Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
S2: Yang Aku Mau


__ADS_3

Nevan tidak menyia-nyiakan waktu akhir pekannya. Ia sudah menyusun sederet rencana bersama Gantari. Harusnya honeymoon keliling Indonesia juga direncanakan segera. Namun, mereka terpaksa kehilangan momen itu akibat peristiwa yang datang bertubi-tubi dan seperti tidak ada habisnya.


"Kita mau kemana?"


Nevan mencondongkan tubuhnya, lantas memasangkan sabuk pengaman pada Gantari. "Nonton. Aku udah kehabisan ide mau ngajak kamu kemana."


Gantari melongo, sedangkan Nevan justru nyengir-nyengir saja. Tanpa mempedulikan tatapan bingung sang istri, Nevan sudah mulai tancap gas keluar perkarangan rumah.


"Emang ada film apa?"


"Nggak tau. Nanti kita pilih random."


"Dion!"


"Sekarang kamu suka teriak nyebut namaku, ya? Jangan sering-sering, Sayang. Nanti orang ngira aku main kasar."


"Astaga."


Gantari tidak lagi mau bertanya main kasar apa yang dimaksud Nevan. Dari pada pikiran Nevan makin jalan-jalan tak tentu arah, lebih baik Gantari mengalah. Ia memilih duduk manis di jok samping dan membiarkan Nevan menjalankan rencana gila weekend-nya.


Ya, gila! Mau nonton di mana pagi buta begini.


"Ini nggak pagi buta, Dihyan." Nevan melirik jam tangannya, lantas melanjutkan, "Udah jam 09.20."


Gantari menatap Nevan dengan tatapan datar, menunggu detik-detik mencibirnya habis-habisan. Lihat saja 15 menit lagi, Nevan.


"Gimana? Gimana? Kita minta kunci mall di mana, Sayang?" cibir Gantari setelah memastikan jika Mall memang belum beroperasi, seperti yang ia duga.


Nevan menoleh dengan wajah tertekuk karena Gantari sedang tertawa puas. Istrinya itu benar-benar menunggu momen untuk menertawainya.


"Jangan ketawa!"


Gantari makin meledakkan tawanya sembari memukul-mukul lengan Nevan. "Dasar nggak berpengalaman. Jangan dilihatin banget dong kalau kamu udah lama nggak pacaran."


"Aku pacaran."


"Kapan?"


"Tujuh tahun yang lalu, sama ... kamu."


Gantari tertawa lagi, kali ini lebih keras, membuat Nevan mendelikkan matanya sebal. Namun, tawa Gantari seketika berangsur reda ketika melihat seseorang yang berjalan melewati mobil mereka yang menepi di pinggir jalan.


Mariah.

__ADS_1


Nevan yang menyadari perubahan raut wajah Gantari ikut menoleh dan menunjukkan keterkejutan yang sama. Namun, tidak lama karena ia kembali menoleh pada Gantari yang sudah membuka pintu mobil dan keluar dari sana.


Mariah yang melihat Gantari keluar dari mobil di depannya, sontak menghentikan langkah. Matanya melebar dengan bibir yang terkatup rapat, menatap Gantari kaget.


Perlahan, Mariah melangkah mundur. Terlihat jelas jika raut wajahnya tampak begitu panik. Kemudian, ia memutar cepat tubuhnya dan berlari menjauh tanpa sepatah kata pun.


Gantari yang tidak menyangka dengan reaksi Mariah, berteriak memanggil namanya. Ia dan Nevan sudah mendengar kabar Mariah dibebaskan dengan jaminan. Jadi, harusnya wanita itu tidak perlu melarikan diri begitu.


Meski mendengar Gantari memanggil namanya, Mariah tetap tidak mau berhenti. Ia terus berlari secepat yang ia bisa, hingga sebelah kakinya terjebak ke dalam grill besi penutup got yang rusak dan membuat tubuhnya limbung ke depan.


Mariah meringis. Ia bangkit, lalu mencoba menarik kakinya panik, tapi tetap saja tidak bisa. Kemudian, berakhir dengan tangisan.


Melihat Gantari yang ikut berlari menghampiri Mariah, mau tidak mau Nevan ikut juga. Ia keluar dari mobil dan mendekati mereka.


Gantari menoleh ke belakang, meminta Nevan berjalan lebih cepat. "Dion! Kakinya berdarah."


Nevan yang dari tadi tampak tenang-tenang saja, perlahan berjongkok dan mulai membatu Mariah mengeluarkan kakinya yang terjebak di sana. Meski Mariah terpaksa harus merelakan sebelah sendalnya terjatuh ke dalam got.


Nevan mendengkus. Jelas-jelas sudah ada traffic cone di sana sebagai penanda, tapi Mariah malah menjebloskan kakinya ke sana.


"Terima kasih," ucap Mariah sambil menunduk. Pergelangan kaki kirinya masih mengucurkan darah segar. Namun, ia tampak seperti tidak peduli, hingga membuat Gantari bergidik ngeri.


Apalagi Gantari dapat melihat tangan wanita itu gemetar dan rasa iba menyelinap begitu saja di hatinya. Lagi pula, Mariah yang ia lihat sekarang jauh berbeda dengan Mariah yang dilihatnya di laman pencarian. Mariah sekarang terlihat begitu ... menyedihkan.


Nevan langsung mendecak ketika mendengar tawaran Gantari. Sedangkan, Mariah langsung tersentak kaget mendengar decakan itu. Kemudian, ia menggeleng cepat.


"Nggak perlu. Aku bisa pulang sendiri," balas Mariah masih menunduk sembari memilin ujung kemeja yang dikenakannya.


Ketika memperhatikan sikap Mariah tersebut, Gantari baru menyadari jika perut Mariah sudah terlihat membuncit. Di usia kehamilannya yang semakin membesar, Mariah masih mengenakan kemeja dan celana jins dan itu benar-benar terlihat tidak nyaman.


Rupanya tidak hanya Gantari yang menyadari itu karena Nevan juga diam-diam memperhatikannya. Sejujurnya, Nevan juga sudah mendengar kabar penolakan keluarga Mariah setelah putri mereka dibebaskan bersyarat dari penjara.


Meski amarah itu masih ada, tapi melihat Mariah begini, sisi manusiawi Nevan keluar juga. Nevan berdeham, lalu meraih tangan Gantari dan menggenggamnya.


"Ayo, Dihyan!"


...****************...


Nevan memejamkan mata setelah meletakkan kepalanya di atas pangkuan Gantari. Terlebih ketika dengan pekanya Gantari mengusap sayang rambutnya. Rasanya nyaman sekali.


"Dion?"


"Hm?"

__ADS_1


Gantari tidak langsung melanjutkan. Ia terdiam sejenak seolah memikirkan sesuatu. Kemudian, kembali memainkan rambut Nevan.


"Melihat Mariah begitu, aku jadi kasihan."


Lagi-lagi Nevan hanya bergumam. Ia masih betah memejamkan matanya di pangkuan sang istri. Menikmati usapan lembut tangan Gantari di kepalanya.


"Perutnya udah membesar, tapi dia sendirian."


Terlihat dada Nevan naik turun karena ia menghela pelan napasnya sebelum merespons ucapannya Gantari.


"Biarkan aja. Itu hidupnya."


"Kamu sedih?"


Kali ini kelopak mata Nevan terbuka. Ia mendongak, mengintip Gantari dari bawah. Kemudian, tertawa hambar.


"Kamu lucu, deh. Ngapain juga aku harus sedih."


"Maksudku bukan sedih ngeliat Mariah."


"Terus?"


"Melihat perempuan ... hamil."


Nevan menatap Gantari lekat, lantas beranjak bangun. Ia duduk menghadap Gantari. Kemudian, tangannya terulur dan kedua telapak tangannya menangkup di pipi sang istri.


"Dengar, ya, Dihyan-ku." Nevan baru melanjutkan ketika memastikan Gantari membalas tatapannya. "Tuhan selalu punya cara untuk menuntun umatnya ke dalam takdir yang baik. Tugas kita cuma berusaha, berdoa dan percaya."


Nevan kembali melanjutkan dan Gantari masih setia memperhatikan. "Kalau suatu saat kita diberi kepercayaan lagi, itu aku anggap sebagai penguat hubungan kita yang harus dijaga dengan baik."


Gantari tertegun. Matanya mulai dilapisi air tipis, namun Nevan belum selesai. "Lagi pula yang aku mau itu ... kamu."


Senyum hangat Nevan merekah setelah mengucapkan kalimat itu, hingga membuat hati Gantari diselimuti rasa lega.


Untuk pertama kalinya Gantari berani memulai. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Nevan, lalu menempelkan bibirnya ke bibir Nevan. Kemudian, melum*tnya pelan.


Awalnya memang pelan, tapi lama kelamaan rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya, membuat Gantari hilang kendali. Jemari lentiknya mulai bergerilya di leher Nevan, hingga membuat tubuh Nevan meremang, lantas memejamkan mata.


Namun, Nevan teringat sesuatu. Pelan-pelan ia melepaskan pagutan mereka dan menatap mata Gantari dengan tatapan tidak fokus tanpa suara. Gantari paham. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Nevan dan berbisik, "Sekarang kamu udah boleh berbuka."


...****************...


ASTOGE 😭

__ADS_1


__ADS_2