
"Halo, Farez."
"Ini Ibu, Dihyan. Kapan kamu kesini?"
"Sebentar lagi aku kesana."
Gantari langsung bergegas menuju rumah sakit ketika sambungan telepon terputus, tumben-tumbenannya ibu menelpon, membuat dia khawatir saja.
Ia melangkahkan kakinya lebar di koridor rumah sakit agar segera sampai ke ruangan sang ibu, lantas membuka pintu dengan jantung berdegup tak karuan.
"Hai!"
Betapa leganya ia ketika melihat ibu menyapanya dengan senyum terkembang. Bahkan kali ini, sang ibu sedang berdiri di dekat jendela dengan bantuan suster Irma. Gantari jalan mendekat, lantas mendekap erat ibu dan mencium kedua pipinya.
Ibu tergelak. Kemudian membalas pelukan Gantari.
"Hari ini ibu semangat banget, loh," cerita Suster Irma.
Gantari melonggarkan pelukan, lalu tersenyum hangat. Bahagia sekali melihat ibu tampak begitu sehat.
Ibu belum bisa berdiri terlalu lama, jadi suster Irma menarik kursi roda dan mendudukkan ibu di sana.
"Maaf, ya jadi merepotkan. Kakak pasti sibuk," ucap Gantari tak enak.
Pukulan pelan langsung dilayangkan Irma ke lengan Gantari. "Kayak sama siapa aja, deh," sungutnya. Kemudian, mereka tergelak bersama.
"Aku tinggal dulu, ya. Nanti ke sini lagi," lanjut Irma sembari mengerling pada Gantari.
Sebuah pelukan didapat Irma dari Gantari, hingga membuatnya tampak sedikit terkejut, lalu dengan nada haru Gantari berkata, "Terima kasih banyak, Kak. Terima kasih untuk semua."
Sepeninggalan Irma, Gantari menarik kursi dan duduk di samping ibu, lantas menggenggam tanggannya. Ia memang terus saja berada di dekat ibu dan menatapnya sayang.
"Kalau ibu sehat begini kita bisa cepat pulang," ucapnya bahagia.
Mata yang biasanya tampak sayu, hari ini entah kenapa begitu berbinar menatap Gantari. Senyum pun tidak pernah absen dari bibir ibu.
Ibu membalas genggaman tangan Gantari. Kemudian, ia menghirup udara dalam sekali, sembari memejamkan matanya sebentar. "Ibu juga udah nggak sabar mau pulang."
Gantari tersenyum.
"Kangen sama Ayahmu."
Deg!
__ADS_1
Senyum Gantari seketika memudar.
Gantari hanya meneguk ludahnya, tak berniat memberikan respons lebih. Mungkin, lima tahun tidak sadarkan diri membuat ingatan sang ibu terhadap masa lalu agak kacau.
"Ibu hari ini tampak bahagia sekali," lanjut Gantari, lantas mencium punggung tangan ibu khidmat.
Ibu mengangguk dan lagi-lagi melempar senyum hangat. "Rasanya dada ibu lega sekali, Dihyan," ceritanya. "Nggak ada lagi yang ibu sesalkan di dunia ini."
Ibu menatap lekat Gantari lama sekali, lantas menangkupkan kedua telapak tangannya ke pipi sang putri. "Dan ibu harap, kamu juga begitu. Belajarlah melihat dari sudut pandang orang lain, nak," pesannya.
Gantari tidak mengerti. Dia bahagia sekali melihat kondisi ibunya hari ini, tapi ada hal yang tidak dimengertinya dan terasa sedikit mengusik hatinya.
***
Sudah waktuya pulang, tapi Pak Sarif belum juga datang menjemput, jadi Gantari memilih menunggunya di halaman kantor. Ia sedikit tersentak ketika seekor kucing oren lewat dan menggesekkan tubuh ke kakinya. Gantari sontak tersenyum, lantas berjongkok mengelus kepala si kucing. Dalam hati dia berjanji akan membawa lauk untuk kucing tersebut besok hari.
"Namanya Veronica."
Mendengar informasi tersebut sontak membuat Gantari menoleh cepat dan mendapati Nevan sudah berdiri di belakangnya. Ia lantas ikut berdiri, sembari matanya mengikuti pergerakan si kucing yang pindah bermanja pada Nevan.
"Dia jantan, mana mungkin namanya Veronica," protes Gantari.
Ucapan Gantari barusan membuat Nevan melotot tak percaya. Dia yang sudah mengasuh kucing itu selama dua bulan terakhir, mana mungkin dia salah mengidentifikasi. Nevan berjongkok dan memegang wajah si Oren, dilihat dari sudut pandang mana pun, Oren tampak cantik dan imut.
Gantari mengernyit. "Emang kalau galak pasti betina, gitu?"
"Iya," jawab Nevan santai, lantas kembali berdiri, "Setidaknya begitulah perempuan yang kukenal."
Gantari memutar bola matanya jengah. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, tumben-tumbenannya Pak Sarif terlambat begini.
Nevan memiringkan kepalanya menatap Gantari. "Kalau emang dia jantan, berarti tinggal ganti namanya jadi Vernandes. Kenapa kamu suka sekali, sih, memperbesar masalah?" sungutnya.
Tak mau ambil pusing, Gantari memilih mengecek ponselnya, mana tahu ada kabar dari Pak Sarif.
Merasa tak dihiraukan, Nevan beranjak menuju pos security. Baru saja datang, dia sudah disambut Pak Wahyu dengan sebungkus whiskas, lantas membawanya kembali ke dekat Gantari dan Veronica, eh salah, Vernandes.
Vernandes yang paham langsung berjalan manja menghampiri Nevan. Diam-diam Gantari memperhatikan. Nampaknya ini sudah menjadi kebiasaan Nevan sebelum pulang ke rumah.
Rupanya ada kotak pink yang tergeletak tak jauh dari mereka, lalu Nevan menuangkan makanan kucing kesana. Membuat Gantari tersenyum mengejek karena Nevan memang niat sekali memperlakukan si Oren sebagai wanita.
"Nggak usah senyum," ucap Nevan tiba-tiba, lalu berdiri lagi, "Yang beli kotaknya Pak Wahyu, bukan aku," tukasnya.
Gantari ber-oh paham saja, dari pada urusan makin panjang. Untunglah ponsel Gantari berdering, jadi dia tidak perlu beradu pandang terlalu lama dengan Nevan.
__ADS_1
"Halo?"
Gantari tampak mengangguk.
"Gapapa, Pak. Kebetulan masih ada pekerjaan juga yang mau saya selesaikan."
Mengangguk lagi.
"Iya. Bapak antar saja dulu Naya kembali ke rumah. Semoga Naya cepat sembuh," tutupnya dengan senyum tulus, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam sling bag.
Sebenarnya Nevan penasaran, tapi gengsi harus dijunjung tinggi. Dia diam menunggu penjelasan, namun berakhir sia-sia karena Gantari justru memilih duduk di kursi besi dekat pos security.
Nevan mengekor, namun bukan untuk duduk, melainkan mengembalikan whiskas pada Pak Wahyu.
Tampak berpikir panjang, akhirnya Nevan memilih menuju tempat ia memarkirkan mobilnya. Membuka pintu mobil, lalu melirik Gantari lagi dan berakhir dengan menghempaskan pintu tersebut.
"Ayo ikut. Aku antar pulang," ujarnya tiba-tiba, membuat Gantari sedikit terlonjak kaget.
"Duluan saja, Pak. Saya sedang menunggu Pak Sarif," balas Gantari.
Nevan tetap berdiri, membuat Gantari jengah juga. "Duluan aja. Gapapa."
Maunya begitu, tapi melihat hari hampir senja dan para karyawan sudah mulai berangsur pulang semua membuat Nevan khawatir juga.
Memang ada Pak Wahyu dan Pak Febri, tapi mereka berdua kan laki-laki. Mana mungkin Nevan membiarkan Gantari di kelilingi dua laki-laki.
Selamat Nevan, karena berkat kamu sekarang Gantari di kelilingi tiga laki-laki.
Jadi, dia memutuskan ikut duduk di samping Gantari, lalu mengeluarkan ponselnya dengan cuek, membuat Gantari bergeser menjauh.
Gantari mau melayangkan protes, namun pikir-pikir lagi karena ada Pak Wahyu dan Pak Febri di dalam pos. Bagaimana pun juga dia karyawan Nevan yang harus menjaga etika.
Tak ada yang bicara dalam waktu cukup lama, mereka seolah dikepung oleh keheningan dan rasa canggung.
"Matahari mungkin terbenam, tapi besok ia akan terbit kembali," ucap Nevan tiba-tiba.
Gantari sontak menoleh, tapi Nevan rupanya sudah berdiri dan berjalan menuju mobilnya.
"Mbak?"
Gantari tersentak. Ia menoleh dan mendapati Pak Sarif sebagi pelakunya.
Kenapa dia mendadak linglung begini?
__ADS_1
"Mau pulang sekarang?" tanya Pak Sarif ramah.