Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Enam


__ADS_3

Ini hari pertama Nevan berkunjung ke rumah Shanessa dengan status berbeda. Tidak ada cincin yang melingkar di tangan, karena begitulah kesepakatannya.


Bell ditekan dan sang tunangan sendiri yang membuka pintu. Pemuda itu tersenyum. "Udah kayak film india, ya?" Kelakarnya.


Shanessa tersenyum malu-malu. Dia menarik Nevan masuk dan menyuruhnya duduk di sofa. Kemudian, mengeluarkan ponselnya memperlihatkan hasil jepretan acara semalam.


"Hasilnya bagus-bagus," dia memberitahu. Tatapannya masih takjub, meski entah sudah untuk keberapa kali dia melihatnya.


Nevan ikut melihat dan mengangguk setuju. "Jadi untuk itu aku dipanggil pagi-pagi begini?"


Si wanita cemberut. "Ini penting. Kita kan jarang foto," ingatnya lirih.


Nevan melirik, lantas mengusap kepala Shanessa dengan sebelah tangan. Sebelah lagi ia gunakan untuk merogoh saku dan mengeluarkan handphone. Membuka aplikasi kamera dan secepatnya mengambil foto selfi.


Shenassa terbelalak, kemudian memukul Nevan bertubi-tubi. "Aku belum siap!" teriaknya. Ia mencoba merebut ponsel Nevan, namun sang pemuda menjauhkannya.


"Hapus! Itu jelek, sayang," rengeknya.


Nevan tertawa, lalu menggeleng cepat. Diam-diam Shanessa tertegun. Ini kali pertama Nevan bersenda gurau dengannya dan rasanya menakjubkan.


Nevan terengah dan menghentikan tawanya. "Sudah, ah. Ayo nonton."


Kejutan kedua. Apa memang begini rasanya tunangan?


Setelah menganggukkan kepala dan mengambil handbag Shanessa segera mengamit lengan Nevan dan bersiap pergi. Namun, Bi Tarti datang dengan tergopoh. Ditangannya ada sebuah ponsel.


"Non," panggilnya.


Shanessa berbalik dan mengangkat sebelah alisnya.


"HP-nya non Tari ketinggalan," ucap Bi Tarti. Ada raut khawatir disana. "Takut tuan besar nelpon," lanjutnya hati-hati.

__ADS_1


Rupanya Shanessa sama khawatirnya.


Bukankah itu reaksi berlebihan hanya karena Hp yang ketinggalan? pikir Nevan.


"Biar Shaness yang antar." Shanessa mengambil ponsel tersebut dan memasukkannya ke dalam handbag yang ia bawa. "Makasih, ya, Bi."


Ini kali kedua dihari Minggu Nevan mendengar Gantari tidak ada di rumah. "Mau diantar kemana? Emang kamu tau?" Ada nada tak suka disana.


"Kemana lagi," balas Shanessa. Tatapannya mengawang. Ia kembali mengamit lengan Nevan dan melanjutkan langkah.


APV hitam Nevan berhenti di pelataran Rumah Sakit tepat 20 menit kemudian. Pertanyaan kembali menggelayut di benaknya.


Apa Dihyan akhirnya menjadi dokter seperti obsesinya dulu? Nevan mendecih menanggapi terkaanya sendiri. Menertawakan dirinya sendiri yang seolah masih peduli.


"Tunggu, ya. Aku ngantar ini sebentar," Shanessa menginterupsi dugaan di pikirannya. Tanpa menunggu respon Nevan, dia membuka pintu dan dengan langkah cepat memasuki Rumah Sakit.


"Siapa sih Gantari itu? Sampai HP-nya saja begitu sangat penting?"


Langkah Shanessa berhenti di depan salah satu ruang inap. Ia langsung membuka dan mendapati Gantari berada disana sedang duduk danĀ  berbicara pada seseorang yang tengah terbaring.


Ia berjalan mendekat dan mencuri lihat dari punggung sang sepupu. Hatinya mencelos. Sang Tante masih menutup mata.


"Apa kabar, Tante? Maaf sudah lama nggak berkunjung," ucap Shanessa, lantas mengecup kening wanita ayu itu.


Gantari tersentak. Ia melongo kaget, tapi ketika Shanessa mengulurkan ponsel kearahnya, barulah ia paham.


"Jangan ceroboh lagi. Jangan sampai kejadian tempo hari terulang," kata Shanessa serius.


Gantari menghela napasnya pelan, kemudian mengangguk.


"Aku nggak bisa lama, sori," lanjut Shanessa sungguh-sungguh.

__ADS_1


Gantari maklum. Ia berinisiatif mengantar Shanessa sampai ke depan sambil berbincang tentang perkembangan sang ibu. Shanessa mendengarkannya dengan seksama dan menyampaikan beberapa doa dan kalimat penyemangat. Di rumah jangan harap mereka bisa membicarakan masalah ini.


Shanessa sempat termenung menatap dalam Gantari. Ia teringat dengan kejadian barusan. Hatinya perih melihat sepupunya itu bicara panjang lebar pada sang ibu yang masih koma. Gantari kesepian dan ia baru menyadarinya.


Di luar, pikiran Nevan masih penuh terkaan. Tidak mungkin Dihyan menjadi dokter, setahu dia wanita itu bekerja di perusahaan milik Ardiwinata.


Dia membuka pintu mobil dan melangkah mendekati rumah sakit. Memandang ke atas gedung dan membaca plang besar yang menuliskan nama Rumah Sakit tersebut. Pikirannya melayang lagi.


"Aku mau jadi dokter kaya..."


"Aku mau jadi dokter kaya, sehingga tidak perlu mengharapkan uang dari orang miskin."


Nevan menggeleng. Ia memukul kepalanya mencoba mengusir suara itu.


Dibelakangnya, Shanessa rupanya sudah berdiri. Dia memperhatikan tingkah Nevan dan bertanya khawatir, "Kenapa, sayang?"


Dia langsung memegang pundak Nevan dan menatap lekat matanya khawatir sekali. Nevan menggeleng, "Nggak apa-apa."


Nevan menegakan tubuhnya dan rupanya Shanessa tidak sendiri. Di belakangnya berdiri pula Gantari dengan memakai celana jeans dan kaos berwarna kelabu lengkap dengan outer berwarna hitam. Kali ini rambutnya terikat.


"Kami duluan, ya," pamit Shanessa. Tangannya melambai dan dibalas Gantari dengan gumaman.


Shanessa mengamit lengan Nevan lagi, sesekali dia bertanya sekadar menyakinkan jika Nevan memang baik-baik saja.


Ponsel Gantari bergetar dan ia tak langsung menjawabnya. Ia terlihat menatap bingung layar ponselnya sendiri. Namun kemudian diangkatnya juga. Matanya terbeliak dan sontak membalikkan cepat tubuhnya ketika mendengar lawan bicaranya menyampaikan sesuatu. Ia berlari panik memasuki gedung rumah sakit, tidak peduli sudah beberapa orang yang ia tabrak meneriakinya.


Shanessa dan Nevan menoleh mendengar makian itu. Perasaanya tidak enak. Terlebih ketika melihat Gantari berlari tidak karuan. Tanpa pikir panjang, Shanessa ikut berlari disusul Nevan di belakangnya.


Napas keduanya terengah ketika berhenti di depan sebuah ruangan. Shanessa langsung membuka pintu dan mendapati seorang dokter sedang menggunakan alat pacu jantung. Sedangkan, seorang suster memperhatikan alat monitor dengan sesekali memberi informasi pada sang dokter. Masih ada seorang suster lain lagi yang sedang memegang oksigen, ia melihat Shanessa dan meminta gadis itu untuk keluar.


Sekilas Shanessa melihat Gantari. Air mata sudah tumpah membasahi wajahnya, namun dia masih terlihat tenang memegangi tangan sang ibu, menggenggamnya erat. Bibirnya tak henti membisikan sesuatu di telinga wanita yang paling disayangi itu.

__ADS_1


Nevan mencuri lihat siapa orang yang diberi pertolongan pertama oleh sang dokter. Dadanya berdesir sesaat melihat Gantari dengan wajah pilu dan jantungnya nyaris berhenti ketika akhirnya dia berhasil melihat wajah sang pasien. Orang itu, pasien itu, wanita itu adalah ibu Dihyan. Mantan mertuanya.


__ADS_2