Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Sembilan Puluh Tujuh


__ADS_3

"Pa, kayaknya papa udah nyakitin hati mama, deh." Nevan masih memperhatikan Tiwi yang berjalan menjauh dengan raut khawatir. Selama ini ia sering melihatnya ibunya itu marah, merajuk, dan menangis, tapi untuk ekspresi tadi, Nevan baru melihatnya kali ini.


"Emang benar, kan?" balas Fauzan enteng. "Dari dulu sampai sekarang cuma ada Awan di hatinya."


Nevan menoleh. Ia baru menyadari sesuatu. Tidak hanya Tiwi yang terluka, tapi Fauzan juga. Nevan bisa merasakan nada getir dari pernyataan Fauzan barusan.


Seingatnya, tidak, Nevan bahkan tidak ingat kapan hubungan kedua orang tuanya ini normal. Mereka lebih sering saling menyindir, lebih sering saling menyalahkan.


Setiap kali Nevan membuat masalah, mereka akan mulai saling memojokkan. Mereka selalu berada di pihak yang berbeda. Jika Nevan dekat dengan sang ibu, maka sang ayah yang menjauh, begitu pula sebaliknya.


"Papa udah nanya langsung sama mama?"


Laki-laki berahang tegas itu menoleh. "Buat apa? Buat nyakitin hati sendiri?"


"Emang sekarang papa lagi nggak sakit hati?"


Fauzan mendengkus, lantas tertawa hambar tanpa jawaban.


"Hati wanita tidak ada yang bisa menebaknya, Pa. Satu-satunya cara cuma menanyakan langsung pada pemiliknya."


"Eh! Master cinta. Haruskah aku berguru padamu?" cibir Fauzan.


"Kayaknya emang begitu. Soal bisnis Papa memang senior, tapi soal cinta kayaknya papa masih newbie."


Plak!

__ADS_1


Fauzan menepuk jidat Nevan gemas. Meski, pelan baginya, namun Nevan tetap meringis juga.


"Buruan kejar mama. Kalau dibiarin jarak kalian malah makin lebar."


"Astaghfirullah, anak ini!" Fauzan sudah bersiap untuk mengulang aksinya, namun Nevan keburu menghindar.


"Ekspresi mama tadi, ekspresi patah hati dan papa penyebabnya," cetus Nevan, lantas ngeluyur pergi menuju ke arah Gantari.


Fauzan tercenung. Nevan benar. Mungkin jarak antara dirinya dan sang istri semakin lebar karena terlalu lama dibiarkan tanpa kepastian. Tetapi, apa Fauzan sanggup mendengar kemungkinan terburuk dari jawaban Tiwi nanti?


Adelia Pertiwi adalah cinta pertamanya. Cinta pertama yang tidak ia miliki hatinya, meski sudah berjuang cukup lama. Dulu, Fauzan begitu optimis akan mendapatkan hati Tiwi, tapi kini rasa percaya diri itu sudah berubah menjadi rendah diri.


Tanpa sadar Fauzan sudah berada di depan pintu kamar mereka. Perlahan ia membuka pintu setelah menguatkan hatinya terlebih dahulu dan mendapati Tiwi sedang duduk di ranjang, membelakanginya.


"Nevan bilang, aku keterlaluan. Maaf, untuk yang tadi," mulai Fauzan, lantas ia menggaruk alis tebalnya dengan telunjuk, kikuk.


"Kalau kamu tersiksa bersamaku, lebih baik kita ...."


Astaghfirullah. Ini yang ditakutkan Fauzan, hingga rasanya seluruh tubuhnya gemetar. Beruntung Tiwi tidak melanjutkan ucapannya dan kembali terjebak dalam isak tangis.


Fauzan mendekat, lalu duduk dengan hati-hati di depan Tiwi. Hatinya mencelos ketika melihat wajah Tiwi basah oleh air mata.


"Nevan bilang, aku harus menanyakan ini. Apa ... Awan sampai sekarang masih ada di hatimu?"


Tiwi mendongak dan Fauzan merasakan hatinya semakin di remas. Ia bisa dengan jelas melihat luka di sorot mata istrinya itu.

__ADS_1


"Itu menurut Nevan. Bagaimana denganmu sendiri? Apa kamu mau tau?"


Fauzan tidak menjawab. Ia justru mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tiwi merasakan hatinya sakit. Ia selalu merasa begitu berdosa setiap kali melihat ekspresi Fauzan yang begini.


Dulu, pria di hadapannya ini selalu memperlakukannya dengan begitu baik. Dulu, Fauzan selalu mengucapkan kata cinta penuh puja padanya. Dulu, kehangatan selalu Fauzan berikan. Namun, rupanya semua ada batasnya dan ketika Tiwi mulai merasakan hatinya tersentuh, Fauzan justru memutuskan untuk menyerah.


"Kamu ingat ketika Nevan lahir?"


Fauzan menoleh dan kembali menatap Tiwi.


"Ketika pertama kali aku melihat putra kita, Nevan, aku mulai bersyukur memilikimu." Tiwi diam sejenak, ia menutup mulutnya sendiri agar tangis tak lagi pecah. Kemudian, melanjutkannya, "Ketika melihatmu melantunkan azan untuk putra kita, Nevan, aku mulai mengharapkanmu, tapi ... Setelah Nevan lahir, kamu justru tidak pernah menatapku lagi."


Tangis Tiwi akhirnya pecah lagi. Dadanya terasa begitu sesak. Ia benar-benar merasakannya langitnya telah runtuh. Namun, seseorang menariknya dalam pelukan, membuat hatinya seketika dijalari rasa hangat, tapi lucunya air matanya justru makin deras mengalir. Pelukan yang selama ini ia butuhkan. Pelukan yang selama ini ia rindukan. Pelukan Fauzan.


"Ini bukan kata Nevan," ucap Fauzan serius. "Aku tidak pernah berhenti, Tiwi. Tidak pernah. Hanya caranya saja yang berbeda, tapi cinta itu tetap ada dan tetap sama."


***


Jika : Cie master cinta. Bucin, dong?


Bang Nevan : Kalau aku bucinnya cuma sama satu orang, Jika. Nggak kayak kamu. Abang kamu ada berapa coba aku tanya? Abang sana, Abang sini, Abang itu, Abang ini.


Jika : Hah! Ini Bang Nevan lagi cemburu, ya?


Bang Nevan : Dih!

__ADS_1


Jika : Cie ketahuan. Mau jadi satu-satunya buat aku? Sini coba bilang.


Bang Nevan : -_-


__ADS_2