
Gantari menatap pantulan dirinya di cermin, lantas mengembuskan napas kuat, mencoba mengenyahkan keraguannya pagi ini. Kemudian, ia melangkah keluar kamar dengan percaya diri.
Sedangkan, di rumahnya Nevan juga melakukan hal yang sama. Dengan stelan jas lengkap ala aktor drama Korea, ia menatap dirinya di cermin lebar sembari memakai jam tangan. Merapikan rambutnya sebentar, lantas memutar tubuh dan melangkah keluar kamar dengan penuh pesona.
Rupanya, Fikri sudah menunggu di halaman. Berdiri di dekat mobil dengan gelisah.
"Buruan, nanti telat," cetus Fikri setelah melihat Nevan keluar.
"Tengang banget, tumben."
Fikri mendengkus, lalu memegang dadanya. "Iya, nih. Gue deg-degan."
Nevan mendelik pada Fikri ketika akan membuka pintu mobil, lalu menyeringai.
"Loe nggak lagi jatuh cinta sama gue, kan?" ucapnya setelah masuk ke dalam mobil.
Fikri yang juga baru menghenyakkan tubuhnya ke jok mobil, langsung melotot geram.
Perlahan mobil merambat keluar dari perkarangan rumah Nevan.
"Jangan mulai ya, Pak Nevan." Fikri mendecih, lalu melanjutkan, "Sudah cukup gosip kita di kantor."
Nevan melirik pada Fikri sembari mengendalikan kemudi mobilnya, lalu ia menyemburkan tawa renyah, membuat Fikri menoleh ngeri.
Sesampainya di Ayana MidPlaza, Fikri keluar duluan dengan ransel beratnya seperti biasa, disusul Nevan dengan kaca mata hitamnya.
"Pak Nevan?"
Nevan menoleh dan mendapati seorang perempuan berambut lurus sepunggung dengan rok span di atas lutut menyapanya.
Siapa, ya?
Nevan membuka kaca mata hitamnya, lalu memilih mengulas senyum saja.
"Pasti nggak ingat aku, deh," ucap si perempuan mendekat. "Aku Kia, Zaskia. Sekretaris Pak Edwin," lanjutnya.
"Ah! Iya," respons Nevan seadanya.
Emang mereka pernah bertemu sebelumnya?
"Gantari!"
Mendengar teriakkan Fikri barusan, Nevan sontak menoleh.
"Itu Gantari, kan?"
Nevan mengikuti arah pandang Fikri dan ya, dia menemukan Gantari sedang berjalan bersisian dengan Angkasa dan itu cukup membuat dadanya nyeri.
Senyum tipis Gantari lemparkan pada Nevan dari kejauhan sebelum memasuki lobi membuat Angkasa yang melihatnya mendesis, "Akting kalian bagus juga."
Fikri yang kebingungan segera berjalan cepat mendekati Nevan.
"Ngapain Gantari di sini?"
Dia menoleh lagi, memandang keberadaan Gantari yang sudah tidak terlihat, lalu melanjutkan, "Dan itu ... Dia ngapain sama si Angkasa gila?"
__ADS_1
***
Ada empat vendor yang hadir dalam tender penyediaan barang di Hotte Mart, sebuah perusahaan ritel berskala besar dan Rawikara Grup mendapat kesempatan pertama untuk melakukan presentasi.
Fikri masih berada dalam fase kebingungan. Sejak tadi dia menatap Gantari yang duduk bersebelahan dengan Angkasa.
"Gantari kenapa, sih? Dia nggak tau siapa Angkasa?" bisiknya gelisah pada Nevan.
Tatapan Fikri berubah kesal ketika melihat Nevan santai-santai saja.
"Aku lupa kalau dia emang nggak suka sama Gantari," gumam Fikri tersungut-sungut.
Nevan mempersiapkan bahan presentasinya dengan segera, sedangkan Fikri membantu membagikan beberapa dokumen pendukung pada pihak Hotte Mart.
Nevan adalah Nevan dengan pesona ketenangannya.
"Rawikara Grup menjalin relasi
berskala besar langsung dengan produsen tanpa perantara, sehingga bisa dipastikan harga yang ditawarkan jauh lebih menarik." Nevan tersenyum, lalu melanjutkan, "Selain harga yang bersaing, ada strategi yang kami tawarkan untuk meningkatkan daya tarik pengunjung."
Nevan menyapu pandangannya ke semua peserta yang hadir, lalu menunjukkan screen proyektor yang sudah disediakan.
"Kita manfaatkan kegandrungan masyarakat dalam berswafoto. Kita ciptakan view semenarik mungkin dan kita adakan event marketing selama tiga bulan dan foto terbaik akan mendapatkan bingkisan menarik dari Hotte Mart."
Mendadak ruangan heboh oleh hiruk pikuk tepuk tangan. Terlebih, Fikri. Dia sudah berdiri dan menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. Pada hal sebelumnya dia sudah mendengar startegi tersebut di kantornya.
Kamu terbaik, Pak Nevan.
Gantari tersenyum bangga. Nevan memang selalu menjadi saingannya sejak dulu. Kalau teori, Nevan memang kategori payah, tapi kalau sudah praktik, Gantari yang akan kepayahan mengalahkan Nevan.
Gantari adalah Gantari dengan pesona rendah hatinya.
"Angkasa Grup sedang mulai berbenah dan saya yakin Bapak dan Ibu sekalian sudah melihat prosesnya."
Gantari mengulas senyum lega ketika melihat beberapa orang berbisik-bisik. Dia tahu, hari ini Angkasa Grup tidak memulai dari nol.
"Jika pertimbangannya masalah harga, maka kami sama seperti perusahaan lainnya. Memang kenapa kalau harga penjualan sedikit tinggi?"
Jajaran Hotte Mart sampai mengerutkan dahi. Untung, Gantari segera melanjutkan, "Bukankah ini Hotte Mart? Perusahaan ritel dengan pangsa pasar menengah ke atas? Rasanya wajar, jika harga sedikit lebih bergengsi."
AW!
Gantari melirik sekilas pada Zaskia yang mencondongkan tubuhnya agar bisa berbisik pada Nevan. Kemudian, Gantari tersenyum lagi dan menunjuk screen proyektor. Diikuti oleh fokus hadirin yang juga ke layar proyektor.
"Harga sengaja tidak kami tekan dari produsen demi kelayakan hasil kerja keras mereka. Dan sebagai gantinya, kami tuntut kualitas barang mereka."
Beberapa orang tampak terperangah, lalu mengangguk. Sedangkan, Angkasa sedari tadi tidak pernah memalingkan tatapannya pada Gantari.
"Strategi lain yang dapat kami berikan adalah melakukan promo akhir pekan. Promo selalu berhasil menarik perhatian dari tidak ingin menjadi ingin. Dan promo akhir pekan inilah yang menjadi kesempatan yang akan diserbu olah kalangan menengah ke bawah. Demikian dari Angkasa Grup."
Tepuk tangan kembali bergemuruh dan Gantari melirik Nevan lagi yang juga masih fokus mendengarkan bisikan si Zaskia-Zaskia itu.
Bahkan, presentasi dari dua vendor lainnya tidak lagi berhasil Gantari dengar.
***
__ADS_1
"Gantari!"
Astaga, Fikri. Dia bahkan mengikuti Gantari ke toilet dan menunggunya di depan pintu.
"Hai, Fikri! Apa kabar?"
Fikri mengibaskan cepat tangannya. "Bukan. Bukan itu. Kamu ngapain sama Angkasa?" ucap Fikri hampir berbisik.
"Aku kerja di Angkasa Grup," balas Gantari kalem.
"Kamu nggak tau dia siapa? Kejadian di Semarang ...."
"Aku tau," sela Gantari.
Fikri merasa lututnya lemas. Tidak menyangka teman kesukaannya itu sekarang berada di pihak lawan.
"Ngapain berdiri di depan toilet perempuan?" Nevan muncul dan berhasil membuat Fikri terlonjak kaget. Dia kita si Angkasa gila.
"Ini, Gantari ...."
"Fikri?"
"Iya?"
"Menjauh sedikit. Aku mau bicara dengan Gantari," ucap Nevan tanpa menoleh pada Fikri. Dia hanya menatap Gantari lekat.
Fikri menghela napasnya berat. Dia takut Gantari akan dihabisi oleh si Bos.
"Jangan terlalu keras dengannya, ya," bisik Fikri, membuat Nevan mendelik tajam padanya.
Akhirnya, Fikri pelan-pelan berbalik dan pergi meninggalkan mereka dengan langkah gontai.
"Presentasimu keren," ucap Nevan setelah Fikri tidak lagi terlihat.
Gantari hanya membalasnya dengan tatapan datar. "Nggak usah basa-basi."
Nevan mengangkat sebelah alisnya. Sepertinya kemarin hubungan mereka baik-baik saja.
"Kamu marah?"
"Selama kamu presentasi, aku dengerin sampai habis. Giliran aku, kamu malah main gigit-gigitan telinga sama orang."
Nevan makin tidak mengerti.
Kapan dia gigit telinga?
Belum usai kebingungannya, Gantari sudah melangkah pergi.
"Dihyan!"
Gantari menoleh dengan tatapan tajam.
"Jaga sikap anda, Pak Nevan."
Ah! Sial.
__ADS_1
Gantari cemburu adalah hal yang paling menakutkan.