
"Kamu mau pulang? Aku antar." Nevan hendak beranjak dari ranjang, namun Gantari buru-buru menahannya. Tanpa bertanya pun, Gantari tahu jika laki-laki di hadapannya itu pasti tidak tidur semalaman dan sekarang justru mau sok-sokan mengantarnya pulang.
Gantari yakin, Nevan tidak akan menerima penolakan. Laki-laki masa lalunya itu memang keras kepala.
"Nggak. Aku mau bantu Bi Murni di dapur buat sarapan," kilah Gantari, lantas duduk lagi di pinggir ranjang.
Nevan tersenyum tipis, lalu merebahkan kembali kepalanya ke atas bantal. Sejujurnya, matanya memang sudah berat. Perlahan, ia meraih tangan Gantari dan menggenggamnya.
"Nanti aja. Temani aku sampai tidur dulu," pintanya manja.
Gantari pasrah, lalu mengangguk setuju. Sebelah tangan lainnya ia gunakan untuk mengusap lembut kepala Nevan dan pemuda itu mulai memejamkan matanya lagi. Senyum tipis tercetak di bibir Gantari ketika memperhatikan setiap inci wajah Nevan yang selalu memenangkan hatinya dengan penuh kasih sayang.
Suasana hening seketika.
Baru saja Gantari mengira Nevan sudah terlelap, namun pemuda itu justru membuka matanya kembali, bahkan lebih lebar dari sebelumnya.
"Dihyan, kamu capek nggak? Kalau capek sini ikut baring."
Setelah mengucapkan kalimat konyol itu, Nevan langsung mengaduh kesakitan karena Gantari mencubit pinggangnya gemas.
"Tidur nggak? Kalau nggak aku pulang."
Nevan mengerucutkan bibirnya, lalu meraih tangan Gantari lagi. Menggenggamnya erat.
"Jangan," rengek Nevan nayaris bergumam, lalu memejamkan matanya lagi.
Gantari diam-diam tersenyum geli. Lima tahun tidak bertemu, hampir tidak ada yang berubah dari mantan suaminya itu.
"Dihyan?"
"Hm?"
"Nanti kita minum kopi hitam, ya."
Gantari yang kembali mengusap lembut rambut Nevan, tampak menghentikan gerak tangannya sejenak. Namun, melanjutkannya lagi ketika menjawab, "Iya."
"Secangkir aja berdua."
__ADS_1
Kali ini gerak tangan Gantari benar-benar berhenti. Dia memilih menatap dalam wajah Nevan yang masih setia memejamkan mata.
"Kayak dulu," lanjut Nevan dengan masih terpejam.
Gantari merasakan seketika matanya berembun. Tenggorokannya bahkan tercekat, jadi dia berdeham pelan sebelum lagi-lagi menjawab, "Iya."
Untunglah Nevan tidak lagi bicara karena kalau tidak, mungkin Gantari sudah banjir air mata. Ia memastikan Nevan sudah benar-benar tertidur, lantas mengambil ponsel di dalam tas. Kemudian, ia menekan tombol power untuk menghidupkannya sekadar memeriksa pemberitahuan. Semalaman ia membiarkan ponselnya dalam keadaan mati.
"Jangan menghilang lagi, Dihyan."
Gantari yang sedang menunduk untuk memeriksa pemberitahuan di ponselnya, langsung menoleh dan mendapati Nevan masih memejamkan mata. Tidak lama setelah menggumamkan kalimat itu, suara dengkuran halus terdengar, pertanda Nevan benar-benar sudah terlelap.
Seketika, Gantari merasakan ada hentakkan keras di dadanya. Rasa bersalah dan sedih, menyelimuti hatinya, hingga membuat matanya berkaca-kaca. Perlahan, Gantari menundukkan kepala dan mengarahkan wajahnya ke arah Nevan, lantas mengecup pipi pemuda itu sayang.
"Nggak akan," bisiknya.
***
Angkasa sedang menyeruput kopi sembari mengutak-atik ponselnya dengan sebelah tangan. Apa lagi yang dia cari selain berita skandal seorang Nevandra Ardiona.
Dia melempar ponselnya ke atas sofa, lantas mendengkus keras.
"Dia emang nggak pantas buat Gantari," rutuk Angkasa lagi. Ia menarik jaket kulitnya yang tersampir di sandaran sofa, lantas berdiri cepat.
"Gue yang bakal ngobatin luka hati Gantari. Liat aja," cerocosnya lagi. Kemudian, beranjak dari sana setelah selesai memakai jaket kulitnya.
Angkasa meraih kunci mobil dan melangkah menuju pintu depan. Ia baru saja menarik pintu dengan menggebu, hingga terbuka dan langsung terperanjat kaget karena rupanya ada Shanessa di sana. Di balik pintu.
"Ngapain lagi?" semburnya sambil memegang dada. Dia masih terkejut dengan keberadaan tiba-tiba gadis itu.
"Jangan bilang, ada pertemuan lagi?"
Shanessa tersenyum, lalu mengangguk mantap mengiyakan.
"Astaga!" Angkasa menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.
Meski demikian, Angkasa ini seorang pemimpin yang profesional. Kalau sudah bawa-bawa pekerjaan dia akan sangat patuh sekali.
__ADS_1
Seperti sekarang, dia sedang duduk di belakang kemudi meski tersungut-sungut. Sedangkan, Shanessa duduk di sampingnya.
Sebenarnya Shanessa tahu. Dia tahu, jika pagi ini Angkasa pasti akan mencoba menemui Gantari lagi. Katakanlah, Shanessa tidak punya harga diri. Dia juga tidak peduli karena kali ini dia ingin memperjuangkan cintanya.
"Kenapa Bapak nggak nyari sopir aja?" tanya Shanessa, mencoba mencari topik lain agar kadar emosi Angkasa sedikit berkurang.
Sembari memainkan perseneling dengan lincah, Angkasa melirik singkat pada Shanessa tanpa mau repot-repot tersenyum.
"Saya nggak percaya sama sopir," tukas Angkasa.
Shanessa mengangguk, meski dia ingin sekali bertanya "kenapa?", tapi tidak. Ada pertanyaan lain yang lebih membuatnya penasaran.
"Kalau sama yang lain?"
"Nggak percaya juga. Nggak ada orang yang saya percaya di dunia ini."
***
Bang Nevan : Dudududu~
Jika : 😒
Bang Nevan : Kenapa tu mata?
Jika : Lap tu bibir!
Bang Nevan : Lah, kenapa?
Jika : Lap pokoknya!
Bang Nevan : Pipi nggak sekalian? Kan kena kecup Gantari juga tadi.
Jika : Huweeeee. Aku mau nyari Abang lain aja yang lebih suci 🤧
Bang Nevan : Buahahahhaa. Sering-sering bikin adegan begitu, ya, Jika.
Jika : DIEM!
__ADS_1