
Gantari baru saja bangun tidur dan melangkah ke luar kamar sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia langsung menuju kamar mandi karena kalau dibiarkan dia bisa kembali terlelap. Meski ini hari libur, tapi salat subuh tidak boleh libur.
Tubuhnya menggigil ketika keluar dari kamar mandi, tumben-tumbenannya udara hari ini begitu sejuk. Mungkin, pengaruh hujan dini hari tadi.
Ia sedikit berlari menuju kamar dan mengenakan pakaiannya dengan cepat, baru kemudian menunaikan salat.
Baru saja selesai, Gantari menoleh ke arah luar kamar karena samar-samar tadi terdengar suara ketukan pintu sepagi ini. Doanya bahkan belum semua ia sampaikan.
Gantari membuka mukenanya, lalu berjalan ke pintu depan dan mengintip di dekat jendela.
"Siapa?" teriaknya.
Ngeri juga, kan, kalau main buka saja. Gini-gini dia wanita.
"Siapa, ya?" ulang Gantari karena tidak mendapatkan jawaban.
Jika sekali lagi masih tidak menjawab, maka Gantari akan kembali ke kamar dan mengunci pintu kamar.
"Ini aku, Dion."
Astaga.
Gantari mengernyit mendengar suara gemetar di balik pintu tersebut. Iseng sekali, ya, subuh-subuh sudah menyatroni rumah orang.
Kemudian, ia memutar anak kunci dan menarik handel pintu dengan malas.
Tara!
Memang benar ada Nevandra Ardiona di sana dengan menggunakan jaket parta berwarna milo lengkap dengan masker yang ditarik ke dagu tengah nyengir padanya.
Yang membuat Gantari tidak habis pikir adalah Nevan datang dengan sekardus mie instan di tanggannya. Membuat Gantari mau tidak mau mengulas senyum geli.
"Oleh-oleh," ucap Nevan manis.
Gantari akhirnya menerima kardus berisi mie instan rasa kari ayam yang disodorkan padanya itu setelah bersusah payah menahan tawa.
"Makasih," balas Gantari sembari tersenyum.
Nevan balas tersenyum. "Mau jalan-jalan sebentar?"
"Kemana?" suara Gantari ikut terdengar bergetar karena udara dingin mulai merambat dikulitnya. Ditambah lagi mereka berdiri di ambang pintu begini.
Nevan menoleh dan meraih tote bag yang ia letakkan di atas kursi teras, lalu meletakkannya di atas kardus mie instan yang ada dipelukan Gantari.
__ADS_1
"Cepat. Aku tunggu di luar."
Meski tidak mengerti, namun Gantari menurut juga. Dia memang mudah jinak kalau disogok dengan makanan. Maka, dia meletakkan kardus mie instan ke atas meja makan dan membuka tote bag berwarna hitam pemberian Nevan tadi.
Seketika Gantari menyemburkan tawa geli. Rupanya tote bag itu berisi jaket parta berwana persis sama dengan yang dikenakan Nevan tadi.
Jaket couple? Heol!
Meski begitu Gantari tetap memakainya. Hatinya bahkan ikut menghangat ketika memakai jaket pemberian Nevan tersebut. Efek bahagia, mungkin, ya. Cie.
Akhirnya mereka berjalan bersisian bersama. Ternyata jalan-jalan yang dimaksud Nevan, ya benar-benar jalan, tapi Gantari suka. Dia lebih suka begini.
Cahaya matahari masih tampak menguning si kaki langit, menimbulkan kesan damai dan menenangkan. Nevan menengadahkan kepalanya dan menghirup dalam udara sejuk pagi ini. Kemudian, diraihnya tangan Gantari dan menautkan erat jemari mereka tanpa menoleh, lalu kembali jalan bersama dalam diam.
Sebuah mobil sedan silver perlahan berhenti dan terparkir di seberang gang. Di dalamnya ada Angkasa yang menatap mereka dengan rahang mengeras.
"Aku beli minum dulu, ya. Kamu tunggu di sini," ucap Nevan ketika melewati AprilMaret, lalu ia berjalan cepat memasuki minimarket itu setelah mendapat anggukan setuju dari Gantari.
Nevan mengambil dua botol air mineral berukuran sedang dan langsung membawanya ke kasir.
"Alhamdulillah, pagi-pagi udah cuci mata."
Mendengar bisik-bisik si kasir dengan teman sejawatnya membuat Nevan mendelik tajam.
"Kenapa beli dua? Kan bisa satu berdua," goda Gantari ketika Nevan menyerahkan satu buah botol air mineral padanya.
Nevan yang baru saja meneguk air minumnya melotot. "Dihyan, jangan bercanda."
Gantari terkikik, lalu mengambil botol minum milik Nevan dan langsung meminumnya. Kemudian, dengan santai ia kembali melanjutkan langkah.
Nevan menggeram frustasi melihatnya, bagaimana kalau sampai dia khilaf.
Sebuah mobil Mazda berwarna merah melewati Nevan dan Gantari, namun kemudian berhenti. Tak lama, seorang perempuan dengan dress pendek berwarna merah keluar dari sana. Sepertinya dia habis menikmati dunia malam.
Gantari bahkan tidak bisa membedakan mereka, kalau saja di wanita itu berdiri di dekat mobil. Mereka seperti menyatu. Untung saja, rambut si wanita panjang dan hitam.
Ngomong-ngomong, raut wajah Gantari berubah kecut ketika menyadari siapa wanita bunglon itu, Zaskia.
Zaskia berjalan dengan ketukan heels yang menggema seperti biasa. Dia berjalan melewati Gantari tanpa menoleh dan langsung mendekati Nevan dengan senyum terkembang.
__ADS_1
"Wah! Pak Nevan," sapanya. "Dunia ini sempit, ya," lanjutnya kemudian.
Nevan yang masih belum sadarkan diri makin bingung dibuatnya.
Kenapa si hantu wanita ada di sini?
"Bapak lagi jalan-jalan pagi, ya? Pantes badan Bapak bagus."
Gleg!
Nevan meneguk ludahnya berat karena Gantari sudah hampir membolongi kepalanya dengan tatapan laser miliknya.
"Kamu baru lihat luarnya, kan?" ucap Gantari mendekat.
Zaskia menoleh. Ia seperti baru sadar jika masih ada sosok manusia lain, selain dirinya dan Pak Nevan tercinta.
"Maksud anda?" Zaskia mengernyitkan kening, lalu seperti tersadar lagi. "Ah! Anda Gantari dari Angkasa Grup, kan?"
Gantari mengangguk. "Dan, pacar Bapak Nevan," ucapnya tajam.
Nevan membeliakkan matanya. Dadanya makin berdesir saja. Ia menatap Gantari kagum, lalu tersenyum senang.
Sedangkan, Zaskia yang mendengarnya langsung tertawa hambar. Ia seperti sedang mendengarkan lelucon basi.
"Jangan bercanda, Nona."
"Rambut dia bagus. Boleh aku jambak, sayang?" Gantari menoleh pada Nevan dan dengan lugunya Nevan mengangguk setuju.
Zaskia melebarkan matanya. Ia melangkah mundur, lalu memegang rambutnya sendiri ketakutan. Kemudian, membalikkan badannya cepat dan dengan tergesa melangkah memasuki mobil.
Nevan yang melihat ekspresi Zaskia tersebut langsung meledakkan tawa. Dia bahkan memegangi perut saking gelinya. Namun, tawanya berangsur memudar ketika Gantari menoleh dan menatapnya tajam.
"Apa?" tanya Nevan bingung.
Gantari tidak menjawab. Dia justru melangkah cepat meninggalkan Nevan.
"Pacar, tunggu!"
Sial!
Gantari mengutuki dirinya sendiri. Ia terus melangkah menjauh secepat yang ia bisa.
Nevan terkekeh, lalu berlari mengejar Gantari yang semakin mempercepat langkah kakinya dan merangkul erat pundak pacarnya. Uhuk, lagi.
__ADS_1