Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Seratus Sembilan


__ADS_3

Tidak ada lagi alasan bagi Gantari untuk tetap berada di rumah itu. Maka, meski harus kecewa karena gagal bertemu Nevan, Gantari memutuskan untuk pulang. Nyeri luka di kepala Gantari yang tadi tidak begitu terasa, kini kembali berdenyut. Mungkin efek obatnya yang sudah mulai hilang.


Gantari masuk ke dalam mobil setelah Sarif membukakan pintunya. "Mbak Gantari baik-baik aja?" tanya Sarif khawatir.


Gantari membuka topi baseball-nya dan menyenderkan kepalanya ke sandaran kursi, lalu mengangguk. "Nggak apa-apa, Pak. Sedikit haus aja."


Sarif paham, lantas dengan hati-hati ia kembali melajukan mobilnya menuju mini market terdekat dan membelikan Gantari dua botol air mineral.


Gantari meraih salah satu botol air mineral itu, setelah mengucapkan terima kasih pada Sarif. Rupanya di tangan Gantari sudah ada beberapa tablet obat dan ia langsung menenggak cepat obat tersebut. Rasa nyeri di kepalanya harus segera diredakan.


Sarif dengan sabar menunggu Gantari membaik. Ia bahkan memutar lagu instrumental untuk membuat Gantari merasa nyaman.


Sebuah panggilan masuk di ponsel Sarif dan sopir keluarga Ardiwinata itu langsung menjawabnya.


"Siapa, Pak?" tanya Gantari setelah Sarif menutup panggilan teleponnya.


Sarif menoleh ke belakang dan melihat Gantari sudah bisa mengangkat kepala. "Mbak Gantari udah baikan?"


"Udah mendingan, Pak. Reaksi obatnya cepat."


Sarif mengangguk. "Barusan Pak Ardiman nelpon, katanya lagi di kantor polisi dan ada surat panggilan juga buat Mbak Gantari sebagai saksi."


"Kita disuruh kesana?"


"Kalau bisa. Kalau nggak juga nggak apa-apa, biar diwakilkan sama pengacara, begitu kata Pak Ardiman."


Gantari tampak menimbang. Dia sudah terlanjur berada di luar rumah, sekalian mampir rasanya tidak masalah. Lagi pula dia penasaran dengan pelaku dan motifnya.

__ADS_1


"Kita ke sana sekarang, Pak."


...****************...


Nevan menatap dingin Mariah yang kini sedang terisak di balik kaca. Rasa iba untuk wanita itu sudah pupus akibat ulahnya sendiri. Tak lama, karena Nevan segera membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruang kunjungan. Sekarang tinggal menemui dalangnya.


"Mariah itu hanya pion." Edo menyongsong kehadiran Nevan dan mengikuti langkah cepat Nevan. "Dia melakukannya karena tekanan."


Langkah kaki Nevan sontak terhenti. Ia menolehkan wajahnya, menatap Edo dingin. "Apa peduliku?"


Edo tertegun. Dia memang telah salah bicara. Sebagai seorang teman, Edo merasa tidak peka. Nevan sedang tidak ingin menerima pembelaan karena temannya itu pasti sedang berusaha melindungi dirinya sendiri dari luka yang menganga.


Beruntung aura canggung itu terpecah karena petugas kembali memanggil nama Nevan agar mengikutinya ke ruangan kunjungan selanjutnya. Nevan kembali meninggalkan Edo dan mengikuti petugas ke ruangan yang lagi-lagi di sekat oleh kaca. Kali ini yang menunggunya dan duduk di seberang adalah seorang laki-laki paruh baya, Wiratha.


Berbeda dengan Mariah, Wiratha menyambut Nevan dengan dagu terangkat. Dia masih terlalu percaya diri jika hukum masih bisa dibeli.


Di belakang Wiratha, seorang petugas kepolisian masuk dan menyerahkan sebuah surat padanya. Wiratha tampak mengangkat sebelah alisnya, lantas menerima surat tersebut dan membukanya ketika sang polisi beranjak pergi.


Raut bingung di wajah Wiratha terbaca oleh Nevan dan ini saatnya memberi penjelasan. Nevan mengangkat gagang telepon dan menekan nomor ekstensi, hingga telepon di depan Wiratha berdering.


Wiratha mengalihkan pandangannya dari kertas tersebut ke arah telepon, lantas beralih pada Nevan yang sedang menatapnya tajam. Wiratha mengangkat telpon itu dengan senyum miring penuh cibiran.


"Sudah baca, kan?"


Wiratha tertawa. "Ternyata kau pernah gila."


Bukannya marah, Nevan justru tersenyum. "Benar. Karena itu ... jangan main-main dengan orang gila."

__ADS_1


Wiratha tertawa lagi. Kali ini lebih sumbang. "Sial sekali hidupmu, ya."


"Tjokorda Tara Sachita, lima belas tahun." Nevan menarik sebelah ujung bibirnya, menciptakan sebuah seringaian ketika melihat wajah Wiratha berubah pias. "Kalau tidak salah arti namanya anak perempuan baik dan bersemangat, kan?"


"Jangan macam-macam kau, Nevan!"


Nevan terkikik. Menikmati perubahan raut wajah Wiratha perlahan-lahan. "Aku gila dan orang gila tidak bisa diperingati."


Dada Wiratha tampak naik turun akibat emosinya yang memuncak.


"Apa jadinya, ya, denganmu ... Kalau sampai Tara ... "


"Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini! Dia masih kecil!"


Rahang Nevan mengeras dengan kilatan amarah yang mulai terpancar di matanya. "Lalu apa hubungannya masalahmu dengan Gantari?!"


Wiratha paham. Ia mulai mencoba mengatur emosinya. "Sekarang apa maumu?"


"Jangan sentuh Gantari lagi walau seujung rambut pun. Baik kau atau para cecungukmu."


Wiratha mengatur napasnya, lantas mengangguk. "Oke."


"Akui juga semua perbuatan dosamu pada Gantari, juga pada ... Bu Bulan di persidangan."


Wiratha mengalihkan pandangannya. Wajahnya memanas.


"Memb*nuh orang rasanya bukan masalah besar bagiku sekarang."

__ADS_1


"NEVAN!" Wiratha menggeram, lalu mengangguk berkali-kali. "Baik. Akan aku lakukan semuanya."


__ADS_2