
Insiden kemarin mengakibatkan Nevan dan Gantari terpaksa menunda kabar bahagia mereka. Apa lagi setelah pulang dari luar kota, rupanya pekerjaan Nevan semakin padat saja.
Mengabarkan via telepon juga rasanya terkesan kurang ajar. Jadi, biarlah untuk sementara kabar itu menjadi rahasia.
Beruntung, hari ini Nevan tidak lembur seperti kemarin. Jadi, dia bisa pulang lebih awal sekalian menjemput mobilnya di bengkel. "Kita ke rumah kakek sekarang, yuk! Sekalian makan malam di luar."
Gantari yang sedang memasukkan pakaian yang sudah ia seterika sendiri, langsung menoleh. "Kamu nggak capek?"
"Selagi sempat. Soalnya besok bakalan lebih sibuk lagi." Nevan menghela napasnya pelan. "Beberapa hari lagi kemungkinan aku juga keluar kota."
Gantari menutup pintu lemari, lalu memutar tubuhnya menghadap Nevan yang sedang duduk di tepi ranjang. Suaminya itu baru saja pulang. Bahkan, pakaiannya saja belum sempat ia ganti.
"Keluar kota lagi?"
Nevan tersenyum kecil, lalu meraih tangan Gantari dan menariknya agar duduk di sampingnya. "Iya. Nggak apa-apa, kan?"
Gantari tidak langsung menjawab. Gimana bisa nggak apa-apa?
"Kapan?"
"Bisa lima hari lagi. Bisa seminggu lagi. Nunggu urusan di sini beres dulu."
"Nginap?"
Nevan mengerling, lalu tersenyum lagi. Tumben sekali istrinya cerewet begini.
"Iya, nginap. Soalnya ke Surabaya."
Gantari langsung mengerucutkan bibirnya. "Berapa hari?"
"Dua harian."
Mendengar jawaban Nevan tersebut, air mata Gantari menetes begitu saja, hingga membuat sang suami gelagapan. Nevan memutar tubuh sepenuhnya menghadap Gantari, lantas menghapus jejak air mata di pipinya. "Kok malah nangis?"
__ADS_1
"Ditinggal. Gimana nggak nangis?" jawab Gantari dengan air mata kian deras.
"Cuma dua hari, Sayang."
Gantari menggelengkan kepalanya. "Nggak mau. Dua hari juga nggak mau."
Nevan tergelak. Lagi-lagi ia menghapus air mata di pipi Gantari dengan jempolnya. "Terus mau ikut?"
Kali ini Gantari tidak menjawab, tapi mengangguk kuat, hingga membuat Nevan terkekeh.
"Ya, udah mandi sana. Siap-siap kerumah kakek."
...****************...
Akhirnya Nevan dan Gantari tiba juga di kediaman keluarga Ardiwinata, setelah tadi mampir ke toko roti untuk sekadar membeli buah tangan. Berkunjung ke rumah orang tua dengan tangan kosong, rasanya kurang etis.
Mata Gantari terbelalak ketika melihat Shanessa keluar dari sebuah mobil dengan dibopong oleh seorang laki-laki. Ia langsung membuka pintu dan keluar dari mobil dengan cepat tanpa pamit pada Nevan, hingga membuat Nevan yang sedang membuka sabuk pengaman celingukan.
"Terkilir," ringis Shanessa dengan sebelah kaki yang menggantung. "Tapi udah dibawa ke dokter, kok."
Gantari celingukan. Dia ingin mencari pertolongan untuk membantu Shanessa, tapi tidak ada orang. Hanya ada Nevan yang sedang berdiri di dekat mobil dengan tangan menenteng plastik berisi roti. Tidak mungkin kan dia meminta Nevan membatu Shanessa masuk ke rumah? Mantan, guys.
Akhirnya rela tidak rela, Gantari mengizinkan Angkasa menyentuh Shanessa. Ia berjalan di belakang dan mengikuti Shanessa, hingga ke kamar.
"Bukannya hari ini kamu kerja?" cecar Gantari ketika Shanessa sudah berhasil duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Iya, kerja."
"Kok bisa ada kecelakaan kerja begini?" hardik Gantari. Matanya melirik tajam pada Angkasa yang tumben-tumbenya jadi pendiam.
"Gue lagi yang salah," gumam Angkasa setelah menyadari tatapan Gantari yang siap membunuh.
Shanessa yang menyadari itu langsung terkekeh. "Bukan. Bukan salah Pak Angkasa. Aku yang ceroboh."
__ADS_1
"Kamu disuruh ngapain? Manjat meja?"
Angkasa melongo. Ia melempar tatapannya pada Gantari, hendak protes. Namun, tidak lama karena degup jantungnya masih saja tidak karuan jika berhadapan dengan wanita satu itu. Jadi, dia melengoskan pandangannya lagi ke arah lain.
"Enggak. Aku jatuh sendiri waktu jalan," jelas Shanessa.
"Tuh, denger," celetuk Angkasa tanpa berani menatap Gantari.
"Nggak ada alasan yang lebih masuk akal lagi? Didorong, mungkin?" sindir Gantari. Entah kenapa sisi emosionalnya jadi berkali lipat kalau berhubungan dengan mantan atasannya itu.
"Beneran enggak, Tar." Shanessa tampak menimbang sejenak, lalu menggigit bibir bawahnya malu-malu. "Aku emang sering grogi kalau dekat-dekat Pak Angkasa."
"Hah?" Gantari ternganga. Namun, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Gantari memang tahu Shanessa punya ketertarikan dengan Angkasa, tapi dia tidak menyangka jika rasanya sedalam itu.
Terdengar suara kikikan pelan dan semakin lama kikikan itu berubah menjadi ledakan tawa puas. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Angkasa.
"Dengar nggak? Pesonaku itu emang luar biasa," ucap Angkasa di sela tawanya, membuat Gantari tidak tahan untuk tidak mendengkus.
"Kamu tumben ke sini sore-sore?" Shanessa mengambil alih pembicaraan, sebelum Gantari meledak karena ulah Angkasa.
Mendengar pertanyaan Shanessa tersebut, membuat wajah Gantari berubah merah. Ia baru ingat dengan alasan kedatangannya. Kemudian, dengan malu-malu ia menjawab, "Aku ... hamil."
Uhuk!
Angkasa terbatuk-batuk keras. Kabar yang disampaikan Gantari benar-benar berhasil membuat jantungnya lupa memompa beberapa detik.
"Yang bener aja?!"
"Emang kenapa?"
Deg!
Pertanyaan itu bukan dari Gantari, tapi dari Nevandra Ardiona, suami Gantari Dihyan Irawan.
__ADS_1