Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Enam Puluh Satu


__ADS_3

Cinta terhadap Tuhan saja ada kalanya naik turun, apalagi cinta pada manusia.


***


Angkasa kembali ke kantor dengan tampang kusut. Seharian dia tertahan di kantor polisi hanya karena melanggar lampu lalu lintas dan sedikit insiden kekacauan yang ia timbulkan di halaman Rumah Sakit.


"Terimakasih untuk bantuanmu," ucap Angkasa pada Leo, sebelum masuk ke dalam mobil.


"Bukan apa-apa, Pak Ang," balas Leo ketika sudah duduk di depan kemudi.


Ya, Leo memang yang kalang kabut mengubungi pengacara untuk secepatnya menangani kasus Angkasa setelah mendapat kabar dari bos beaarnya tersebut.


Lagi pula Leo memang selalu senang memiliki kesempatan untuk menolong Angkasa. Sungguh, dia begitu tulus.


"Pertemuan hari ini sudah saya tunda, lebih baik Pak Ang pulang istirahat."


Angkasa diam, tidak menjawab. Dia hanya memperhatikan kendaraan-kendaraan di depan sana yang melaju pelan, semakin pelan dan akhirnya berhenti karena lampu merah.


Dan, pada akhirnya mobil yang di dalamnya membawa serta Angkasa meluncur dan terparkir di Angkasa Grup juga.


Angkasa menolak pulang dan Leo tidak berani membantah, jika Angkasa sudah bertitah. Ya, sudahlah.


Angkasa berjalan menyusuri koridor dengan Leo yang setia mengekor di belakangnya. Berbeda dengan para atasan lain, jika Angkasa lewat tidak ada karyawan yang berani menyapa, selain hanya menundukkan kepala saja.


Angkasa terus berjalan menuju ruangannya dengan rahang yang masih saja mengeras. Shanessa yang hari ini menggantikan posisi Leo sebagai penghuni meja sekretaris sontak berdiri dan menyambut Angkasa dengan sopan sebagai standar operasional pegawai yang baik dan benar.


Hanya Leo yang membalas sapaan ramah Shanessa dengan senyuman dan kepala menggangguk. Sedangkan, Angkasa entah menyadari keberadaan wanita itu entah tidak.


"Kamu?"


Angkasa yang sudah memegang handel pintu akhirnya menoleh pada gadis yang sepertinya memiliki suasana hati yang tidak kalah buruk.


Shanessa yang merasa mendapat respons baik dari Angkasa tadi pagi mencoba kembali ramah.


"Selamat siang, Pak."


"Saya tidak ingin melihatmu lagi besok."


Wajah ramah Shanessa langsung berubah pias, begitu juga dengan Leo yang sama kagetnya. Dipecat dihari pertama kerja, bukanlah suatu hal yang menyenangkan, kawan.


Leo tahu benar itu. Namun, kali ini dia belum berani menyela karena tahu betul suasana hati Angkasa masih kepalang berantakan.


Jadi, yang bisa Leo lakukan hanya memberi isyarat pada Shanessa agar tetap tenang dengan gerakan bibir tanpa suara. Kemudian, ikut masuk mengikuti Angkasa ke dalam ruangannya.


***


Setelah membuat kehebohan di Rawikara Retail dengan insiden kopi dan ucapan enteng Nevan, kini Gantari pulang ke rumah.


"Kamu itu ...." Gantari tidak bisa melanjutkan kalimatnya lantaran terlalu geram. Sedangkan, si pemuda hanya menatap Gantari tanpa rasa bersalah, lantas mengusap kepala Gantari gemas.


"Aku mau pulang aja."


"Yaudah, aku antar."


"Nggak usah. Aku pulang sendiri aja."


"Tukan kamu marah lagi."


"Enggak, sayang. Enggak marah."


"Yaudah, aku antar."

__ADS_1


Gantari menghela napasnya pelan. "Aku pulang sendirian aja, ya. Kan kamu ada pertemuan "


Nevan tampak menimbang. "Kamu tunggu 30 menit, ya. Meeting-nya sebentar, kok. Nanti aku antar."


Astaga.


Dasar Nevan tidak peka. Mana nyaman Gantari berdiam diri di sana, sementara gosip dan tagihan klarifikasi sudah mendesak layaknya selebriti.


"Aku naik taksi aja, ya. Kalau udah sampai pasti aku kabari. Janji."


"Lima belas menit?"


"Yaudah, 30 menit aja."


Gantari kenal betul dengan kenekatan Nevan. Pertemuan lima menit yang dimaksud Nevan sudah terbayang di pikirannya.


Akhirnya, di sinilah mereka. Di dalam mobil tepat di depan gang kediaman Gantari.


"Aku langsung balik lagi, ya. Kalau ada apa-apa langsung telepon. Jangan sembarang buka pintu, intip dulu," cerocos Nevan panjang lebar.


"Iya, Mama, iya."


Nevan melotot, lalu menarik Gantari dalam pelukannya. Menghirup dalam aroma sampo yang menguar dari rambut Gantari. "Kok aku kangen, ya."


Karena tidak ada jawaban, Nevan mengendurkan pelukan. "Emang selalu aku terus ya yang ngebucin," sungutnya.


Gantari terkekeh. "Yaudah. Aku pulang, ya."


Nevan mendengkus sebal, karena lagi-lagi tidak ditanggapi. Namun, akhirnya dia kembali melanjutkan amanat, "Nanti aku telepon Anwar biar bisa bantu jagain kamu selagi nggak ada aku."


Gantari yang sudah mau membuka pintu, memutar tubuhnya lagi. "Lah, udah damai sama Anwar?" godanya.


"Sementara," jawab Nevan malas, lantas memalingkan wajah.


Gimana cara ngambil motor kesayangannya itu, coba?


"Eh?"


Langkah kaki Gantari sontak terhenti ketika mendapati seorang pemuda sedang berdiri di teras rumah sembari menatap kearahnya dengan senyum merekah.


Seorang pemuda yang selalu menatapnya dengan tatapan hangat. Seorang pemuda yang selalu bersikap baik dan memperlakukan dirinya dengan begitu baik pula. Seorang pemuda yang ia kenal dengan nama ....


"Farez?"


"Hai, Dihyan."


Dan, tatapan hangat itu kembali Gantari dapatkan meski nyatanya hati pemuda itu pernah Gantari patahkan.


"Senang bisa melihat kamu lagi," sambut Farez ketika Gantari berjalan mendekat kearahnya.


"Kamu ... Apa kabar?" Gantari masih belum bisa menyingkirkan keterkejutannya. Semenjak ia memutuskan untuk kembali pada Nevan, hubungan pertemanannya dengan Farez memang terputus begitu saja. Meski Gantari beberapa kali mengirim pesan pada Farez sekadar menanyakan kabar, namun dokter muda itu tidak pernah membalasnya.


"Masih berusaha untuk baik-baik aja."


Deg!


"Nggak semudah itu melupakan. Jadi, maaf kalau aku terkesan menghindar."


Gantari tertegun. Sungguh, dia tidak tahu harus menjawab apa. Pemuda di depannya ini begitu jujur.


"Tapi aku datang ke sini bukan untuk membahas masalah hati, kok." Farez terkekeh, lalu melanjutkan, "Ada yang mau aku bicarakan sama kamu."

__ADS_1


"Angkasa?" tebak Gantari dan Farez mengangguk. Wajahnya mulai serius.


Karena Gantari baru pulang dan tidak ada yang bisa disuguhi, akhirnya mereka memutuskan untuk bicara di kafe terdekat saja.


Kumau Dia dari Andmesh yang dicover begitu apik, membuat suasana kafe yang harusnya syahdu justru terasa semakin canggung bagi Gantari dan Farez.


Salah pilih tempat ngobrol mereka sepertinya.


"Aku sudah dengar masalah yang Angkasa perbuat padamu tadi pagi," mulai Farez tak enak hati.


Hatinya makin tidak enak, kelika lirik lagu begitu mengusik fokusnya pada topik pembicaraan.


Tak main-main hatiku


Apa pun rintangannya kuingin bersama dia


"Jadi, maksud kedatanganku, mau ..."


Kumau dia, tak mau yang lain


Hanya dia yang s'lalu ada kala susah dan senangku


Farez menggeleng. Lirik lagu benar-benar membuat kalimatnya jadi tersendat-sendat.


Fokus, Farez. Fokus!


"Sebagai saudaranya, aku merasa malu dan mau ..."


Kumau dia, walau banyak perbedaan


Kuingin dia bahagia hanyalah denganku


"Bukan. Bukan mau itu maksudku."


Bukan ku memaksa, oh, Tuhan


Tapi kucinta dia.


Arghhhh. Farez mengacak rambutnya. Ia jadi frustasi sendiri.


💋💋💋


Jika : Lihat kagak Bang, lihat kagak? Aku Up lagi, nih.


Bang Nevan : Heleh, Jika. Paling hari ini doang. Besok kambuh lagi malesnya.


Jika : Astaga! Bang Nevan kok jahat, sih? 🤧


Bang Nevan : Bodo. Itu kenapa si Farez muncul lagi, tuh?


Jika : Sengaja. Mau Jika nikahin sama Gantari.


Bang Nevan : Eh, Jika. Abang punya poin banyak, nih. Nanti Abang kasih kamu, ya.


Jika : Kagak deh, kagak. Jika udah terlanjur kit ati.


Bang Nevan : Koin deh, koin.


Jika : Kagak, Bang. Kalau nomer rekening Jika punya, nih. Itu juga kalau mau, sih.


Bang Nevan : Berantem, yok?

__ADS_1



__ADS_2