Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Seratus Tiga Belas (End)


__ADS_3

Nevan menelungkup tubuhnya di atas ranjang. Akhir pekan justru menjadi hari yang melelahkan bagi Nevan. Pada hal hari masih beranjak siang.


Ia meraih ponselnya dan mengutak-atiknya sebentar, lalu meletakkannya lagi. Tak lama, ia mengambil kembali ponsel tersebut, kali ini Nevan memilih membuka aplikasi WhatsApp dan membaca pesan-pesan lama dari Gantari.


Hah! Sial. Kenapa juga Nevan melakukan hal yang membuat hatinya semakin sakit?


Cepat-cepat Nevan menutup aplikasi berwarna hijau tersebut dan memilih mencari nomor telepon Fikri di daftar kontak. Panggilan tersambung tak lama setelah Nevan menyentuh icon panggil.


"Apa lagi?"


Astaga! Galak sekali karyawan Nevan yang satu ini.


"Siap-siap. Setengah jam lagi gue kesana."


"Jangan macam-macam, ya, Van! Hari ini nggak ada meeting."


"Yang bilang ada meeting siapa?"


"Terus?"


"Hang out."


"Ogah! Gue bukan cewek loe. Jangan recokin gue!"


Sambungan terputus, membuat Nevan langsung mendecak kesal. Meski samar, tapi Nevan tadi bisa mendengar suara percakapan dalam bahasa Jepang. Pasti temannya itu sedang menonton anime.


Nevan melempar ponselnya lagi ke atas ranjang. Kemudian, menenggelamkan wajahnya ke atas selimut.


Aku merindukanmu, Dihyan.


...****************...


Angkasa sedang menikmati hari liburnya dengan menonton siaran ulang ajang moto GP di televisi. Sembari serius memperhatikan liukan demi liukan para pembalap profesional tersebut, tangan Angkasa juga tidak ada hentinya mengambil kudapan yang sengaja ia persiapkan di dalam toples. Kakinya bahkan terbentang lurus di atas meja. Sebuah kebiasaan yang sulit sekali Angkasa ubah.


Bahkan, ketika terdengar suara bel pertanda ada tamu yang datang, Angkasa sama sekali tidak memasang reaksi terganggu. Dengar saja mungkin tidak.


Bel kedua kembali terdengar dan Angkasa hanya menoleh sebentar saja, lalu kembali fokus pada keasikannya. Bel ketiga lagi-lagi terdengar dan kali ini Angkasa mengacak kesal rambutnya. Ia berdiri dan menghampiri pintu dengan emosi.


Angkasa menarik handel pintu dengan kasar dan langsung melihat sosok gadis yang tengah menatapnya dengan mata bulat.


"Ada apa lagi, Shanessa? Ini kan hari libur," keluh Angkasa berapi-api.


"Ketemu kamu."


Angkasa melotot, lalu mendecih konyol. "Kita setiap hari bertemu. Apa masih belum cukup?"

__ADS_1


"Itu kan pekerjaan, kalau sekarang kencan."


Uhuk!


Angkasa melotot lagi, namun kali ini ia tidak mendecih. Ia hanya menatap Shanessa yang berdiri di depannya dari atas sampai bawah. Sepertinya gadis itu tidak bercanda karena gayanya hari ini casual sekali.


"Saya sedang sibuk." Angkasa sudah hampir menutup pintunya lagi, namun terhenti ketika Shanessa kembali bersuara.


"Katanya kamu belum pernah pacaran, ya? Sini aku ajari."


Uhuk!


"Pelan-pelan saja, aku yakin ... aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku."


...****************...


Nevan memarkirkan mobilnya di halaman rumah, lantas keluar dari sana dengan malas. Ia menutup pintu mobil dengan wajah yang masih sama muramnya dengan siang tadi. Rupanya berkeliling mencari angin tidak selamanya berhasil mengusir sepi.


Ia berjalan menginjak rerumputan yang mengalasi sebagian pekarangan rumah dengan kepala tertunduk. Perlahan, Nevan melepas sandal yang ia pakai dan menginjak rumput yang diselimuti embun malam itu dengan kaki telanjang.


Pikirannya kali ini tidak mengawang. Tidak ada yang sedang Nevan pikirkan. Ia terlalu lelah merindukan Gantari, hingga rasanya tak ada lagi cukup tenaga Nevan untuk sekadar mengucap keluhan.


"Ini utangku kemarin."


Tubuh Nevan menegang. Perlahan ia memutar tubuh dan ada sentakan halus di hatinya ketika melihat sosok wanita di hadapannya, Gantari. Wanita itu sedang menatap Nevan dengan tangan yang mengulurkan selembar uang.


Nevan bergeming, hingga Gantari menggoyang-goyangkan uang yang ia ulurkan.


"Nggak usah dibayar," jawab Nevan datar, setelah paham yang dimaksud Gantari pasti kejadian di minimarket kemarin.


"Kamu mau aku masuk neraka gara-gara nggak bayar utang?" ujar Gantari nyolot.


Nevan mendengkus pelan, lalu membuang pandang.


"Cepat, berapa harganya?"


"Aku nggak tau, Gantari," balas Nevan jengkel.


Gantari mengangguk paham, lalu menurunkan tangannya dan mengambil ponsel di dalam tas. Kemudian, ia tampak mengutak-atiknya sebentar dan Nevan diam-diam terus saja memperhatikan Gantari. Mencoba mengurangi kerinduan di hatinya.


"YOUC1000 lemon ... Rp. 8.100." Gantari mengangkat wajahnya dan menatap Nevan lagi. Sedangkan, Nevan justru kembali mengalihkan pandangannya. "Uangku Rp. 10.000. Sini kembaliannya."


Nevan menatap malas uang yang lagi-lagi disodorkan oleh Gantari. "Aku ikhlas. Jadi, kamu nggak usah takut masuk neraka. Sudah, kan?"


Nevan memutar tubuhnya, lantas memakai kembali sendal yang tadi ia lepaskan. Ia sudah hampir berjalan, ketika tiba-tiba Gantari kembali bersuara.

__ADS_1


"Emang hubungan kita apa? Sampai kamu menanggung utangku."


Nevan membalikkan badannya lagi, menatap Gantari yang sedang tersenyum mengejek padanya.


"Suami? Bukan, kan?"


"Pulanglah. Udah malam."


"Nggak usah sok perhatian, Nevan," balas Gantari dingin. "Sejak kapan kamu jadi pengecut begini?"


Nevan menghela napasnya dalam. "Iya, aku memang pengecut. Sekarang kamu pulang."


"Tuhan nggak sepicik itu sampai harus meminta imbalan pada umatnya, Nevandra Ardiona."


Nevan terperangah. Sorot mata Gantari begitu dingin ketika menatapnya. Sorot mata yang tidak pernah Nevan terima sebelumnya. Pasti Farez yang sudah memberi tahu Gantari.


"Dulu aku masih bisa bertahan karena aku tau hati kita tidak berubah. Sekarang, kalau kamu berbalik arah, aku juga akan menyerah." Gantari memegang lehernya dan dengan sekali sentakan sebuah kalung yang melingkar di lehernya terputus.


"Jangan salahkan Tuhan, Dion. Karena aku nggak akan memaafkanmu untuk hal yang satu itu."


Nevan merasa jantungnya seperti diremas karena cincin yang ia cari selama ini menjadi bandul di kalung yang Gantari kenakan. Gantari tidak melepaskan cincin pemberiannya.


"Ayo, kita buktikan! Walau nggak bersamamu pun, aku tetap akan terluka." Gantari meraih tangan Nevan dan meletakkan kalung berserta cicin itu di atas telapak tangan Nevan. Kemudian, Gantari memutar cepat tubuhnya dan beranjak pergi dari sana sebelum tangisnya pecah.


Hanya selang sedetik saja dan tangis itu akhirnya benar-benar pecah. Mereka baru saja akan bahagia, tapi kenapa justru berakhir seperti ini?


Gantari merasa dadanya begitu sesak. Air matanya sudah tidak sanggup lagi ia bendung. Biarlah air mata itu tumpah semua agar hatinya yang luka bisa segera mereda.


Gantari terus melangkahkan kakinya dengan cepat. Mencoba pergi sejauh yang ia bisa, namun seseorang menahan tangannya dan menariknya, hingga tubuh Gantari berputar dan menubruk dada seseorang. Tidak hanya itu, bahkan orang itu mengurung Gantari dalam pelukannya.


"Nggak. Aku nggak akan membiarkanmu terluka lagi, Dihyan."


Gantari makin mengeraskan tangisnya. Ia memukul-mukulkan tangannya ke dada Nevan. "Aku benci padamu, Dion."


"Tapi ... aku tergila-gila padamu, Dihyan."


Selesai.


...****************...


Benarkah cinta tertinggal itu ada?


Cinta tertinggal itu memang ada dan diam-diam menetap di hatimu. Menempati sebuah ruang di hati dan tidak akan terganti meski ada cinta yang baru.


Mungkinkah cinta tertinggal itu terjadi?

__ADS_1


Mungkin, namun sayangnya tidak semua orang seberuntung Nevan dan Gantari yang mendapatkan kesempatan kedua untuk menjemputnya kembali.


Ya! Apapun namanya, cinta tertinggal atau cinta yang baru, tak jadi masalah. Asalkan kau mampu memperjuangkan dan jangan sampai menyesal karena melepasnya.


__ADS_2