
Seharian ini Nevan adalah milik Shanessa. Ia rela membawa laptop dan setumpuk berkasnya demi menjemput, menunggui, dan mengantar Shanessa pulang. Merepotkan sekretarisnya agar mengirimkan beberapa file yang diperlukan, serta ditatap mahasiswa yang lalu lalang karena ia menguasai sederet panjang meja lorong. Itu semua ia rela lakukan tidak lain demi menemani sang tunangan seminar proposal. Setelah Zuhur, Shanessa yang seminggu ini tak enak makan langsung berlari keluar ruang seminar mencari Nevan dan mengabarkan kesuksesannya dengan sumringah. Setiap kata yang ia ucapkan tidak ada yang tidak disertai senyuman. Shanessa sangat bahagia.
"Tinggal satu langkah lagi," bisik Nevan ikut bahagia.
Shanessa mengangguk kuat. "Anterin ke kantor papa, yuk," ajak Shanessa.
Nevan tersenyum mengiyakan.
"Mau cerita sama Gantari juga."
Dan senyum itu memudar.
***
Shanessa berjalan duluan karena tak sabar ingin cepat-cepat menemui Gantari. Namun, sesampainya di lantai tiga, tepat di depan ruangan divisi pemasaran, Shanessa justru melihat Gantari sedang berdiri memberi instruksi pada beberapa karyawan dengan serius. Ia menghela napasnya kecewa dari balik dinding kaca.
Nevan yang melihat itu ikut maju dan mengintip.
__ADS_1
"Kita tunggu aja," sarannya.
Shanessa mengangguk pasrah, kemudian mereka memutuskan turun kelantai bawah dan menunggu Gantari di taman kantor.
Sementara Nevan pergi ke kantin untuk membeli kopi, Shanessa duduk di kursi taman dan mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan pada Gantari, mengabarkan jika ia menunggu di taman, lantas memasukkan ponsel itu kembali.
Tak lama Nevan datang dengan dua cup kopi dan memberikan satu pada Shanessa. Shanessa menerima dan menghirup aromanya, lantas menyeruputnya sedikit. Rasa capuccino kesukaannya. Ia melirik paper cup Nevan dan lagi-lagi kopi hitam.
"Kamu kok suka banget, sih, sama kopi hitam?"
"Sama kayak Gantari."
Raut Nevan berubah. Ia menurunkan pandangannya, menatap Shanessa. "Kenapa selalu ngomongin Gantari?" tanyanya tajam.
Shanessa tertegun. Ia tidak pernah melihat Nevan seserius itu. Menyadari telah bersikap berlebihan, Nevan memaksa senyumnya. Kemudian, menatap cairan hitam pada paper cup di tangannya.
Untung saja Gantari datang dan memecahkan kecanggungan. Ia memeluk Shanessa dari belakang dan dengan tulus mengucapkan selamat padanya. Shanessa memegang tangan Gantari dan menariknya agar duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Gimana tadi? Ada yang nyerang nggak?"
Shanessa cekikikan. Udah kayak Naruto aja pakai diserang segala, pikirnya. Tapi kemudian, dia ingat Pak Sudir yang memang menyerangnya habis-habisan.
"Ya ampun, Tar. Kamu nggak tau Pak Sudir, kan? Dia kalau ngajar kalem banget, giliran nguji sadis," cerita Shanessa menggebu-gebu.
Cerita masih berlanjut panjang sekali. Nevan hanya samar-samar mendengarkan. Ia lebih memilih memperhatikan awan yang berkejar-kejaran di atas sana sembari menyeruput kopi hitamnya yang sudah tidak terlalu panas.
***
Gantari baru saya selesai mandi. Rambutnya bahkan masih meneteskan air, namun ia tidak mau repot-repot melilit rambutnya dengan handuk. Ia melangkah mendekati jendela dan menatap langit senja dari sana. Pikirannya melayang pada kejadian siang tadi.
"Kenapa selalu ngomongin Gantari?"
Meski tak jelas, tapi dia bisa menangkap ekspresi tak nyaman Nevan. Meski hanya satu kalimat, tapi dia dapat merasakan nada tak suka disana.
Entah kenapa ada secuil hatinya yang sakit, ketika kembali mengingat hal tersebut. Namun, cepat-cepat ia tepis dan mengubah sudut pandangnya. Ia tidak ingin menjadi masalah dalam hubungan Shanessa dan Nevan. Ia tidak ingin Shanessa menjadi bingung memperlakukan dirinya dan Nevan. Maka, satu-satunya cara adalah mencairkan hubungannya dengan Nevan layaknya calon saudara.
__ADS_1