Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Lima Puluh Tiga


__ADS_3

Seorang pemuda dengan rambut sedikit basah yang sepertinya baru saja selesai mandi sedang berusaha memutar anak kunci yang macet. Sesekali ia mengintip lubang kunci dengan wajah bantalnya.


"Maaf, ya. Kakak jadi ngeropin," ujar Gantari sungkan.


Anwar yang tadi sedikit membungkuk, kini meluruskan badannya. Tegap menjulang. Pertumbuhan anak sekarang memang luar biasa.


"Nggak apa-apa, Kak. Hari ini aku juga libur, kok," balasnya sembari melempar senyum hangat.


Pantas saja, putra semata wayang Bu Fatma itu hari ini hanya memakai kaos oblong berwarna hitam, tidak memakai seragam kerja seperti biasa.


"Nanti, deh, Kakak minta tolong Pak Sarif buat benerin."


Sebenarnya, Gantari tak enak hati. Meski mantan sopirnya itu selalu bilang kabari saja kalau perlu bantuan, tapi rasanya kurang nyaman juga.


"Kalau cuma ganti handle pintu doang, aku juga bisa kali, Kak," kelakar Anwar. Pemuda beralis tebal itu kembali tersenyum. Dia memang murah senyum seperti ibunya.


"Beneran, nih?"


Anwar mengangguk yakin. "Iya, nanti Kak Dee pulang kerja semua udah beres."


Gantari terkekeh, lantas mulai mengaduk tasnya untuk mencari dompet.


"Udah pakai uang aku aja. Kayak sama siapa aja sih, Kak."


Gantari mendongak dengan sebuah dompet berwarna army yang sudah berada dalam genggamannya.


"Lah, jangan gitu, dong."


Pemuda yang baru saja lulus SMA itu menggeleng. "Aku adek Kak Dee, bukan?" sungutnya.


Gantari tersenyum geli, lalu mengacak pelan rambut Anwar. "Makasih, ya. Besok Kakak teraktir, deh.


"Nah! Kalau itu aku nggak bakalan nolak," balas Anwar, lalu tertawa riang.


Nevan shock abis melihat pemandangan barusan. Dia sampai ternganga di tempat tak habis pikir. Baru saja dia sampai dan langsung melihat adegan yang membuat hatinya teriris. Ditambah mendengar tawa bahagia pemuda dengan gaya ala-ala anak band sepagi ini di rumah pacarnya membuat Nevan makin kepanasan.


Ia melanjutkan langkah yang tadi sempat terhenti akibat kejutan tak menyenangkan dengan gaya santai, hingga Gantari sadar dan melebarkan matanya.


"Loh? Pagi-pagi kesini ada apa?"


Anwar ikut meboleh. Sisa tawa yang masih terlihat di matanya segera musnah ketika melihat keberadaan Nevan. Hilang sudah sosok murah senyum tadi dan berganti dengan tampang sosok penjaga rumah kosong.


"Kangen," jawab Nevan singkat. Dia sengaja menatap Anwar sekedar memastikan reaksi si pemuda sok manis dan benar saja, Anwar langsung mendecih tanpa suara.


"Kak Dee, aku pulang dulu, ya. Nanti aku siapin semuanya."


"Oh, oke. Makasih, ya."


Setelah membalas ucapan Gantari dengan senyuman manis, Anwar melengos pergi begitu saja ketika melewati Nevan.


"Siapa?" tanya Nevan setelah Anwar berlalu. Dadanya masih panas.


"Anak Bu Fatma. Anwar." Gantari ingin memasukkan kembali dompetnya, namun Nevan keburu merebutnya.


"Jangan terlalu dekat sama laki-laki lain, Dihyan. Apa lagi pakai elus-elusan kepala segala. Terus apa tadi? Kak Dee?" cerocos Nevan dengan tampang tak terima.


Gantari mengangkat sebelah alisnya, lalu mendecak. "Kamu nggak lagi cemburu sama dia, kan? Anwar itu masih kecil."


"Berondong sekarang semakin di depan."


"Kayak sepeda motor aja," kikik Gantari.

__ADS_1


Nevan ikut tersenyum. Siapa coba yang bisa menahan godaan senyum Gantari?


"Aku antar, ya?"


Gantari menggeleng. "Aku pergi sama Retic aja," ucapnya sambil mengedikkan dagu ke arah sepeda motor merah yang sudah terparkir di halaman.


"Ya, udah. Hati-hati, ya, sayang." Nevan mengulurkan sebelah tangannya dan mengusap lembut rambut Gantari. Balas dendam buat yang tadi.


Tiba-tiba Gantari teringat sesuatu dan memutar tubuhnya begitu saja, lantas sedikit berlari masuk ke dalam rumah. Membuat Nevan kaget karena sesi romantisnya bertepuk sebelah tangan.


Tak lama Gantari muncul kembali dengan melambaikan sebuah buku service.


"Hampir lupa. Nanti sekalian mau service Retic," jelas Gantari cuek. Dia tidak tahu, jika pemuda tampan di depannya sedang mengukir kecewa.


"O, iya. Kamu kesini ada apa?" tanya Gantari ketika teringat kembali tujuan kedatangan Nevan.


"Liat keadaan kamu."


Itu bukan gombal. Nevan memang mengkhawatirkan Gantari. Takut perempuan itu berubah arah.


Gantari menyipitkan matanya pada Nevan. Kali ini dia memilih percaya saja karena waktu kerjanya sudah mulai mendekat.


"Aku duluan ya nanti terlambat." Gantari menyodorkan tangannya pada Nevan, meminta dompetnya yang dipegang oleh sang kekasih.


***


"Pagi, Gantari. Ke ruanganku sekarang."


Selamat datang neraka. Gantari menarik napasnya dalam sekali, mencoba mempersiapkan tenaga untuk bertempur di medan perang, lantas mengekori Angkasa yang sedang menahan lift demi menunggu dirinya.


"Pasti seru kalau lift ini macet dan kita terkurung berdua di sini," ucap Angkasa ketika pintu lift mulai tertutup.


"Kalau pun itu terjadi, pasti nggak akan terjadi apa-apa, Pak."


"Percaya diri sekali."


Gantari berdecak muak. Sebal sekali dengan si gondrong ini. Ia mendongak, menatap mata Angkasa tajam.


"Pertama, ini bukan drama korea. Kedua, anda bukan tipe saya. Ketiga, kalau pun ini drama Korea dan anda tipe saya, pasti anda bukan pemeran utamanya."


Rahang Angkasa mengeras, bersamaan dengan terdengarnya suara dentingan lift. Tak lama segerombolan karyawan masuk dan membuat lift sedikit sesak. Buru-buru Gantari maju dan menorobos kerumunan, sehingga dia tidak perlu berdesakan di belakang bersama Angkasa. Syukurlah tidak ada adegan drama Korea bagian kedua.


***


"Gantari, kuy makan."


Gantari menyembulkan kepalanya dan melihat Vivian sedang touch up di kubikel sebelah.


"Nungguin lo dandan cukup buat gue ngerjain laporan Vi," cetus Gantari.


Fajar yang berada di kubikel seberang langsung meledakkan tawa. "Lagian mau godain siapa sih lo? Ke kantin doang."


Vivian tidak peduli. Ia masih fokus memoles bibirnya dengan warna merah menyala, lalu mendecap-decapkannya.


"Kali aja ada CEO nyasar makan di kantin kantor," jawabnya asal.


Gantari tersenyum geli, lalu merapikan berkas yang ada di mejanya.


"Buruan. Gue laper."


Fajar melompat dari kursinya, lantas mendekati Gantari. "Ayo, makan berdua."

__ADS_1


Suara sorakan mendadak memenuhi ruangan. Wulan yang baru saja selesai briefing langsung bertanya heboh menanyakan apa yang terjadi.


"Loe kira limited edition gini masih single?" cetus Lisa.


Gantari langsung menyikut Lisa pelan. "Loe kira gue barang," sungutnya, lantas berjalan keluar menuju kantin diikuti Lisa, Wulan, dan Vivian yang buru-buru memasukkan alat perangnya ke dalam tas.


Fajar menunduk lesu, namun akhirnya ia ikut menyusul dengan langkah gontai.


"Hari ini adem, ya. Nggak ada Pak Ang."


Vivian melotot, lalu celingak-celinguk. Namun, kemudian mengacungkan jempolnya.


Angkasa memang sedang mengikuti rapat di Hotte Mart. Tadinya Gantari was-was juga bakal diajak. Beruntung itu tidak terjadi.


"Kantin rame terus, ye, heran," sungut Wulan. Mereka sampai berkeliling mencari meja kosong dan bersih.


"Namanya kantin, Lan. Kalau sepi mah hati Lo," balas Fajar yang langsung disambut lemparan tisu basah oleh Wulan.


"Lo beneran udah sold out, Tar?"


Astaga. Gantari sampai berhenti mengunyah saking kesalnya, lalu menatap Fajar sengit.


"Kalian beneran ngira gue barang?" tanyanya tak terima.


Pertanyaan Gantari barusan hanya dijawab tawa oleh rekan-rekannya.


Jam makan siang selalu menjadi ajang refreshing bagi para karyawan. Karena setelah jam makan siang berlalu mereka harus kembali berkutik dengan segudang tanggung jawab.


"Jar, bayarin dulu ya. Dompet gue ketinggalan."


Fajar langsung menggeleng cepat. "Masa dompet loe ketinggalan tiap hari, Lis? Modus aja, Lo," sungutnya pada Lisa yang sudah berlari kecil keluar kantin sambil terkikik.


"Dasar tu si gilr band gadungan, modusnya nggak kreatif," sungutnya lagi.


Gitu-gitu Fajar akan tetap membayari makan siang Lisa. Kadang, teman-temannya curiga kalau mereka punya hubungan lebih.


"Bagus, dong, Jar. Besok pas lamaran, tinggal loe bawa aja totalan sama emak bapaknya," kelakar Vivian yang langsung disambut ledakan tawa Wulan.


Fajar langsung ngedumel menggunakan bahasa daerah, lalu menoleh pada Gantari. "Jangan dengerin, ya, Tar. Aku tetap padamu, kok."


Gantari yang sedang membuka dompet tidak terlalu mendengar ucapan Fajar dan kawan-kawannya. Keningnya sedang berkerut saking bingungnya.


Sejak kapan uangnya bisa beranak gini?


Dan lagi ini bukan cuma beranak, tapi juga bercucu.


"Kenapa, Tar? Uang kamu ketinggalan juga?" lamunan Gantari buyar karena pertanyaan Fajar barusan. Kemudian, dia langsung menggeleng.


"Yuk, bayar," ajak Vivian yang rupanya sudah berdiri.


Gantari ikut berdiri, namun wajahnya masih tampak kebingungan.


Uang siapa?


Dia terus bertanya dan mencoba mengingat-ingat.


Tuyul kerjanya ngambil uang, kan? Bukan nambah uang?


Hingga tiba giliran Gantari membayar, ia masih tampak bingung. Dia menyodorkan pecahan seratus ribu pada kasir, lalu mengingat-ingat lagi.


"Ah!" Gantari berteriak, membuat kasir yang sedang mengulurkan kembalian menariknya lagi.

__ADS_1


"Aku tau tuyulnya!" lanjut Gantari antusias, lalu mengambil kembalian di tangan si kasir yang kini ketularan bingung.


"Dion." Gantari mendesis sembari berjalan cepat keluar kantin.


__ADS_2