Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
S2: Insiden


__ADS_3

Gantari sudah mengantongi izin dari dokter kandungan dan sekarang dia sedang menikmati pemandangan awan-awan yang bergelantungan di langit pagi. Seperti yang sudah Nevan bilang, dia benar-benar tidak membawa Fikri, melainkan mengajak Utami.


"Kalau mual bilang, ya," ucap Nevan tiba-tiba dan berhasil membuat Gantari menoleh padanya.


"Aku nggak mabuk udara."


"Kali aja morning sickness," goda Nevan yang langsung disikut oleh Gantari, hingga Nevan terbahak.


Diam-diam Utami memperhatikan. Dia ikut bahagia, tapi tetap ada secuil hatinya yang iri melihat itu semua. Bagaimana pun juga Nevan pernah menjadi cinta terpendamnya.


"Katanya Bu Wilona ikut juga, ya? Mana dia?"


Nevan mengangguk, lalu memperbaiki posisi duduknya. "Udah duluan. Dia ada urusan juga di Malang."


Gantari tidak bertanya lagi, setelah membentuk huruf O di mulutnya tanpa suara. Ia mulai mengatur posisi tubuhnya bersiap tidur. Belakangan, Gantari memang mudah sekali tertidur.


"Nanti kalau udah sampai aku bangunin," bisik Nevan sembari mengelus singkat puncak kepalan Gantari.


...****************...


Pertemuan kali ini bukan di hotel atau restoran seperti biasa, melainkan mereka dijamu langsung di rumah sang relasi. Sebagai salah satu orang yang menyandang gelar crazy rich Surabaya, rumah Tom Wafila memang benar-benar mewah.

__ADS_1


Pengusaha konveksi itu juga menyambut kedatangan mereka dengan begitu ramah. Bahkan, ia juga sempat-sempatnya memuji kecantikan Gantari, hingga membuat Gantari salah tingkah. Namun, tenang saja. Tom sudah memiliki seorang istri dan mereka disebut-sebut sangat harmonis.


Wilona sampai lebih dulu dan rupanya dia membawa serta anaknya dan seorang baby sitter. Wajar saja, Wilona seorang single mother dan pergi lama-lama begini tentu dia akan mengajak anaknya.


"Namanya siapa?" tanya Gantari pada bocah berusia 5 tahunan itu. Dia memang pamit keluar rumah, ketika yang lainnya sudah mulai fokus membicarakan bisnis.


"William," jawab bocah itu lucu.


"Oh, William. Kalau nama Tante, Gantari."


William hanya memandang Gantari sebentar, lantas mulai kembali berlari. Anak itu aktif sekali. Sampai-sampai sang pengasuh tampak kewalahan.


Rumah Tom Wafila memiliki taman yang asri, sehingga Gantari asik sekali melihat-lihat jenis tanaman di sana. Sebenarnya, dia juga punya konsep taman untuk rumahnya bersama Nevan. Namun, belum sempat terealisasikan.


Gantari menoleh dan mendadak keadaan terasa sepi sekali. Tiba-tiba dia teringat pada William. Apa anak itu sudah masuk ke dalam bersama pengasuhnya?


Gantari berjalan, melangkah di atas rerumputan hijau. Ia juga hendak masuk ke rumah lagi. Sudah cukup rasanya menghirup udara segar. Namun, pandangannya teralihkan pada pagar tinggi rumah di seberang kediaman Tom.


Seketika matanya melebar. Bukan karena pagar tingginya, tapi karena di pagar tinggi itu ada seorang anak yang memanjat nyaris sampai ke puncak.


William!

__ADS_1


Gantari panik. Ia berlari ke luar pagar rumah Tom, lalu celingak-celinguk mencari bantuan. Kemana pengasuhnya tadi? Kemana satpam di sini?


Gantari berteriak meminta pertolongan, tapi tetap tidak ada yang datang. Ia tidak sempat berteriak lagi karena seekor anjing jenis pitbull muncul dari balik pagar dan menatap William waspada.


Sekarang, Gantari tidak bisa memikirkan apapun, selain berlari ke sana, ke arah William. Menyebarangi jalan perumahan yang hampir selalu sepi.


"Will, ayo turun!"


Anak laki-laki berambut keriting itu menoleh, memandang Gantari dari atas. Tangannya mencengkram erat besi pagar.


"Ayo, Will turun!" ulang Gantari mencoba tenang. Namun, ketenangannya tidak bisa lagi dipertahankan karena pitbull itu mulai memperdengarkan suara geraman.


William tak lagi melihat ke arah Gantari. Bahkan, kaki kecilnya kini mulai menggapai ke tahap yang lebih tinggi.


"Ya Allah, Will!" Pikiran Gantari kacau. Dia panik. Tanpa pikir panjang lagi, Gantari memanjat pagar tersebut. Selangkah demi selangkah, hingga tangannya susah payah berhasil menggapai tubuh William.


Gantari kira semua sudah aman. Namuh, William justru berteriak, hingga pitbull mulai menyalak marah. Seorang security lari dari arah belakang rumah. Tangannya membawa wadah makanan anjing.


Pitbull itu menoleh pada sang security, tapi anehnya salakannya makin keras. Bahkan, Pitbull itu mulai menumpukan kakinya ke pagar, mencoba memanjat.


William menangis dan meronta-ronta hingga, Gantari memaksa memeluknya. Namun, tubuh Gantari mulai hilang keseimbangan dan ia terjatuh, terjun dari pagar.

__ADS_1


__ADS_2