Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Tujuh Puluh


__ADS_3

Sudah dua hari Shanessa tidak datang untuk bekerja dan hal itu sontak membuat Leo mencak-mencak pada Angkasa.


"Pak Ang belum minta maaf juga?"


Angkasa sedang duduk santai di singgasananya sembari membaca sebuah berita daring di ponsel. Entah berita apa yang dibacanya yang jeals tiba-tiba sebuah seringai muncul begitu saja di bibir Angkasa, sebelum akhirnya dia mendongak dan menatap Leo dengan malas.


"Jadwal ke Hotte jam berapa?" tanya Angkasa mengabaikan protes sang asisten pribadi.


"Jam 11," jawab Leo cepat, lalu melanjutkan dengan tak kalah cepat, "Jadi kapan rencananya Pak Ang mau minta maaf dengan Shanessa?


Angkasa mengacak rambutnya kesal. "Astaga! Sejak kapan atasan minta maaf pada bawahan?" semburnya tak terima.


Ucapan Angkasa tersebut justru dibalas Leo dengan dengkusan. "Tapi kan Bapak yang salah."


"Terus?"


"Minta maaf. Kalau tidak, saya mogok bekerja hari ini."


Angkasa melongo. Kenapa belakangan banyak sekali hal menyebalkan yang terjadi? Lama-lama rambutnya bisa rontok kalau diacak terus setiap kesal.


"Kamu naksir Shanessa, ya?" tebak Angkasa tajam.


"Iya. Makanya cepat minta maaf. Biar Shanessa kerja lagi," renggek Leo sembari menghentakkan kaki, membuat Angkasa berjenggit ngeri.


***


Nevandra Ardiona


Kamu di mana?


08.20 WIB Read


Nevandra Ardiona


Dihyan, aku tau kamu baca. Jangan mengabaikanku.


08.22 WIB Read


Benar, masalah tidak akan selesai jika dihindari.


Gantari Dihyan Irawan


Di rumah.


08.23 WIB Read


Nevandra Ardiona


Aku ke sana sekarang.


08.24 WIB Read


Nevan langsung meraih kunci mobilnya dan berjalan cepat ke luar ruangan. Fikri yang melihat, tidak berani bertanya dan lagi dia juga sudah tahu jawabnya.


Tepat di lobi, Nevan bersisian dengan seorang wanita berwajah mungil dengan dress pendek berwarna nude.


"Pak Nevan," sapanya.


Nevan yang sedang terburu-buru menoleh dan tentu saja mengingat wanita itu, Mariah. Namun, dia cukup bingung dengan kehadiran putri relasinya itu di kantornya.


"Iya?"

__ADS_1


"Bisa bicara sebentar?" ucapnya ragu.


Nevan tampak menimbang. "Bisa nanti saja?"


"Sebentar. Hanya sebentar."


Akhirnya Nevan mengalah dan kembali ke ruangannya dengan membawa serta Mariah yang disambut tatapan curiga dari beberapa karyawannya, termasuk Fikri.


Gantari Dihyan Irawan


Nggak usah. Aku aja yang ke kantor.


08.27 WIB


Pesan balasan Gantari masuk dan sayangnya Nevan tidak mengetahuinya.


***


Angkasa sedang meninjau langsung pelaksanaan tender di Hotte Mart. Dengan tangan yang dilipat ke belakang dia dari tadi sudah mondar-mandir mengintruksikan ini dan itu agar semua berakhir sempurna. Hari ini dia memang terlihat sedang semangat-semangatnya.


Hayo, tebak karena apa?


"Angkasa."


Intruksi terhenti. Mendadak Angkasa merasakan tubuhnya membeku. Tanpa menoleh pun dia sudah tahu siapa yang memanggilnya.


"Kapan lagi kamu mau bicara denganku?"


Angkasa akhirnya menoleh, menatap Admaja Wiraguna, sang direksi utama Hotte Mart, juga ayah kandungnya.


Aku yakin, kamu kuat menghadapi kebenaran masa lalumu, Asa.


Aku yakin ...


Asa.


Ucapan Gantari itu terus berputar di kepala Angkasa setiap kali ia memejamkan mata. Bagaikan sebuah pil penenang yang mampu mengendalikan kecemasannya.


Di depan Angkasa, duduk Admaja Wiraguna yang tengah menatap ke arahnya dengan pandangan tidak terbaca. Tatapan yang selalu membuat Angkasa tersiksa oleh rasa bersalah. Tatapan yang selalu membuat Angkasa membenci dengan dirinya sendiri.


Ma! Tadi aku lihat Papa sama perempuan lain. Papa selingkuh, Ma!


"Ibumu bukan pergi karena aduanmu," Wiraguna memulai. Dia sudah terlalu lelah menunggu Angkasa untuk berani menanyakan padanya sendiri.


"Aku berselingkuh, ibumu sudah tau sejak lama."


Angkasa memberanikan diri untuk mengangkat kepala, menatap Wiraguna dengan mata tidak fokus.


"Ibumu bunuh diri karena ...."


TUAN! Nyonya, Tuan! Nyonya gantung diri!


Angkasa merasakan napasnya sesak. Dia membiarkan dadanya naik turun dengan kecepatan tidak biasa sembari mencengkram erat pegangan kursi. Angkasa memang selalu menderita jika masa itu diungkit kembali.


"Kekasihnya meninggal dunia karena kecelakaan, itu sebabnya ibumu ..."


"Bohong! Kau bohong!" Angkasa berdiri dengan napas tersengal. Ia memegangi dadanya sendiri karena merasa jantungnya benar-benar seperti diremas.


Keringat dingin kembali mengucur hampir di seluruh tubuhnya. "Ibuku tidak begitu! Dia tidak mungkin begitu," teriak Angkasa tak terima.


"Kau yang menjijikkan, bukan ibuku. Ibuku sampai mati karena ulahku! Ibuku wanita yang lemah, dia lemah." Angkasa menangis. Air matanya mengalir begitu saja.

__ADS_1


"Angkasa." Wiraguna ikut bangkit. Hatinya sakit melihat putra semata wayangnya itu begitu tampak menderita. "Maafkan kami yang gagal menjadi orang tua yang baik untukmu."


Angkasa berteriak, meski air matanya belum juga berhenti. Dia keluar dari ruangan dengan keadaan kacau, marah, benci, sedih, dan kecewa.


Angkasa terus melangkah, melewati ruangan demi ruangan yang masih kosong dan sepi, hingga akhirnya dia terjatuh dengan lutut membentur ubin.


Untuk kesekian kalinya dia berteriak, meraung, dan menumpahkan semua air matanya, hingga seorang wanita ikut berlutut di depannya dan memeluknya erat.


***


Gantari datang lagi dengan Retic tersayang. Kali ini Wahyu tidak menyapa karena memang dia sedang tidak terlihat, mungkin sibuk.


Melangkah sembari terus mencoba meyakinkan diri sendiri bukanlah hal yang mudah. Kali ini Gantari tidak ingin lari seperti dulu, dia ingin mendengarkan alasan versi Nevan.


"Ga-Gantari," Utami menyambut dengan gagap betulan, bukan gegap gempita.


"Pak Nevan di dalam, kan, Ut?"


Ya, Allah.


Utami meneguk ludahnya susah payah. Kabar tentang pernikahan bisnis bosnya itu sudah menyebar kemana-mana dan sekarang mereka justru mengobrol di dalam, membuat Utami panik saja.


"Pak Nevan lagi sakit perut katanya, Tar."


Bodoh, Utami, bodoh. Utami mengutuki dirinya sendiri.


"Fikri! Kayaknya barusan keluar sama Fikri, deh," ralat Utami.


Gantari ini cerdas, loh, Ut. Untuk mengidentifikasi asalan mengada-ada bukan hal yang sulit untuknya.


"Ut, tolong kasih laporan ini sama Pak Nevan kalau dia udah ...." ucapan Fikri terhenti ketika menyadari siapa perempuan yang berdiri di hadapan Utami. Sedangkan, Utami wajahnya sudah tidak jelas lagi bentuknya demi memberi kode pada Fikri.


"Ha-hai! Gantari," sapa Fikri kikuk.


Gantari tersenyum kecut. "Bos kalian ada di dalam, kan? Sama siapa? Sama calon istrinya?" ucap Gantari tajam. Saking tajamnya sampai membuat dua sosok manusia di hadapannya tidak dapat berkata-kata lagi.


Gantari memutar tubuhnya dan berjalan menuju ruangan Nevan, mengabaikan daya dan upaya Fikri serta Utami yang mencoba melarangnya.


Pintu terbuka dan wajah Nevan langsung pias ketika menoleh ke arah pintu.


"Dihyan?"


***


Bang Nevan : Puas-puasin, deh, bikin aku mati kutu. Puas-puasin.


Jika : Hehehe


Bang Nevan : Lanjutin aja, Jika, lanjutin terooosss.


Jika : Jangan gitu, dong Bang 🤧 Jika jadi sedih.


Bang Nevan : *tarik napas, embuskan*


Jika : Bang Nepan 🤧


Gantari : Udah, Jika cuekin aja. Bentar lagi dia baikan, kok. Kamu semangat, ya nulisnya.


Jika : Maaci, ya Kak Gan.


Bang Nevan : Kok kamu belain dia, sih, Sayang?

__ADS_1


Jika : Dih! Jangan manggil-manggil sayang di depan Jika, ya! Jika kepret baru tau.


__ADS_2