Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
S2: Kalimat Ajaib


__ADS_3

"Loh, kamu pulang lagi?"


Nevan tersentak karena rupanya ia sedang melamun. Kemudian, ia menatap lekat Gantari yang baru saja membukakan pintu untuknya, lantas menarik cepat wanita itu dalam pelukan.


"Maaf, Dihyan. Maaf."


Gantari yang tidak mengerti, mulai mengerjapkan matanya bingung. Tadi sebelum berangkat kerja Nevan baik-baik saja. Ada apa sekarang?


Gantari mengendurkan pelukan, lantas menatap Nevan bingung. "Ada apa?"


Nevan hanya membalas tatapan Gantari sebentar, lantas kembali merengkuh sang istri dalam pelukan untuk kedua kalinya. Kali ini lebih erat.


"Aku udah dengar semuanya. Termasuk soal ... William."


...****************...


Rasanya sudah cukup lama Gantari tidak tidur senyenyak ini. Ia merenggangkan tubuhnya, lantas memeluk guling lagi dengan senyum yang tersimpul manis. Namun, tiba-tiba ia langsung duduk dan mencari keberadaan Nevan. Seingatnya, tadi mereka tidur siang bersama.


Gantari melompat turun dari ranjang dan melangkah cepat keluar kamar. Meski Willona sudah menjelaskan semuanya, tapi kejadian itu masih saja menyisakan trauma untuknya.


"Dion!"


Nevan menolehkan kepalanya pada Gantari, meski tangannya masih dengan cekatan mengiris bawang bombai. "Hai! Kamu udah bangun?"


"Hati-hati tangan kamu!" Gantari melangkah mendekat, lantas berdiri di samping Nevan. Ia menatap ngeri sang suami yang mencincang bawang bombai dengan mata jelalatan kemana-kemana.


"Kenapa? Kan seru kalau ada adegan ****-emutan jari. Aw!"


Tenang, teriakan itu bukan akibat jari Nevan teriris pisau, tapi teriakan karena cubitan manis oleh sang istri. Gantari si tukang cubit kembali.


"Tumben masak?"

__ADS_1


"Sepesial buat kamu," balas Nevan sembari mengerling, lantas mendaratkan kecupan singkat di dahi Gantari. Hingga, membuat Gantari melotot, lalu senyum yang mati-matian ia tahan akhirnya terulas juga.


Sekarang Nevan sudah beralih pada penggorengan. Ia memasukkan sedikit minyak goreng, lalu mulai menumis bawang bombai yang tadi diirisnya.


Melihat Gantari yang begitu khusyuk memperhatikan ia memasak, Nevan kembali bersuara.


"Kamu udah minum obat?"


"Udah."


"Bagus, deh. Aku nggak mau lama-lama puasa. Aw!"


Nevan melebarkan matanya ngeri, lantas tawanya seketika ikut meledak ketika melihat Gantari tertawa begitu renyah.


...****************...


Setelah selesai makan malam, lagi-lagi mereka mencuci piring bersama karena Bi Murni sudah Nevan ungsikan siang tadi. Hari ini hanya akan menjadi milik mereka berdua saja. Titik.


"Hm?"


Nevan menghentikan sapuan spon-nya pada piring keramik hitam motif panda untuk sekadar menatap Gantari sejenak. Kemudian, ia kembali melanjutkan setelah Gantari ikut menoleh padanya dengan sebelah alis terangkat.


"Kamu tau nggak di dunia ini ada empat kata ajaib?"


"Bukannya ada tiga, ya?" Gantari mematikan kran air karena Nevan belum menyerahkan piring untuk dibilas lagi. "Tolong, maaf, dan terima kasih, kan?"


Nevan menggeleng. "Ada empat."


"Satu lagi apa?"


"Tolong, maaf, terima kasih, dan ... Dihyan."

__ADS_1


Uhuk!


Gantari melongo, lantas mendengkus pelan. Kali ini dia tidak mau mencubit pinggang Nevan karena sang suami sedang memegang piring keramik kesayangannya. Kalau sampai jatuh dan pecah yang rugi Gantari juga.


"Kalau satu kalimat ajaib, kamu tau?"


"Kalimat ajaib?"


Gantari menghidupkan kran air lagi karena syukurlah Nevan sudah menyerahkan piring kesayangannya yang sudah selesai ia gosok dengan spons. Suara gemericik air tidak membuat Nevan berhenti bicara.


"Iya, satu kalimat ajaib."


"Nggak tau. Emang apa?"


Rupanya piring tadi merupakan perabot terakhir yang perlu dibersihkan. Jadi, Nevan menggeser tubuhnya mendekati kran dan mengulurkan tangannya ke bawah kucuran air. Kemudian, mencuci tangannya sampai bersih dari sabun.


"Kalimat ajaibnya apa?" desak Gantari. Sedangkan, Nevan justru tampak sedang asyik-asyiknya mencuci tangan.


Nevan menoleh dan rupanya jarak mereka begitu dekat, hingga membuat Gantari mau tidak mau menahan napas.


"Aku sayang kamu."


Perlahan, Nevan memajukan wajah dan dengan lembut menempelkan bibirnya dengan bibir Gantari. Kemudian, menyesapnya pelan. Selain kopi, bibir Gantari mampu membuat seorang Nevandra Ardiona lupa diri.


Gantari mulai memejamkan mata. Ia membiarkan Nevan mengambil alih kuasa dirinya, hingga ...


Prang!


Piring keramik kesayangan akhirnya terlepas dari tangan Gantari, hingga membuat pagutan mesra itu terlepas. Gantari melotot kaget, menatap piring kesayangan sudah terbelah dua di lantai.


"DIOOOONNNN!"

__ADS_1


__ADS_2