
Pagi ini kediaman Ardiwinata kembali ramai. Para pelayan catering sibuk menyajikan aneka makanan pengunggah selera di atas meja prasmanan. Minuman berbagai rasa juga sudah tersusun berbentuk piramid di sebelahnya.
Di halaman, ada beberapa meja bundar yang disusun rapi dengan fokus melingkar pada sebuah meja yang nanti akan digunakan untuk akad. Hiasan bunga warna-warni menambah kesan natural nan elegan. Di tambah bunga-bunga asli yang menebarkan aroma wangi dan mengundang kupu-kupu mampir ke sana.
Mirna dan tim wedding organizer, sibuk mondar-mandir memastikan semua sempurna sesuai rencana sebelum para tamu datang. Masih ada sekitar 45 menit lagi sebelum acara dimulai.
Hari ini akan diadakan akad pernikahan Shanessa Ardiwinata dan Nevandra Ardiona. Sang mempelai wanita tampak begitu mempesona dengan gaun putih gading yang menjuntai hingga ke ujung kaki. Di bagian dada tersusun payet yang menambah kesan mewah dan membuat wajah Shanessa tampak bercahaya, meski nyatanya sedari tadi wajahnya muram saja.
Sang mempelai pria juga begitu. Ia tampak gagah dengan stelan putih gading dengan peci warna senada. Hiasan Payet di pecinya, sukses membuat si pengguna nampak begitu berkharisma.
Dulu ada yang bilang, ketampanan Nevan berkali-kali lipat bertambah jika memakai baju berwarna putih. Kamu tidak perlu tahu siapa yang mengatakannya, yang jelas ini hari bahagia mereka. Harusnya.
Ardiman menarik dalam napasnya ketika penghulu memanggilnya dan menanyakan kesiapan. Ardiman dengan percaya diri mengangguk, meski ini kali pertama baginya.
Nevan datang dengan didampingi oleh Tiwi dan Fauzan. Beberapa tamu wanita berbisik-bisik memuji ketampanan si mempelai pria.
"Aduh! Meleleh, deh, gue."
"Yah, telat. Calon mantu idaman banget itu."
Kini giliran tamu laki-laki yang bergumam secara elegan ketika Shanessa mucul dengan kecantikannya.
"Beruntung banget suaminya."
"Ini baru cewek."
Suasana menjadi khidmat ketika Penghulu membacakan basmalah. Di hadapannya ada Nevan sedang berjabat tangan dengan Ardiman. Sedangkan, Shanessa duduk di samping Nevan. Keduanya dinaungi oleh sebuah selendang putih transparan yang memanjang di atas kepala mereka berdua.
***
Gantari sedang berdiri menatap langit. Sinar matahari pukul 09.00 adalah favoritnya. Tak banyak awan hari ini, semuanya terlihat cerah, seolah sedang mengolok-olok suasana hatinya.
Ia kemudian berjalan pelan sembari menghitung langkah dan memeluk tubuhnya sendiri. Terus berjalan tanpa tujuan.
"Mau kemana, Neng?"
Teriakan Bu Fatimah tidak digubris Gantari. Pikirannya benar-benar sedang tidak bisa diajak kompromi.
Kaus longgar yang ia kenakan bergoyang ditiup angin kendaraan yang lewat. Dia terus berjalan. Membiarkan kakinya melangkah, hingga lelah.
***
"Nevandra Ardiona," Ardiman memulai.
"Ya, saya."
__ADS_1
Di kiri dan di kanan mereka terdapat dua orang saksi yang menyaksikan prosesi itu dengan penuh perhatian. Sedangkan, Darya Ardiwinata duduk di belakang Ardiman dalam diam.
"Aku nikahkan engkau dengan putri kandungku, Shanessa Ardiwinata binti Ardiman Ardiwinata dengan mas kawin seperangkat alat salat dan cincin berlian 0,935 karat seberat 1,683 gram dibayar tunai ...."
Ucapan Ardiman tersebut langsung disambut Nevan dengan ucapan, "Saya terima nikahnya Shanessa Ardiwinata binti Ardiman Ardiwinata dengan mas kawin ..."
Ucapan Nevan terputus, bukan lantaran ia lupa, tapi karena Shanessa tiba-tiba berdiri dan membuat selendang di atas kepala mereka terjatuh ke atas rumput.
Semua mengalihkan pandang ke arah Shanessa, termasuk Nevan. Ia bahkan ikut berdiri.
"Aku melepaskanmu," ucap Shanessa bergetar.
Nevan mengerutkan keningnya, masih tak mengerti.
"Aku bilang, aku melepaskanmu!" teriak Shanessa, sebelum isak tangisnya pecah. Ia membalikkan badannya dan mengangkat sedikit gaunnya, lantas berlari memasuki rumah. Ardiman segera mengejar dan mendekapnya putrinya tersebut dengan erat. Menyediakan pundak untuk tempat Shanessa menumpahkan segala kesedihannya.
Para tamu sudah berangsur pulang setelah Darya memberi penjelasan dan permohonan maaf. Baginya, ia memang layak membungkuk hormat untuk menebus kekacauan yang mengakar ini.
Nevan berdiri masih dengan setelan lengkap, ketika Shanessa keluar dengan pakaian biasa untuk menjumpai dirinya.
Meski dengan wajah sembab, namun Shanessa terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Nevan tak berani memulai, maka dia diam saja.
"Aku nggak apa-apa," ujar Shanessa. "Mungkin sekarang apa-apa, tapi setelah itu akan baik-baik saja," ralatnya.
Nevan menatap hangat gadis di hadapannya. Keputusan hari ini, pasti sangat berat untuknya.
"Jangan menatapku begitu," lanjut Shanessa dan kemudian ia kembali terisak.
Nevan melangkah maju dan memeluk Shanessa tanpa bicara.
***
Kemeja navy yang dipadukan dengan celana chino berwarna khaki adalah kostum yang dipakai Nevan menuju rumah Gantari. Beberapa kali ia memanggil namanya, bahkan mencoba mengintip lewat jendela, namun hasilnya nihil.
"Neng Dihyan nggak di rumah, Mas," ucap Bu Fatimah, yang rupanya sudah berdiri di belakang. Nevan memutar tubuhnya.
"Kemana ya, Bu?"
Bu Fatimah menggeleng. "Tadi pagi jalan kaki keluar gang." Ada nada khawatir disana.
Nevan ikut menyusul keluar gang setelah mengucapkan terima kasih kepada tetangga Gantari tersebut. Ia memacu kembali mobilnya pelan-pelan dan melihat ke sekitar, berharap dapat segera menemukan Gantari.
Ia memandangi ponselnya di atas dashboard yang menunjukkan nama Gantari dengan icon khas panggilan, namun tidak ada jawaban.
"Kalau dia masih Dihyan yang sama, maka ...." Nevan memutar arah mobilnya dan melaju kencang membelah jalan raya, hingga melewati gang rumah Gantari. Terus dan terus melaju. Ia berbelok ketika melihat masjid pertama setelah gang tersebut. Lumayan jauh juga, kalau jalan kaki.
__ADS_1
Cepat, Nevan membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Baru saja ia membanting pintu, matanya sudah berhasil menemukan perempuan yang dicarinya sedari tadi tengah duduk diundakan tangga sambil memeluk lutut.
Matanya menatap kosong sneakers warna merah muda di depannya.
Perlahan Nevan melangkah mendekat. Sempat-sempatya ia menghela napas lega.
Senyum tipis tersimpul begitu saja di bibir Nevan ketika melihat wajah Gantari masih basah oleh air wudu.
Seorang pemuda keluar dari masjid dan mencuri pandang pada Gantari yang sontak membuat Nevan melebarkan matanya tak suka sambil komat-kamit. Si pemuda langsung ciut dan buru-buru pergi.
Sepertinya Gantari masih belum menyadari keberadaan Nevan karena ia masih termenung saja melihat sneakernya.
Hingga, tiba-tiba Gantari berdiri dan membalikkan badannya menuju tempat wudu wanita. Nevan mengekor dan memandangnya dari jauh. Rupanya Gantari kembali mengambil wudu entah yang keberapa kali.
Ia akan berjalan lagi menuju undakan tangga ketika Nevan mencegatnya.
"Salat. Jangan wudu terus."
"Udah," jawab Gantari tanpa sadar. Gantari kaget sendiri dengan jawabannya, ia menoleh dan melebarkan mata ketika melihat keberadaan Nevan di sana.
Ia tidak bisa berkata-kata.
"Hai."
Gantari mengerjap. "Kamu kabur?" tuduhnya cepat.
Kali ini Nevan yang membeliak, lalu menggeleng.
Gantari menatap Nevan dari atas sampai bawah yang tampak casual, lalu menggeleng-gelengkan kepala dan beranjak menuju undakan tangga untuk memasang sepatunya cepat.
Nevan gelagapan. Ia berjalan cepat menyusul Gantari yang sudah berjalan cepat keluar dari pelataran masjid.
"Gantari? Hei!"
Gantari tetap tidak menoleh. Ia terus berjalan cepat agar bisa segera kembali ke rumah.
"Dihyan?"
"Udah aku bilang, jangan egois!" sentak Gantari sembari membalikkan badan.
"Aku nggak kabur. Sungguh."
Gantari menggeleng lagi. Kemudian, kembali berjalan dengan cepat membuat Nevan menggeram frustasi.
"Makanya dengerin aku dulu," rengek Nevan.
__ADS_1
Gantari tak peduli. Dia terus berjalan.
"Sayang?"