Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Enam Puluh Lima


__ADS_3

Dua hari mengenal Angkasa, Shanessa baru menyadari jika bos galaknya itu cerdas juga. Semua yang diucapkan pada rekan bisnisnya tidak pernah tidak membuat gadis itu berdecak kagum.


Dari membicarakan hal-hal yang serius seperti visi, misi, kekuatan, bahkan kelemahan perusahaan, serta perencanaan kontribusi modal usaha, dibahas Angkasa dengan begitu apik.


Hingga, hal-hal ringan yang sengaja ia bahas untuk mencairkan suasana juga dia kuasai dengan baik dan tak jarang mendapat pujian dari lawan bicaranya.


"Semua hal yang ada di dunia ini butuh diperjuangkan, kan?"


Shanessa mengangguk setuju untuk kesekian kalinya. Kalau terlihat, mungkin matanya sudah ada emoticon love love.


"Masa anak gadis orang aja yang diperjuangin, masa depan kita harus diperjuangin juga dong," kelakar Angkasa.


Uwu. Laki-laki idaman.


Hampir saja Shanessa bersorak gembira, namun akhirnya ia memilih mengangga takjub saja.


"Kenapa?"


"Hah?"


Shanessa yang dari tadi senyum-senyum sendiri, gelagapan melihat Rudi, rekan bisnis yang sedang berbincang pada Angkasa, menatapnya geli. Sontak saja Angkasa ikut menatap Shanessa penuh curiga. Kemudian, ia melirik notebook di tangan Shanessa yang rupanya masih kosong dan berakhir dengan mendengkus jengkel khas Angkasa.


"Kamu ngapain aja dari tadi? Melamun?" sembur Angkasa setelah Rudi pamit.


Ngomong-ngomong, meski sekilas tapi Angkasa merasa ada rasa ketertarikan Rudi terhadap Shanessa. Karena meski sedang berbicara dengannya, namun sesekali ia menangkap basah Rudi sedang melirik sekretaris sementaranya itu.


Wajar, sih, karena Shanessa memang memiliki paras yang tidak kalah cantik dari sang sepupu, Gantari.


Ah, Gantari lagi.


Angkasa memijit pelipisnya, seolah menegaskan jika dia mulai tidak tahan dengan segala kelambanan Shanessa. Berbeda dengan ... sudah cukup!


"Terus gunanya kamu apa? Duduk, tebar pesona sama Rudi, gitu?"


Astaga, itu mulut cabenya berapa biji, ya?


"Maksud Bapak?"


"Nggak ada. Saya nggak ada maksud dan tujuan apapun sama orang seperti kamu. Lamban!"


Shanessa merasakan hati dan pikirannya panas dan berimbas pula pada matanya yang ikut terasa pedih. Bola matanya sedikit berembun ketika menatap Angkasa tanpa rasa takut untuk pertama kalinya.


"Pertemuan selanjutnya dilaksanakan pada Hari Rabu, pukul 13.00 di gedung Resta Jaya lantai tiga. Agenda rapat adalah membicarakan masalah kemitraan antara Angkasa Grup dan Resta Jaya, kontribusi masing-masing pihak, alokasi keuntungan dan kerugian, definisi otoritas dan pengambilan keputusan tiap pihak, petunjuk pengelolaan serta prosedur penerimaan mitra baru."


Shanessa sampai tersengal ketika merekap laporan hasil pertemuan hari ini secara lisan dan dia sama sekali tidak peduli.

__ADS_1


Sampai ngos-ngosan pun dia jabanin.


"Oh, iya. Rapat selanjutnya akan dihadiri oleh 13 orang. Ada lagi, Pak, yang membuat saya terlihat lamban?" sengit Shanessa lengkap dengan tatapan tajamnya.


Angkasa tertegun. Ternyata Shanessa mengingat semuanya dan lihat dirinya sekarang, mati kutu.


"Masalah notebook saya yang kosong, saya tidak terbiasa menulis di atas kertas dengan cepat. Saya terbiasa dengan laptop atau gadget lainnya," cecar Shanessa sembari menatap buku catatan kecil berwarna hijau pemberian Leo dua hari yang lalu dan menghentakkannya ke atas meja, hingga Angkasa melotot kaget.


Shanessa membuang napasnya kasar, lalu meraih hand bag yang tadi ia letakkan di atas kursi dengan cepat. Kemudian, ia berdiri menatap Angkasa dengan sengit.


"Tolong fasilitasi karyawan anda dengan fasilitas yang layak agar kualitasnya bisa anda desak."


Skakmat!


Shanessa tidak peduli, jika hari ini menjadi hari terakhirnya bekerja di Angkasa Grup. Dia tidak peduli, jika dia dipecat dan tidak digaji sekali pun. Harga dirinya terluka dan dia paling tidak suka itu.


***


Mentang-mentang Gantari pengangguran, Nevan jadi semakin rajin saja bertandang. Ada saja alasannya menemui Gantari, bertemu Anwar lah, numpang makanlah, pinjam charger hp lah, dan lah lah tak masuk akal lainnya.


Nah, kalau malam ini motivasinya adalah mengantar makanan. Pada hal sore tadi Nevan sudah mampir ketika pulang kerja.


"Bi Murni masak banyak. Kayaknya emang lagi hobi masak, sih, makanya semua dimasak," cerocos Nevan tanpa ditanya.


"Kalau dilarang, kasihan. Ya udah, biarin aja Bi Murni senang." Nevan masih lanjut beralibi.


Sedangkan, Gantari manggut-manggut saja. Anggap saja dia percaya, walaupun sebenarnya tidak.


"Kamu nganggap aku bohong, kan?" tuduh Nevan, membuat Gantari sontak mengangkat sebelah alisnya.


"Itu alis kenapa diangkat sebelah. Kayak orang nggak percaya di novel-novel."


Gantari tergelak.


"Iseng banget, ya, Bi Murni masak malam-malam gini," ujar Gantari, lantas mengedikkan dagunya ke arah kotak makan tiga tingkat.


"Ka-kan, udah aku bilang. Bi Murni lagi seneng masak."


"Oh."


"Beneran, Dihyan."


"Pada hal kamu boleh ke sini, kok, tanpa alasan."


"Serius?"

__ADS_1


"Nah, kan! Bohong!"


***


"Bapak bikin Shanessa nangis?" tanya Leo tak percaya. Matanya sampai membesar saking kagetnya.


"Ya, nggak tau juga sih itu masuk kategori nangis atau enggak, tapi matanya berair," jawab Angkasa polos.


Leo yang baru saja berbaring di depan televisi, dikejutkan oleh kedatangan Angkasa di rumahnya, kini tampak makin hilang kesabaran.


"Ya, itu nangislah, Pak, namanya. Apa lagi?" sembur Leo, lantas mengacak kasar rambutnya sendiri, frustrasi. Baru ditinggal sehari saja sudah membuat nangis anak gadis orang.


"Belum tentu. Bisa aja dia ngantuk. Menguap bisa buat mata berair juga."


"Mata dicolok juga bisa buat mata berair, Pak!" tambah Leo jengkel.


"Kamu marah? Kamu marah sama saya?" Angkasa berjalan mendekati Leo, lalu mencoba menendang kaki pemuda sipit itu berkali-kali, namun Leo terus menghindar.


"Bapak harus minta maaf."


Ucapan Leo tersebut sukses membuat Angkasa menghentikan tingkah konyolnya tersebut dan menatap Leo dengan penuh perhatian lagi.


"Harus?"


"Ha ... rus!"


***


Jika : Huweee! Jika begadang demi ngelanjutin kisah Abang, nih. Kalau Jika mata panda gimana, coba?


Bang Nevan : Abang siapa, ya? Emang kita kenal?


Jika : Astagfirullah. Bang Nevan marah sama Jika gara-gara kemarin?


Bang Nevan : Emang kamu siapa?


Jika : Ini Jika, Bang. Adek kesayangan, Abang.


Bang Nevan : Ooo... Jika cinta dia jujurlah padaku atau Jika teringat tentang dikau?


Jika : 😒😒😒


Bang Nevan : Biasa aja matanya. Gue embus merem lo.


Jika : 🤧🤧 Maapin Jika yang kayak kacang, Bang.

__ADS_1


__ADS_2