Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Sembilan Puluh Delapan


__ADS_3

"Yuk!"


"Kemana?"


Lagi-lagi Nevan menarik tangan Gantari seenaknya menuju ke luar rumah. Sama seperti tadi, Nevan membukakan pintu mobil untuk Gantari dan memintanya masuk. Bedanya, kali ini Gantari tidak menurut. Tidak sopan pulang begitu saja tanpa pamit dikunjungan pertama di rumah calon mertua. Uhuk!


"Kita pulang dulu. Nggak enak ganggu orang tua bermesraan."


Gantari bungkam. Penjelasan Nevan yang ambigu sudah cukup menjadi alasannya menurut dan masuk ke dalam mobil. Nevan terkekeh, lantas ikut masuk.


"Ada yang bilang, restu itu lebih berat dari rindu," ujar Nevan di sela mengemudikan mobil.


Gantari mengerutkan dahinya. "Maksudmu, ini nggak mungkin?"


Melihat wajah kecewa Gantari, membuat Nevan tidak tahan untuk tidak tertawa. Ia mengulurkan tangannya untuk mengusap rambut Gantari sebentar, lantas berujar, "Enggak, Sayang. Kalau dilihat lampu hijau udah di depan mata."


Gantari tidak mengerti dengan jawaban yang diberikan Nevan, namun ia memilih diam saja. Mungkin benar jika restu lebih berat dari rindu.


"Hari ini kamu nggak kerja?" tanya Gantari tiba-tiba.


Nevan hanya melirik Gantari, tidak berani menoleh, lalu mengutak-atik chanel radio mencari siaran yang tidak ada arah dan tujuan.


"Dion?"


"Hm?"


Gantari menghela napasnya, lalu menahan pergerakan tangan Nevan dari aksi cari alibi.


"Aku kan baru pulang dari Jogja, Dihyan."


"Terus, kerjaan kamu di sana gimana?"


Nevan mengulum senyum tampak bersalah. "Udah di-handle Fikri."


"Dion."


"Semua udah aman, kok. Tinggal pemantauan aja. Sekalian biar Fikri belajar mandiri."


"Lama-lama kamu bisa bikin Fikri mati berdiri."


Bukannya prihatin, Nevan justru meledakkan tawa.


Sedangkan, di Jogjakarta ada seorang pemuda kusut yang sedang mengacak-acak frustasi rambutnya sendiri sembari menekan gambar speaker di aplikasi WhatsApp. Dia ingin mengirim voice note pada seseorang karena tidak sanggup lagi walau hanya sekedar untuk mengetik pesan singkat.


"NEVAN! LOE HARUS KASIH GUE BONUS DOUBLE BULAN INI!"


Pemuda kusut itu adalah Fikri Pradana.

__ADS_1


***


"Tapi, aku maunya kamu. Angkasa Wardana."


Angkasa tertegun. Ia memperhatikan gadis di hadapannya itu lama sekali. Seolah menyakinkan dirinya sendiri, jika gadis itu benar-benar sadar dan bukannya sedang bermimpi.


Seorang gadis yang awalnya ia sengaja hadirkan untuk memuluskan hubungannya dengan Gantari. Seorang gadis yang membuatnya jengkel karena sifat manja dan gagapnya dan gadis itu, Shanessa, menyukainya?


Ini gila.


"Kamu ... sakit?" Itulah respons yang diberikan Angkasa. Respons yang membuat Shanessa masih bergeming menatapnya.


"Aku serius."


Angkasa tertawa keras sekali. Ia memutar tubuhnya, lalu berbalik menatap Shanessa lagi.


"Jangan bercanda, Nona."


"Aku ulangi sekali lagi. Aku serius."


Kali ini Angkasa tidak tertawa. Ia menatap Shanessa dari atas sampai bawah dengan pandangan meremehkan.


"CEO jatuh hati pada sekretarisnya?" Angkasa mendengkus, lalu melanjutkan, "Kamu kira ini novel?"


"Bukan CEO yang jatuh hati pada sekretarisnya, tapi karyawan magang yang jatuh cinta pada CEO," ralat Shanessa masih dengan raut serius.


"Kamu tau pasti, kalau ada wanita lain yang aku suka."


"Aku tau pasti kalau itu bukan cinta."


"Shanessa!" Angkasa murka. Ia menunjuk wajah Shanessa dengan mata berkilat.


"Jangan coba-coba membacaku!" Angkasa memperingatkan. Ia membuka pintu mobilnya dan berniat masuk, namun Shanessa kembali bersuara.


"Mau sampai kapan kamu menutup diri? Kamu butuh seseorang. Kamu butuh kepercayaan dan aku di sini bersedia percaya padamu."


Angkasa membanting pintu mobilnya, lalu mendekati Shanessa. Dekat sekali, hingga rasanya Shanessa dapat merasakan embusan napas Angkasa.


"Baik. Bersiaplah menjadi pacar seorang Angkasa. Kamu akan merasakan sensasinya," desis Angkasa tepat di telinga Shanessa, hingga Shanessa merasakan bulu kuduknya meremang. Kemudian, Angkasa memutar tubuhnya dan memasuki mobil, lantas memacu mobilnya meninggalkan Shanessa sendirian begitu saja.


Hari pertama jadian, Shanessa sudah ditinggal sendirian. Dasar, Angkasa gila!


***


"Aku buatkan kopi, ya," ucap Gantari ketika sudah memasuki rumah. Baru saja Gantari akan melangkah menuju dapur, Nevan kembali mengingatkan.


"Satu cangkir aja, ya!"

__ADS_1


Gantari mencibir. Satu cangkir, habis sama Nevan saja, terus dia minum apa? Namun, Gantari tidak membantah. Ia tetap melanjutkan langkah.


Di sela kegiatannya menyeduh kopi, Gantari merasa rumah terasa terlalu sepi. Tumben-tumbenya Nevan tidak mengajaknya bicara. Apa mungkin Nevan ketiduran?


Gantari mempercepat langkahnya dan mengedarkan pandang mencari keberadaan Nevan.


"Dion?"


Tidak ada jawaban.


Benar-benar tidur, tapi di mana?


Gantari mencurigai suatu tempat. Kamar! Buru-buru Gantari menuju kamarnya setelah meletakkan mug yang masih mengepulkan asap tipis ke atas meja. Ya, benar! Nevan ada di sana sedang duduk membelakanginya di atas karpet.


"Dion, kamu nggak sopan!"


Nevan menoleh sebentar, lalu menjawab dengan nyaris bergumam. "Gantian. Tadi kamu masuk kamar aku."


Gantari mendengkus, hendak protes. Namun, perhatiannya teralihkan pada Nevan yang tampak serius sekali menunduk. Gantari jalan mendekat dan mencoba mencuri lihat apa yang sedang Nevan lakukan. Seketika matanya terbelalak.


"Astaga, Dion!"


Gantari merebut paksa sebuah ponsel jadul yang menjadi pusat perhatian Nevan dari tadi. Kemudian, menyembunyikannya di belakang tubuh. Nevan memutar posisi duduknya menghadap Gantari yang berdiri kikuk, lalu sebuah cengiran muncul di bibirnya.


"Kamu masih nyimpan HP itu?"


"Kenapa emang? Ini kan kado buat aku."


Ya, kado pertama dari Nevan untuk ulang tahun Gantari di masa pernikahan mereka.


"Kok baterainya penuh? kan udah nggak dipake lagi."


"Apa sih, Dion?"


Nevan memicingkan matanya, siap mengintrogasi.


"Tiap malam kamu liat foto-foto lama kita, ya?"


"Nggak tau ah!" Gantari menghentakkan kakinya kesal, lantas memutar tubuh hendak keluar kamar. Namun, Nevan keburu menarik tangannya, hingga Gantari ikut terduduk di atas karpet dan dengan sigap Nevan memeluknya dari belakang.


"Aku pernah berpikir kalau rasa itu pernah hilang darimu."


Gantari terdiam dengan tubuh yang menegang, hingga Nevan menumpukan dagunya di pundak Gantari, lantas mengeratkan pelukan.


"Terima kasih karena mencintaiku sedalam itu karena ... aku pun begitu."


***

__ADS_1


Jika : Bonus, lagi. Awas aja masih bilang kurang 👀


__ADS_2