
Sama seperti Nevan yang membutuhkan waktu untuk membiarkan hatinya yang patah agar dapat bertunas kembali, begitu juga denganku.
Aku siapa?
Aku yang tidak perlu kamu tahu.
***
"Menurut kamu penampilan saya bagaimana? Maksud saya, rambut pendek saya."
Hening.
"Menurut kamu, apa Gantari akan suka?"
Shanessa menatap Angkasa dengan bola mata bergetar. Bayang-bayang Gantari belum juga menghilang darinya. Semua orang, setiap orang, selalu membawa-bawa Gantari ketika melihatnya. Tidak ada Shanessa, hanya Gantari.
Ketukan pelan akibat heel yang ditimbulkan langkah kaki Shanessa bergema. Dia berjalan mendekati Angkasa, dekat sekali. Saking dekatnya, hingga membuat Angkasa bingung.
Bukan hanya Angkasa karena dirinya juga sama bingungnya kenapa bisa seberani ini.
"Tidak. Gantari tidak akan menyukainya." Shanessa menatap Angkasa dengan tajam, lalu melanjutkan, "Sekuat apapun Anda mencoba, di mata Gantari hanya akan tetap ada Nevandra Ardiona."
Sebelah bibir Shanessa terangkat, menciptakan senyuman miring yang menyiratkan rasa miris. "Sama seperti aku, yang mati-matian agar terlihat oleh Anda, namun tetap terlihat."
Uhuk!
Angkasa melebarkan bola matanya. Bibirnya sudah bergerak hendak mencerca, namun Shanessa keburu memutar tubuh dan melangkah cepat meninggalkannya.
"Barusan itu ...." Angkasa mengangkat telunjuk tangan kanannya ke udara, lalu mengarahkan telunjuk itu ke wajahnya sendiri. "Aku ditembak?"
***
Keputusan kembali dibuat, walau tidak tahu akan berakhir bagaimana dan jalan seperti apa yang akan dilalui, yang jelas kali ini Gantari ini memulainya lagi. Dia ingin kembali bergandengan tangan bersama Nevan lagi, kemana saja hingga lelah.
"Bulan?"
Gantari menoleh, lantas mengendurkan pelukan dan mendapati seseorang sedang menatapnya dalam. Seorang wanita yang tadi makan tak jauh dari meja mereka. Kini terlihat jelas jika wanita tua yang masih terlihat begitu cantik itu sedang menggunakan payas madya khas Bali.
Beliau terlihat semakin anggun dengan rambut yang disanggul rapi lengkap dengan cempaka putih yang tersemat, membuat Gantari ikut memaku pandang.
"Ya?" Entah kenapa Gantari menyahut begitu saja meski bukan namanya yang disebut.
__ADS_1
"Bulan ...." Wanita itu kembali ingin melanjutkan, namun laki-laki yang setia berdiri di belakangnya langsung mengintruksi.
"Kita harus segera kembali sekarang."
Wanita itu menolehkan sedikit kepalanya. Wajahnya terlihat begitu sendu, namun kemudian dia melangkah pergi tanpa mengucapkan apapun lagi yang diikuti oleh laki-laki tadi.
"Kenapa?"
Gantari tersentak ketika Nevan memegang pundaknya.
"Itu tadi ...." Gantari tampak linglung. Dia bahkan tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Bulan? Banyak yang memakai nama itu, Dihyan. Pasti yang dimaksud bukan Bulan, ibumu."
Gantari mengangguk, meski sebenarnya dia tidak yakin. Ada rasa lain yang menyelinap di hatinya ketika menatap mata wanita tadi. Sorot mata itu milik siapa?
"Utami?"
Gantari mengikuti arah pandang Nevan dan menemukan sosok Utami yang fokus mengikuti seorang pelayan. Ia tampak terkejut melihat keberadaan atasannya itu. "Pak Nevan?"
Sekretaris Nevan itu hari ini tampak cantik dengan menggunakan dress berwarna hitam serta hand bag silver yang senada dengan anting mutiara yang tersemat apik di telinganya. Menambah pancaran keanggunan seorang Utami. Sebuah paduan gaya yang benar-benar cocok dengan Le Quartier, tidak seperti Nevan dan Gantari.
Utami gelagapan. Dia maju mundur seolah ingin kabur, namun punggungnya tertahan oleh dada seseorang.
"Farez?"
Farez menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu meringis salah tingkah menatap Gantari. Setelah melewati krik-kirik momen, akhirnya mereka duduk di satu meja yang sama.
"Kalian datang berdua?" Nevan memulai karena dari tadi tidak ada yang mau bersuara. Ia tersenyum menggoda melihat Utami dan Farez yang masih saja salah tingkah.
"Bukan, Pak ... Bukan begitu." Utami buru-buru membantah. Dia bahkan sudah hampir berdiri, lalu duduk lagi. Seperti cacing kepanasan.
Kenapa rasanya seperti kepergok selingkuh, ya?
Rupanya, kencan di hadapan cinta pertama bukanlah hal yang menyenangkan. Meski Utami sudah tahu Nevan menajalin hubungan dengan Gantari, nyatanya aura masih terasa canggung juga. Utami merasa seperti seorang yang tidak setia.
Farez yang tampak tak kalah panik hanya memilih meminum air di gelasnya hingga tandas. Baru beberapa bulan patah hati, kini dia tertangkap basah sedang jalan dengan wanita lain. Dia benar-benar merasa seperti seorang laki-laki pembual.
Gantari tidak tahan untuk tidak menyemburkan tawa. Dia merasa geli melihat tingkah dua manusia di depannya tersebut.
"Kalau kalian pacaran juga nggak apa-apa, kok," ucap Gantari di sela tawa.
__ADS_1
"Enggak!" Bantah keduanya berbarengan dan kali ini Nevan membantu Gantari meledakkan tertawa.
Setelah puas menggoda Utami dan Farez, mereka memutuskan untuk pulang duluan. Lagi, pula mereka cukup peka untuk tidak mengganggu kecan pertama orang lain.
"Dihyan."
"Hm?" Gantari menoleh. Tangan mereka masih bertautan saat berjalan menuju parkiran.
Sebelum melanjutkan, Nevan menghentikan langkahnya. Kemudian memutar tubuhnya menghadap Gantari.
"Cita-cita kamu dulu jadi dokter, kan?"
"Huum." Gantari mengangguk ragu karena topik pembicaraan jadi acak begini. "Kenapa?"
Nevan tersenyum tipis. Wajahnya tampak redup ketika melanjutkan, "Andai dulu kita nggak menikah, mungkin kamu udah jadi dokter hebat sekarang."
"Siapa yang tau?" Gantari menghela napasnya, lalu melanjutkan, "Nggak ada kepastian di dunia ini, Dion. Tapi, yang jelas, aku tau takdir Allah itu selalu luar biasa."
Nevan mengangguk. Hatinya kembali menghangat lagi. "Bisa saja kalau kamu jadi dokter kamu malah nikah sama dokter, kan?"
"Farez maksud kamu?"
"Aku nggak bilang Farez," balas Nevan sewot. Entah kenapa Farez menjadi salah satu saingan yang berhasil membuat Nevan agak waspada.
"Iya. Maksud kamu pasti Farez."
"Terserah, yang jelas pada akhirnya Gantari hanya akan kembali pada Nevan."
"Hih! Pede amat." Gantari tertawa, lalu melanjutkan langkah menuju motor pinjaman milik Fikri.
"Jadi kamu berubah pikiran?" Susul Nevan tergesa.
"Emang boleh?" Gantari berhenti, lalu menoleh. Menatap Nevan dengan senyum usil.
"Enggak! Udah, mentok. Nggak ada jalan buat berbalik arah. Titik."
***
Catatan:
Bab ini masih belum ada iklan karena patah hati Jika belum ada yang mengobati.
__ADS_1