
Gantari keluar dari taksi tepat di seberang Sila Hospital. Matahari sudah terbit dan Gantari memang sengaja tidak langsung pulang semalam. Hatinya kepalang berantakan dan lagi dia yakin Nevan pasti sudah menunggu di rumahnya. Namun, meski sudah melewati malam sendirian, hati Gantari rupanya tidak juga membaik.
Ia memberikan selembar uang berwarna merah pada sopir taksi dan langsung keluar tanpa menunggu kembalian. Pada hal Pak Sopir sudah berkali-kali memanggilnya. Gantari melanjutkan langkahnya menuju tempat terakhir kali ia menunggu Jero dengan pandangan kosong.
Apa ibunya sehina itu, hingga adiknya sendiri merendahkannya?
Dan, Dion? Sekarang Gantari bahkan ragu dengan keputusannya beberapa hari yang lalu.
Gantari menggelengkan kuat kepalanya. Mencoba menyingkirkan beban yang mengakar di hati dan pikirannya sekaligus. Dia datang kembali ke sini bukan untuk bernostalgia, tapi untuk menjemput sepeda motor merahnya.
Ya, mudah-mudahan Retic aman. Gantari mengembuskan napasnya dalam, lantas mempercepat langkah.
"Mbak Gantari!"
Gantari yang sedang melihat-lihat parkiran mini market yang berada tepat di seberang Sila Hospital untuk memastikan keberadaan motornya langsung menoleh.
Pak Indra, salah seorang satpam Sila Hospitallah yang memanggilnya. Dia baru saja keluar dari AprilMaret dengan menenteng sebuah plastik putih dengan seragam khas pekerjaannya.
"Mau nyari motor, ya, Mbak?" tanyanya lagi setelah berada tepat di hadapan Gantari.
Gantari mengangguk. "Iya," jawabnya singkat.
Indra tampak sedikit bingung karena Gantari terlihat tidak ramah seperti biasa. Namun, kemudian dia maklum mengingat Gantari kabarnya kemarin sakit dan harus diantar pulang.
"Motor Mbak ada di pos. Mau diambil sekarang?"
Informasi dari Indra tersebut membuat Gantari mengerutkan kening. Seingatnya, dia memarkirkan motornya di depan AprilMaret.
"Kok bisa, Pak?"
"Iya, dititipin sama Mas-nya mbak. Katanya Mbak Gantari sakit, jadi dijemput pakai mobil," terang Indra.
Gantari membuang pandang, lantas mendengkus tak habis pikir, membuat Indra makin memasang tampang bingung.
"Kenapa mbak? Orang itu bukan Mas-nya mbak Gantari, ya?"
__ADS_1
"Motor saya di mana, Pak? Mau saya ambil sekarang."
***
"Loe mau Dihyan balik, nggak?" teriak Edo.
Nevan bergeming, namun perlahan kabut gelap di matanya mulai berangsur hilang, meski napasnya masih terlihat menggebu. Kemudian, ia menarik tubuh Farez yang bertumpu di atas meja dengan kasar, lantas mendorongnya ke lantai hingga tersungkur, membuat Edo hanya bisa menatapnya pasrah.
"Lebih baik loe jaga mulut dia sebelum gue habisin," geram Nevan tajam. Edo yang ditatap Nevan hanya bisa mengangguk, hingga pemuda itu berlalu meninggalkan kegaduhan yang ia ciptakan.
Nevan keluar Sila Hospital dengan dada yang bergemuruh. Emosinya sudah menjalar sampai kepala dan dia butuh pergi agar tidak meledak lebih parah. Farez benar-benar tidak pandai membaca situasi.
Keputusannya untuk datang ke Sila Hospital juga sekarang sedang ia kutuki. Dia kira hatinya bisa lebih tenang jika mendengar perkembangan kabar Gantari secara langsung dan rupanya dia salah besar.
Nevan membuka pintu mobil dan membanting dengan kesal. Kemudian, ia mulai melajukan mobil dan mengarahkannya keluar dari parkiran dengan kecepatan gila-gilaan. Selain Gantari, kebut-kebutan selalu menjadi hal yang bisa membuatnya tenang.
"Dihyan?"
Cittt!
Mobil sontak berhenti tepat di depan pos penjaga dan tanpa pikir panjang Nevan keluar dari mobil. Kemudian, sedikit berlari ke arah Gantari.
"Dihyan!"
Terima kasih, Tuhan.
Nevan langsung menarik Gantari dalam pelukannya. Mendekapnya erat masih dengan ucapan syukur yang ia lafalkan dalam hati. Gantari hilang adalah hal paling ia takuti dan tidak ingin ia rasakan lagi.
"Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Nevan memastikan. Ia melonggar pelukan dan menatap Gantari dari atas ke bawah.
"Kamu kemana aja?" Nevan bertanya lagi. Namun, Gantari masih bergeming. Ia justru melepaskan tangan Nevan yang memegang kedua pundaknya.
"Bisa aku jelaskan lain kali? Sekarang aku mau pulang," ucap Gantari datar. Sedatar tatapannya ketika membalas tatapan luar biasa bahagia Nevan.
"Dihyan?"
__ADS_1
Gantari tahu Nevan kecewa, tapi dia juga sedang kecewa. Hatinya juga sedang terluka. Sekarang dia sedang tidak bisa menjaga hati siapa pun karena hatinya sendiri sedang tidak baik-baik saja.
Indra yang baru saja datang dengan mengendarai Retic langsung menyerahkan kunci sepeda motor tersebut pada Gantari. Dia tidak menyadari jika aura sedang suram.
Gantari mengalihkan pandangannya dari Nevan dan beralih mengambil kunci yang disodorkan Indra dengan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Nevan memperhatikan dan dia tahu semua sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu kenapa?" tanya Nevan, masih mencoba sabar.
"Aku mau pulang," jawab Gantari tanpa menoleh. Ia bahkan berjalan menuju sepeda motornya, namun Nevan keburu menarik tangannya.
"Kalau ada yang menganggu pikiranmu, tanyakan padaku. Jangan membuat kesimpulan sendiri," ucap Nevan tajam. Ia bahkan tidak sengaja mencengkram tangan Gantari, hingga sang kekasih meringis samar.
"Kamu yakin perasaan kita masih sama?" Gantari akhirnya menoleh, membalas tatapan Nevan dengan tidak kalah tajam.
Indra yang mulai menyadari sesuatu, memilih mudur dan menjauh. Namun, dia sedikit khawatir melihat mobil Nevan yang terparkir sembarangan. Beruntung, pagi ini kendaraan yang masuk tidak terlalu ramai.
Perlahan, cengkraman tangan Nevan mengendur dan akhirnya terlepas.
"Maksudmu?"
"Kita baru ketemu lagi, kan? Bisa aja ini cuma rasa ingin menyelesaikan sesuatu yang dulu belum sempat terselesaikan, bukan ...."
"Dihyan!"
Nevan berteriak. Mengentikan ucapan Gantari yang menyakiti hatinya dengan cepat.
"Cukup!" desisnya. Nevan menatap Gantari sebentar, lantas memutar tubuhnya dan melangkah pergi untuk masuk kembali ke dalam mobil. Kemudian, memacunya dengan kecepatan tidak waras.
Gantari menelan ludah getir. Dadanya naik turun menatap Nevan yang pergi dengan wajah kecewa. Raut wajah terluka Nevan terekam jelas di otak Gantari.
***
Bang Nevan : Terus aja, Jika. Terus.
Jika : Maaci, Bang, semangatnya.
__ADS_1
Bang Nevan : Semangat idung loe!
Jika : HOAKAKAAK