Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Lima Puluh Satu


__ADS_3

"Dion?"


"Hm?"


"Apa yang buat kamu suka sama aku untuk pertama kali?"


Nevan tersenyum, lantas mengusap lembut rambut Gantari yang kini kembali berbaring di pangkuannya. Pikirannya sesaat mengawang pada masa remaja mereka.


"Karena kamu bisa naik sepeda," balas Nevan ringan.


Gantari mengernyit, belum sempat ia merespons, Nevan kembali melanjutkan. "Sore itu kamu meminjam sepeda kecil milik anak ibu kantin dan berkeliling di lapangan basket."


Mata membeliak Gantari menjadi saksi, jika ia terkejut mendengar penuturan Nevan barusan.


"Imut banget," kenang Nevan sembari terkekeh.


Gantari mendengkus. Ia kira jawabannya akan seperti ala-ala drama romantis yang sering ia tonton, aku suka semua yang ada pada dirimu, begitu. Rupanya karena sepeda kecil anak ibu kantin. Sedih jangan, nih?


Setiap akan ulangan, Gantari memang kerap kali meminjam sepeda dan berkeliling lapangan sembari menghafal materi, tapi seingatnya dia tidak pernah melihat Nevan karena jam berkelilingnya adalah sore hari ketika semua siswa sudah pulang.


"Tapi aku nggak lihat kamu." Ungkapan kebingungan Gantari itu akhirnya ia lontarkan juga.


"Emang kita kenal?"


Benar juga. Gantari mengangguk. Ia ingat, jika meski sudah tiga bulan berada di kelas yang sama, namun mereka sama sekali tidak pernah tegur sapa.


Gantari sibuk dengan urusan pelajaran dan organisasi sekolah, sedangkan Nevan sibuk dengan basket dan keonarannya.


"Tapi aku kenal. Dulu kamu nggak pernah menjawab absen guru," ujar Gantari, lalu mengerling pada laki-laki tampan yang kini sedang menatapnya itu. Tangannya masih asik memainkan jemari Nevan.


"Ah! Ternyata kamu duluan yang naksir aku. Kamu tertangkap basah, Dihyan."


Tuduhan aneh itu sontak membuat Gantari terkikik.


"Waktu itu belum suka," jawab Gantari setelah berhasil berhenti tertawa.


Nostalgia dengan orang tercinta memang sangat mengasikkan. Mereka bahkan lupa dengan keresahan hati mereka sebelumnya.


Nevan tidak. Nevan masih merasakan kekhawatirannya karena ia tahu benar siapa Gantari. Wanita yang ketika tersenyum selalu membuat hatinya menghangat itu akan selalu berubah lemah jika berhubungan dengan embel-embel keluarga.


"Kalau kamu, apa yang membuat kamu pertama kali menyukaiku?" tanya Nevan, mencoba mengenyahkan kekalutannya.


Gantari tampak berpikir, lalu bangkit dan duduk dengan kaki bersila di samping Nevan.


"Sebelum aku kasih tau jawabnya, aku mau cerita dulu hal yang membuat aku mulai tertarik sama kamu."


Sebelah alis Nevan terangkat. "Emang beda?"


"Beda. Ini baru tertarik belum suka," sengit Gantari lucu.


"Oke, oke." Nevan pasrah saja. Melihat Gantari begini saja dia sudah bahagia.


"Jadi gimana ceritanya?" Kali ini Nevan yang meraih tangan Gantari dan menautkan jemari mereka, lantas memantul-mantulkannya di atas sofa, menunggu cerita dimulai.


"Pagi itu kamu pamit ke toilet dan nggak beberapa lama aku juga izin hal yang sama."


"Kamu juga bisa bosan belajar, ya?" potong Nevan. Namun, bukannya marah, Gantari justru menyipitkan matanya.


"Kamu waktu itu nggak ke toilet." Gantari mendekatkan wajahnya ke wajah Nevan dengan mata yang kian menyipit, mengintimidasi.


Sampai-sampai Nevan menghentikan gerakan tangannya dan tampak sedikit gelagapan. Ia mengingat-ingat, apa ada hal gila yang pernah ia lakukan semasa sekolah.


"Kamu salat Duha, kan?"


Nevan tersedak tanpa ada adegan minum.

__ADS_1


Setelah mengucapkan kalimat itu, Gantari langsung meledakkan tawa. Lepas sekali, hingga membuat Nevan ikut mengulas senyum. Ia mengaitkan leher Gantari dan menariknya gemas dalam pelukan, hingga perempuan itu menyerah dan mencoba melepaskan tangan Nevan dari lehernya.


"Seorang Dion yang nggak pernah ngerjain PR dan hobi ngegodain cewek, salat Duha?"


Gantari terbahak lagi. Astaga.


"Waktu itu aku dipengaruhi si Ridho," jelas Nevan cepat.


Gelak tawa belum juga hengkang dari bibir Gantari. Ia masih merasa geli mengingat tingkah alim Nevan di balik tampang petantang-petentengnya.


"Tapi aku suka," ucap Gantari tiba-tiba.


Diam-diam Nevan bersyukur. Berkat Ridho, Gantari mulai tertarik padanya. Lain kali jika berjumpa, ingatkan Nevan untuk meneraktir Ridho.


"Ada satu lagi. Kamu ingat nggak waktu ...." Gantari seolah ragu melanjutkan kalimatnya dan Nevan dengan polos melanjutkannya.


"Tembus?"


"AW!" Nevan berteriak kecil karena lagi-lagi Gantari mencubit pinggangnya.


Gantari mah gitu, anarkis kalau lagi sayang-sayangnya.


Nevan buru-buru meritsleting mulutnya dari pada kena cubit lagi.


Dia ingat kejadian itu, waktu Gantari mengendap-endap keluar toitet dan buru-buru masuk lagi ketika melihat Nevan lewat.


Gantari kira sudah aman karena hari ini sudah mendekati jam pulang dan siswa-siswa sudah mulai tenang dan bersiap di kelas masing-masing, tidak ada yang keluyuran seperti pemuda yang barusan lewat tadi.


Setelah mengutuki dirinya sendiri yang ceroboh melupakan tanggal, kini Gantari bingung setengah mati memikirkan cara untuk kembali ke kelas. Dia celingak-celinguk melihat bagian belakang roknya, lalu mendecak lagi.


Baju yang biasanya ia masukkan rapi, kali ini bahkan sudah ia keluarkan dan rupanya sama sekali tidak membantu.


Apa nunggu sepi aja, ya? pikir Gantari.


Tapi nanti dia bakalan dibuat cabut dan itu akan merusak reputasinya.


Gantari menggeleng. Ia sudah bertekad untuk menerobos masuk dengan cepat, tidak akan ada yang memperhatikan. Yakin!


Tekad yang sudah bulat sempurna itu mendadak pecah ketika ia baru saja melangkahkan satu kakinya keluar pintu toilet.


Wajahnya tidak setebal itu.


Gantari benci konflik batin. Dia sudah meringis hampir menangis.


Dia melangkah lagi. Mengendap-endap waspada melihat situasi dan kondisi terkini. Aman.


Gantari maju lagi dan ia sontak tersentak kaget dan mundur satu langkah ketika melihat seorang laki-laki bersandar di balik tembok toilet dengan gaya bak model majalah siap jepret.


Nevandra Ardiona. Si pelaku salat Duha beberapa hari yang lalu.


Gantari ingin sekali mengumpat karena jika dia tidak ada rencana mengendap-endapnya pasti sukses besar.


"Mau ditolong nggak?" suara khas pemuda tampan langsung membuat bulu kuduk Gantari meremang. Berbulan-bulan berada di kelas yang sama belum pernah sekali pun mereka mengobrol normal.


Kecuali, menagih uang kas kelas masuk kategori mengobrol normal.


"Ma ... Maksudnya?" Sial sekali, Gantari sampai gagap begini.


Nevan tidak menjawab. Dia hanya mengedikkan dagunya ke arah belakang tubuh Gantari dengan ekspresi datar.


Gantari benar-benar mau menangis saja. Ini memalukan. Dia memejamkan matanya kuat mencoba berpikir jernih.


"Aku nggak mau nyium. Kenapa merem-merem?"


Nauzubillah.

__ADS_1


Gantari membuka matanya cepat, lalu mendelik pada bintang basket sekolahnya itu. Dia salah paham. Dia tidak perlu malu dengan orang tak tahu malu seperti orang yang ada di hadapannya ini.


Bak lagu dangdut, terlanjur basah ya sudah mandi sekali, Gantari memutuskan untuk menerima tawaran Nevan.


Kalau dilihat-lihat, Nevan tidak memakai jaket, lalu cara menolongnya gimana?


"Caranya?" tanya Gantari akhirnya. Setelah melewati drama dan konflik panjang batin sendiri.


"Jalan duluan," balas Nevan ringan.


"Kamu gila?"


Nevan kaget. Seumur-umur belum pernah dia dikatai gila. Namun, ikrar cinta sepeda kecil sudah dia ucapnya, jadi telan sajalah.


"Mau nggak?"


Gantari menghentakkan kakinya kesal, lalu berjalan di depan Nevan, disusul oleh Nevan yang berjalan di belakangnya dengan jarak tiga jengkal saja sambil senyum-senyum sendiri.


Karena untuk pertama kalinya, Nevan menyelamatkan cinta pertamanya.


"Nah! Saat itu rasa tertarik udah berubah jadi rasa suka."


Ucapan Gantari barusan, sukses menarik Nevan dari lamunannya. Nevan terkekeh, lalu mengusap tengkuknya sendiri, salah tingkah.


"Masih suka belum cinta?" selidik Nevan akhirnya.


Gantari menggeleng.


"Belum."


"Ok, lanjut! Kapan kamu mulai cinta sama aku?"


"Semester dua."


"Astaga, Dihyan. Itu lama banget."


"Ya, kali cinta bisa tumbuh cepat," dengus Gantari.


"Aku bisa. Detik kamu naik sepeda, aku udah cinta."


Dasar Nevan. Dia tidak tahu kalau ucapannya barusan membuat jantung Gantari berdegup kencang.


Tet!


Tet!


Sesi nostalgia terganggu karena seseorang memencet bel di luar sana. Gantari menoleh ke arah pintu, lalu beralih lagi pada Nevan dengan tatapan bingung karena Nevan tampak santai-santai saja.


"Bukain pintu. Ada cewek, tuh," ujar Gantari ringan.


Nevan mencibir. Namun, akhirnya ia beranjak ketika suara bel berganti dengan gedoran pintu.


Dasar nggak sabaran.


Baru beranjak beberapa langkah, Nevan kembali lagi dan mendaratkan ciuman di pipi Gantari. Hingga, perempuan yang sedang memeriksa ponselnya itu tersentak kaget.


Nevan cekikikan, lalu sedikit berlari ke arah pintu untuk menyambut tamu yang Nevan tahu betul sosoknya.


"Lama banget? Nih aku bawain seblak."


Suara tamu langsung mendominasi, tanpa ada jawaban dari tuan rumah.


"Sebenarnya gue modus aja beli seblak. Lo tau sendiri, kan? Tetehnya itu, loh, bikin nagih. Bohay, aduhai, sem ... ppfffftt. Apaan, sih?"


Nevan menoleh dan benar saja, Gantari sedang menatap dirinya yang sedang membekap mulut Fikri dengan tatapan dingin yang menusuk hingga kalbu.

__ADS_1


Fikri yang masih sewot ikut menoleh dan mendapati penampakan yang sama, namun dengan reaksi yang berbeda.


"Gan ... Gantari! Lo kok bisa ada di sini?"


__ADS_2