Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Delapan Puluh Enam


__ADS_3

Derap langkah sudah tidak bisa lagi Nevan atur dengan benar. Pikirannya kacau. Tidak ada yang bisa ia pikirkan saat ini selain keluarga Ardiwinata. Keluarga yang menjadi penyebab kepergian Gantari dulu.


Dulu.


Betapa besar pengaruh kata dulu bagi Nevan. Dulu dia kehilangan Gantari tanpa sempat saling memberi penjelasan. Dulu tidak pernah ada kesempatan untuk saling memperjuangkan. Dulu kehancuran datang dengan begitu tiba-tiba diusianya yang masih sangat muda. Dan dulu, adalah hal yang tidak ingin Nevan ulangi lagi.


"Kamu kesini juga akhirnya?"


Belum sempat Nevan menekan bel, suara Shanessa sudah menginterupsi. Gadis itu sepertinya baru saja pulang.


"Dihyan ...."


"Aku sudah merelakan kalian dan kamu justru buat masalah," potong Shanessa sinis. Sebelumnya Shanessa tidak pernah memakai intonasi suara begini pada Nevan. Mungkin, sekarang dia sudah bisa sedikit leluasa mengeluarkan emosinya.


"Awalnya aku kira itu cuma gosip murahan, tapi ini sudah dua kali, Nevan," cecar Shanessa. Ia berjalan mendekati Nevan, memangkas jarak di antara mereka.


"Kakek mana?" tanya Nevan tidak memedulikan ucapan Shanessa. Ia menatap mantan tunangannya itu serius.


"Kakek pergi ke Kalimantan dengan Papa," jawab Shanessa curiga. "Memang kenapa?"


Nevan memejamkan matanya, menahan geram yang sedari tadi ingin ia keluarkan.


Sekarang bagaimana? Kemana lagi dia harus mencari Gantari?


"Sebenarnya ada apa?" desak Shanessa mulai khawatir.


Nevan tidak menjawab. Ia justru mencoba melangkah pergi, melewati Shanessa.


"Apa hubunganmu dengan perempuan itu?" Shanessa bergerak cepat, menghalangi tubuh Nevan, hingga langkah pemuda itu terhenti. "Gosip itu nggak benar, kan?"


"Akan aku jawab nanti, setelah aku menemukan Dihyan," balas Nevan datar.


"Gantari ... kemana?"


Nevan menatap Shanessa sejenak, mencoba membaca arti tatapan itu dan ada desah kecewa yang ia embuskan ketika menyadari jika Shanessa memang tidak tahu apa-apa.


"Menghilang," jawab Nevan mengawang.


***


Mariah mencengkram ujung dressnya dengan kepala tertunduk. Tangan kanannya menggenggam ponsel yang menempel di telinganya dan samar-samar terdengar suara seseorang dengan intonasi tinggi dari seberang telepon.


"Memanfaatkan situasi begini saja kamu nggak bisa? Memang nggak ada yang bisa aku harapkan dari anak perempuan sepertimu!"


Sebulir air mata Mariah menetes tanpa suara. Ia masih setia mendengarkan meski hatinya tercabik.


"Perusahaan kita di ambang kehancuran kau tau? Lupakan egomu dulu!"


"Pa?"

__ADS_1


"Aku nggak peduli ...." teriakan itu terhenti dan berganti dengan suara batuk parah. "Kau harus menyelamatkan perusahaan kita."


Tut!


***


Nevan mencoba menghubungi Gantari lagi dan hasilnya tetap nihil. Kali ini dia memilih menghubungi Edo, seorang teman yang membuka jasa detektif di Jakarta yang cukup terkenal, Eagle Detektif.


"Hai, Nevan. Nggak salah, nih?" sapa Edo dari seberang, mencoba menggoda. "Biasanya urusan begini jadi urusan Fikri."


Ya, Nevan, Fikri, dan Edo memang teman semasa sekolah dulu. Mereka tidak hanya berteman baik, tapi juga berteman dalam hal kegaduhan.


"Gue butuh bantuan," balas Nevan tanpa basa-basi.


"Oh, oke." Kalau sudah menggunakan nada begini, baik Fikri maupun Edo sudah paham jika sang Tuan Muda tidak boleh diajak bercanda.


Andai tidak lahir dari keluarga berada, Edo yakin Nevan bisa jadi mafia. Ah, bukan! Bukan itu. Andai tidak bertemu Gantari sepertinya menjadi alasan yang lebih tepat.


Edo tahu betul arti Gantari bagi Nevan. Dia menjadi salah satu saksi betapa pesona Gantari bisa mengubah haluan hidup seorang Nevandra Ardiona.


"Aku ke TKP sekarang."


"Sebentar. Dihyan nelpon," balas Nevan tergesa. Dia akan memutuskan sambungan teleponnya dengan Edo ketika Edo menginterupsi.


"Kalau loe nggak keberatan, boleh conference call?"


Nevan tampak menimbang, namun kemudian ia menyetujuinya.


"Dion, ada hal yang harus aku selesaikan. Kamu nggak usah khawatir. Aku baik-baik aja."


"Kamu dimana?"


"Nanti aku ceritakan. Aku tutup dulu, ya."


Tut!


Nevan sama sekali tidak lega ketika mendapat kabar singkat dari Gantari. Justru sejuta teka-teki muncul di benaknya dan hatinya makin kalang kabut saja.


"Gimana, Do?"


Sejenak Edo terdiam. "Kita lanjutin."


***


Pagi-pagi Edo sudah keluyuran di sekitaran rumah Gantari. Ditemani Nevan yang tampak begitu kusut memperhatikan pergerakan Edo sejak tadi.


"Terakhir kali dia ketemu siapa?" Edo menoleh setelah mencatat beberapa info di buku kecil miliknya.


"Farez."

__ADS_1


"Farez?"


Nevan mengangguk, lantas memilih duduk di kursi teras. Mengembuskan napas berat lantaran kepalanya sedikit terasa nyeri.


"Dokter almarhumah ibu Dihyan."


Edo sempat terdiam, lalu kembali mencatat sesuatu. "Aku pergi dulu."


"Mau kemana?"


"Ketemu dokter."


***


Oke, Edo kembali beraksi. Kali ini dia berjalan-jalan di Sila Hospital. Sebenarnya, sudah cukup lama dia tidak menangani kasus sendiri karena untuk apa ada karyawan kalau akhirnya dia juga yang turun tangan. Tetapi, berhubung kliennya kali ini Nevan, akhirnya Edo memilih mengambil alih.


"Gue temenin," tawar sang karyawan beberapa saat yang lalu.


"Nggak usah. Ini baru ngumpulin data. Ntar gue intruksiin aja via telepon. Yang sigap, loe!"


"Siap! Bos."


Berbeda dengan kebanyakan detektif lain, Edo ini suka sekali memakai style culun. Rambut belah tengah, dengan kemeja rapi yang dimasukkan ke dalam celana bahan, namun pesonanya ....


"Dokter Farez ada praktik jam berapa, ya, Sus?"


Mirna yang sedang menyerahkan data pasien, memaku pandang cukup lama. Semalaman kerja membuat matanya berat padahal jam kerja belum juga berakhir. Untung ada bahan buat cuci mata.


"Sus?" Edo mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum jahil.


"Oh, dokter Farez. Eum ...." Mirna celingak-celinguk. Tiba-tiba dia lupa siapa, sih, dokter Farez? "Oh, Dokter Farez!" pekik Mirna mengejutkan.


Edo melongo, lalu tertawa geli.


"Nanti jam 11," balas Mirna malu. Dalam hati Mirna beristighfar agar ia selalu diingatkan pada anak dan suami tercinta.


***


Nevan akhirnya tertidur juga. Dia berhasil masuk ke dalam rumah Gantari karena Bu Fatimah memang memegang kunci cadangan. Semalaman dia tidak bisa memejamkan mata. Itu memang penyakit lamanya jika sedang banyak pikiran.


Tubuhnya bergelung di atas ranjang Gantari. Kaus hitam yang dikenakannya sejak pulang dari Jogja tampak mulai kusut. Sekusut pikirannya saat ini. Nevan bangkit dengan memijit pelipis karena pening di kepalanya kambuh lagi. Tidur 30 menit cukup mampu membuat kepalanya makin sakit.


Ponsel Nevan berdering dan menampilkan nama Fikri. Ia meraih ponselnya dan mendesah panjang sebelum menggeser icon berwarna hijau.


"Van, loe udah lihat berita?" sambut Fikri tanpa basa-basi.


Nevan memejamkan matanya sejenak, lalu mengusap kasar wajahnya. Bersiap menerima kabar terburuk hari ini.


"Ada apa?" tanya Nevan dengan suara parau.

__ADS_1


"Mariah gila! Dia bilang, dia hamil!"


__ADS_2