Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
S2: Berakhir Bahagia


__ADS_3

Nevan pulang mengendarai mobilnya dengan pelan sekali. Di perjalanannya kali ini ia memang begitu hati-hati akibat ucapan sial*n Fikri.


Warna putih identik dengan apa katanya? Gila!


Nevan tidak tahu saja, di kantor Fikri sedang tertawa keras karena berhasil mengerjai bos tersayang.


Citttttt!


Nevan menginjak pedal rem terlalu kuat bukan lantaran menghindari sesuatu, tapi karena terlalu fokus hati-hati ia sampai melewati rumah sendiri. Fikri sial!


Gantari yang sedang menyiram tanaman di halaman langsung mengintip. Kemudian, keningnya mengernyit begitu saja.


"Kenapa, Mas?" tanya Gantari setelah Nevan masuk ke pekarangan rumah dan keluar dari mobil.


"Kebablasan."


Gantari makin mengerutkan keningnya. Ia mematikan kran penyiraman tanaman, lalu melangkah mendekati Nevan.


"Kok bisa kebablasan? Kamu punya rumah lain, ya?" tanya Gantari sengit.


Belum sempat Nevan melontarkan pembelaan, Gantari sudah melangkah masuk rumah dengan kaki terhentak kasar. Hingga membuat Nevan mengacak rambutnya frustasi.


"Dihyan!"


"Nggak usah manggil-manggil! Sana panggil perempuan yang ada di rumah lain."


"Ya Allah, Dihyan." Nevan terus mencoba mengimbangi langkah Gantari yang terus berjalan cepat menuju kamar. Sedangkan, Bi Murni yang sedang menyapu lantai hanya memandang mereka dengan bingung.


"Dengerin aku dulu." Nevan berhenti di depan Gantari, hingga sang istri mau tidak mau ikut berhenti juga dengan napas tersengal akibat emosi yang rupanya tidak main-main.


"Ini tuh gara-gara kemeja putih. Fikri ngeledekin aku mulu. Kamu, sih ...."


"Aku?" Gantari melebarkan matanya tak terima, lalu melepaskan tangan Nevan dari lengannya. "Jadi sekarang kamu nyalahin aku?"


Laki-laki boleh mudah nangis nggak, sih? Sekarang Nevan benar-benar ingin menangis karena dari tadi salah terus di mata Gantari.


Gantari menatap tajam Nevan yang tidak bisa berkutik, lantas kembali melanjutkan langkah menuju kamar. Disusul oleh suara keras pintu yang dibanting.


"Kamu tidur di luar aja biar nggak diledekin Fikri!"


"Ya Allah."


***

__ADS_1


Nevan mondar-mandir saja dari tadi sekedar memastikan jika pintu kamar tidak terkunci lagi. Namun, nyatanya pintu kamar masih saja terkunci meski ia sudah memeriksanya lima kali.


"Kenapa, Mas?" Pertanyaan Bi Murni membuat Nevan terlonjak kaget. Ia menoleh dan mendapati Bi Murni yang juga ternyata ikut membungkuk ke arah handle pintu.


"Mbak Gantari ngambek?"


"Iya," bisik Nevan. Ia takut Gantari makin mengamuk kalau ia ketahuan mengadu dengan Bi Murni.


"Dobrak aja, Mas. Biar keren."


Nevan menegakkan tubuhnya dan menatap Bi Murni dengan pandangan datar. Sepertinya asisten rumah tangganya ini kebanyakan nonton sinetron.


"Atau pakai kunci candangan."


Nah, yang ini masuk akal. "Bener juga! Mana Bi kunci candangannya?"


"Bentar ya, Bibi tanya Mbak Gantari dulu."


Astagfirullah!


Bi Murni sudah hampir mengetuk pintu, tapi Nevan buru-buru menahannya. Kemudian, menjambak rambutnya sendiri. Untung Bi Murni sudah tua, kalau tidak sudah Nevan cubit pipinya.


"Nggak apa-apa, Bi. Biar aku urus sendiri. Bibi nonton TV aja."


Mendengar ucapan Nevan tersebut membuat Bi Murni langsung menepuk pelan keningnya sendiri. "Mas Al udah mulai. Bibi nonton dulu, ya, Mas."


"Sayang." Nevan menyenderkan tubuhnya ke daun pintu dengan lunglai. Tenaganya sudah terkuras habis akibat mondar-mandir memeriksa handle pintu. "Maafin aku, Dihyan."


Hening, tidak ada jawaban. Sepertinya malam ini ia benar-benar harus tidur di kamar tamu.


"Di mataku kamu nggak pernah salah, Dihyan. Kalau pun kamu salah, tetap aja aku nggak nganggap kamu salah."


Ceklek! Pintu terbuka dan dada Nevan terasa lapang sekali. Setidaknya ada titik terang di sini.


"Jangan marah lagi. Kalau kamu marah aku jadi bingung," aku Nevan.


"Sekarang hari apa?"


Astaga! Apa sekarang hari ulang tahun Gantari? Bisa mati dia kalau sampai melupakan hari itu.


"22 Desember?" gumam Nevan ragu karena otaknya juga sedang mengingat tanggal lahir Gantari. "Ulang tahun kamu 3 Februari, kan?"


Gantari mengerucutkan bibirnya dan jantung Nevan hampir copot karena terlalu takut Gantari marah lagi.

__ADS_1


"Siapa yang ulang tahun? Aku nggak bisa mikir kalau kamu ngambek sama aku, Dihyan."


Perlahan bibir Gantari melengkung, menciptakan sebuah senyuman geli. Suaminya itu lucu sekali.


"Hari ini hari ibu."


Nevan ber-oh paham, lantas mengangguk-anggukkan kepalanya. "Nanti kita ke rumah mama, ya."


Gantari ikut mengangguk, lalu ia memberi kode dengan telunjuknya agar Nevan mendekat. Meski bingung, namun Nevan menurut saja. Ia membungkuk dan mendekatkan telinganya pada wajah Gantari, mengira Gantari mengajaknya berbisik.


Sebuah kecupan mendarat lembut di pipi Nevan, bersamaan dengan ucapan, "Selamat, Sayang."


Nevan tergelak. Meski ia suka Gantari menciumnya, tapi ucapan itu membuatnya geli.


"Aku bukan ibu-ibu," protes Nevan pura-pura kesal.


"Selamat menjadi calon ayah untuk kedua kalinya, Nevandra Ardiona."


Gantari mengulurkan testpack yang ada di tangannya, lalu menunjukkannya pada Nevan dengan air mata yang sudah merembes.


Nevan masih bingung. Ia menunduk menatap benda yang ada di tangan Gantari itu lama sekali. Terutama memperhatikan dua buah garis berwarna merah yang terpampang cukup jelas di sana.


Air mata Nevan menetes tanpa ia sadari. Jantungnya berdegup kencang dan rasanya bibirnya benar-benar bergetar menahan tangis yang siap meledak.


Nevan menarik Gantari yang lebih dulu menangis ke dalam pelukannya. Ia tidak peduli lagi apa laki-laki boleh menangis atau tidak, yang jelas kini keduanya sama-sama meneteskan air mata penuh syukur. Sama-sama tidak tahu harus berkata dan berbuat apa selain menterjemahkannya melaui air mata.


Mungkin, Nevan dan Gantari memang butuh merasakan pahit dulu untuk tahu caranya menghargai manis. Mungkin Nevan dan Gantari butuh ikhlas dulu untuk bisa mendapatkan kepercayaan lagi.


Mungkin, aku butuh kalian dulu untuk tahu rasanya memiliki keluarga tanpa ikatan darah.


Selamat Hari Ibu dan terima kasih sudah hadir bersamaku di sini. Selamat tinggal, Cinta Tertinggal. Kali ini kisah Nevan dan Gantari benar-benar usai. Biarlah mereka yang menjalani, kita cukup percaya saja jika mereka bisa melaluinya dengan bahagia.


Salam hangat Jika Laudia.


Sampai jumpa di Berondong Kesayangan yang bucinnya karet dua.



atau yang punya Ka-Be-eM boleh nyamperin Bulan yang hidupnya pedih nggak ketulungan.



Kalau mau baca tentang manisnya persaudaraan kakak-adik, kuy baca LONLIN.

__ADS_1



Papay. Lope gede ❤️


__ADS_2