
Ada satu hal yang bisa menggoyahkan cinta, yaitu keegoisan. Tapi, bukankah egois nama lain dari cinta?
Nevan menekan remote televisi secara asal. Meski matanya tertuju ke sana, tapi tidak dengan pikirannya.
Bi Murni yang sebenarnya ingin pamit pulang, terpaksa mengurungkan niat. Ia justru memilih duduk di samping Nevan dan menyapanya.
"Mas?"
Nevan tersentak, lalu menoleh pada Bi Murni setelah memperbaiki posisi duduknya. "Oh, Bibi mau pulang?"
Bi Murni tidak menjawab. Ia hanya menatap Nevan dengan pandangan tidak terbaca. "Bibi cuma mau bilang, yang sedih nggak cuma mas aja. Bibi juga sedih, apalagi ... Mbak Gantari."
Mendengar ucapan Bi Murni tersebut, sontak membuat Nevan tercenung. Entah apa yang ada dipikirannya. Namun, ia sama sekali tidak punya cadangan pertanyaan yang ingin dilontarkan.
"Pulang dari Surabaya, setiap Mas Nevan kerja, Mbak Gantari nangis terus." Mata tua itu mulai basah ketika mengingatnya.
Ia ingat ketika Gantari menangis sendiri di dalam kamar sambil melipat pakaian. Terkadang, ia juga melihat Gantari menangis sambil menyiram tanaman di beranda. Keceriaan dan kehangatan istri Nevan itu mendadak hilang setelah insiden di Surabaya.
"Mbak Gantari nyalahin dirinya terus, Mas."
Bi Murni menyeka air matanya yang mulai menetes. Ia sangat merindukan Gantari. Ia rindu saat-saat berbincang santai sambil memasak bersama Gantari. Dia rindu ketika Gantari bertanya ini dan itu layaknya anak sendiri.
Bi Murni kembali melanjutkan, setelah menyekanya air matanya lagi. "Mbak Gantari ... butuh Mas Nevan."
Suara Bi Murni bergetar ketika mengatakan itu. Terlebih ada nada pahit di sana, hingga membuat air mata wanita tua itu semakin luruh. Bi Murni bangkit, lantas akhirnya benar-benar pamit pulang. Meninggalkan Nevan dengan kecamuk di hatinya.
__ADS_1
Nevan menghela napas dalam, lalu mengusap kasar wajahnya. Ia tahu Gantari juga sama kehilangan seperti dirinya. Ia tahu itu. Ia benar-benar tahu, tapi ... Gantari melarikan diri dari rumah benar-benar sebuah keputusan yang membuat Nevan terluka.
Nevan merasa seperti manusia yang tidak layak dipercaya oleh orang yang dicintainya sendiri.
...****************...
Sejak semalam, hingga bangun tidur pagi ini, Shanessa masih saja menekuk wajahnya. Ia sarapan dengan tidak berselera, lantas memilih pamit untuk bekerja.
"Sarapan kamu belum habis, loh, itu," tegur Darya ketika melihat cucunya mengulurkan tangan hendak pamit.
"Aku nggak selera makan, Kek."
Darya menatap khawatir, lalu menarik tangan Shanessa agar sedikit membungkuk.
"Kamu sakit juga?" tanyanya sembari menempelkan punggung tangannya ke dahi Shanessa.
Darya mencibir. "Mimpi aja dipikirin. Pikirin tuh pendamping hidup."
Ucapan Darya tersebut membuat wajah Shanessa muram lagi karena teringat pada Angkasa. Tapi yang dipikirin malah mikirin orang lain, fiuh!
Beruntung Darya tidak menyadari perubahan raut wajah Shanessa karena perhatiannya teralihkan pada kemunculan Ardiman yang menuruni anak tangga bersama Gantari.
"Gantari, gimana keadaan kamu?"
Gantari tersenyum tipis pada Darya, lalu duduk di kursi dekat sang kakek dan disusul pula oleh Ardiman. Pamannya itu benar-benar memperlakukan Gantari dengan begitu baik.
__ADS_1
"Udah lebih baik, Kek," jawab Gantari lemah.
Shanessa yang melihat jam di dinding, tampak tergesa dan langsung pamit pada semuanya. Walaupun ia sedang bertengkar dengan Angkasa, profesionalisme tetap harus dijaga.
"Bareng papa aja, Sha!"
"Nggak usah, Pa. Nanti terlambat," balas Shanessa sambil berlalu, meninggalkan Ardiman yang geleng-geleng kepala.
Darya tersenyum maklum. Dia memang tipe orang yang menjunjung tinggi profesionalisme dan apa yang dilakukan Shanessa menjadi poin plus untuknya.
Kemudian, Darya meraih poci, lalu menuangkan teh hijau ke dalam cangkir dan menyodorkannya pada Gantari. "Ini bisa membuatmu merasa lebih tenang."
Gantari mengangguk, lantas meraih cangkir tersebut dengan kedua tangannya. Membiarkan rasa hangat menjalar di kedua telapak tangannya.
Pelan-pelan ia mengangkat cangkir tersebut dan menghirup pelan aroma khas teh hijau. Berharap apa yang dikatakan sang kakek benar, teh hijau bisa membuat hatinya sedikit tenang. Diam-diam Ardiman melirik adegan cucu dan kakek itu, lantas senyum lega terkulum di bibirnya.
Di luar, Shanessa sedang gelisah menunggu Pak Sarif yang lama sekali memanasi mobil. Biasanya dia memang menyetir sendiri, tapi hari ini lebih baik dia diantar sopir saja karena pikirannya sedang kacau. Akhirnya sebuah mobil keluar dari garasi dan Shanessa langsung bergegas menghampiri dan masuk ke dalamnya.
Di seberang pagar tinggi rumah mewah tersebut, ada seorang laki-laki yang sejak tadi memperhatikan kediaman Ardiwinata dari dalam mobil. Seorang laki-laki dengan kalung rantai di lehernya, Angkasa.
...****************...
Bang Nevan: Puas kamu, Jika? Aku dihujat readers.
Jika: Mana ada yang menghujat, Bang.
__ADS_1
Bang Nevan: Dikatain lembek kayak adonan roti. Kamu kira apa itu namanya?
Jika: 😳 Oh iya, bener *ngakak