek di Yogya," potong Fikri. Lebih baik dia membahas masalah pekerjaan ketimbang memberi kesempatan Nevan untuk mengejeknya terus.


"Oh, iya." Nevan baru ingat. Rautnya ikut serius. Begitulah mereka, seperti memiliki dua kepribadian, tergantung pada topik apa yang dibahas. "Dengan Pak Huda, kan?"


Fikri menggeleng. Rautnya jauh lebih serius. "Dengan putrinya, Mariah."


Nevan sudah hendak protes, namun Fikri kembali menjelaskan. "Pak Huda sakit dan sudah dikonfirmasi kebenarannya."


Terdengar desahan berat dari Nevan. "Apa nggak ada orang lain kepercayaan Pak Huda?"


Fikri menggeleng. "Mungkin, tidak."


"Dia anak satu-satunya?"


"Benar. Tunggal kayak salak."


Nevan mendelik. "Berapa hari?"


"Dua hari."


Mendengar jawaban Fikri tersebut, Nevan langsung mengerang frustasi. Kemudian, memijit pelipisnya sendiri.


***


Catatan:

__ADS_1


Tidak ada catatan.


__ADS_2