
Nevandra Ardiona
14.03 PM
Sibuk nggak?
Nevandra Ardiona
14.04 PM
Aku lupa kalau kamu penggangguran.
Nevandra Ardiona
16.45 PM
Kamu dimana?
Nevandra Ardiona
17.05 PM
Aku di luar
Gantari melempar ponselnya ke atas ranjang setelah membaca deretan pesan sepihak Nevan, lalu berjalan cepat menuju pintu depan. Kemudian, membukanya dengan kasar.
"Apa? Mau nyuruh aku ke Antartika lagi?" sembur Nevan.
Gantari yang tadinya mau meledak, sekarang malah sedang susah payah menahan senyum. Nevan si konyol kini telah kembali. Nevan yang dulu bernah membuatnya selalu begitu bahagia dengan sikap kekanakannya.
Dulu?
"Aku nggak masak. Jadi, jangan minta makan," ujar Gantari sembari melangkah menuju kursi dan duduk disana.
Nevan melotot tak terima. Ia memutar tubuhnya dan ikut duduk di samping Gantari.
"Apa tampangku kayak orang mau minta makan?"
"Emang enggak?"
Nevan mendengkus. Ia mengambil sebuah bungkusan plastik berwarna putih di atas meja dan mengangkatnya tepat di depan wajah Gantari.
Gantari tidak menyadari ada bungkusan di atas meja, lantas ia menatap bungkusan itu sebentar.
"Kamu bawa bom?" tanyanya polos.
__ADS_1
Mendengar itu membuat Nevan tertawa hambar, lantas menatap Gantari datar.
"Dihyan, jangan bercanda lagi. Aku sayang kamu, titik. Dan, sekarang aku lapar. Ayo, makan."
Darah Gantari langsung berdesir hanya dengan mendengar ucapan ngelantur Nevan barusan. Cepat-cepat ia berdiri untuk mengambil mangkuk di dapur dan mengutuki dirinya sendiri yang begitu mudah terpengaruh. Apa lagi degup jantungnya kini jadi tidak karuan begini.
"Bakso beranak," terang Nevan. Ia menuangkan bakso ke dalam mangkuk dan menyodorkannya pada Gantari. Manis sekali. Hus!
Kemudian, menuangkan bakso satu lagi untuk dirinya sendiri. Tenang, mereka tidak makan sepiring berdua, kok.
Gantari masih bergeming, menatap Nevan dalam diam.
"Meski cinta, tapi itu nggak akan bikin kenyang. Percaya, deh," ucap Nevan tiba-tiba.
Gantari tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Hampir saja ia mencolok mata Nevan dengan sendok yang dipegangnya, tapi ia urungkan karena takut Nevan buta.
Tiba-tiba Gantari ingat dengan kejadian tadi pagi, tentang Angkasa.
"Nevan?"
"Dion," ralat Nevan.
Terserahlah. Gantari tetap melanjutkan ceritanya, "Hari ini aku bertemu Angkasa."
Pergerakan Nevan yang sedang menuangkan bakso sempat terhenti, dengan rahang yang tampak mengeras. Namun, hanya sebentar, karena ia kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Di Angkasa Grup."
Nevan menghela napasnya dalam. "Kenapa kamu bisa nyasar kesitu?"
"Ngelamar kerja."
Nevan tampaknya cukup kesal mendengar jawaban Gantari barusan. Maka, ia membuang pandangnya sebentar, lantas berkata, "Aku kan udah bilang, kerja di tempatku aja."
Gantian Gantari yang kesal. "Terus semua orang akan mencapku sebagai perusak hubungan orang," sungutnya.
"Perusak apa?" balas Nevan sebal.
Tiba-tiba ia teringat pembicaraannya dengan Fikri tempo hari.
Ya, iyalah! Menurut loe dia nggak ngehargai perasaan mantan calon istri loe, gitu?
Maka Nevan mencoba sabar dan mengerti posisi Gantari. Ia kembali menghela napas, mencoba mengatur emosi. Pada hal, kepulan asap yang menari-nari di atas mangkuk bakso mereka sudah mulai menipis.
"Kalau gitu, kamu nggak usah kerja. Aku nggak akan nyindir kamu pengangguran lagi," tawar Nevan.
__ADS_1
Tawaran Nevan itu justru membuat Gantari mendelik tak suka. Ia menekuk wajahnya.
"Nggak usah dilipet-lipet mukanya, kalau kusut siapa yang mau nyetrika?"
Hampir saja Gantari menjitak kepala Nevan, namun akhirnya ia memutuskan untuk mengulum senyum geli saja.
"Aku akan tetap kerja," kata Gantari kemudian.
"Tapi nggak di Angkasa," tekan Nevan.
Gantari mengangkat sebelah alisnya. "Emang kenapa?"
"Dia itu manusia nggak punya karisma," jawab Nevan asal, lantas mulai menyuap baksonya. Perutnya sudah keroncongan dari tadi dan Gantari justru mengajaknya berdebat.
Diam-diam Gantari mengangguk.
Angkasa itu memang B aja.
***
"Hai, Pak Nevan.
Nevan menoleh, mengalihkan pandangnya dari berita daring yang ia baca di ponsel dan menatap malas orang di hadapannya. Seingatnya, dia sedang menunggu klien bukan cecunguk busuk.
"Boleh duduk sebentar?" Tanpa menunggu jawaban Nevan pun dia sudah duduk. Pertanyaan basa-basi.
"Aku turut sedih dengan pernikahan anda yang batal," ujarnya sok berduka, lantas melanjutkan, "Tapi sepertinya anda tidak sedih."
"Ang ...," Nevan memanggil nama lawan bicaranya, lantas sebuah seringai mengejek terukir di bibirnya.
"Membaca peluang saja kamu nggak bisa, jadi jangan coba-coba membaca perasaan orang," lanjut Nevan tajam.
Raut Angkasa berubah kecut. Wajahnya sudah merah padam, namun cepat-cepat ia mengendalikan diri.
"Tapi, aku tau betul perasaanmu pada Gantari Dihyan Irawan." Angkasa tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya ia menemukan kelemahan saingan bebuyutannya itu.
Nevan sudah membaca rencana Angkasa dari cerita Gantari semalam, jadi dia tidak begitu terkejut dengan ucapan laki-laki gondrong di depannya.
"Aku mohon ...." Nevan menjeda ucapannya sebentar, lantas menatap Angkasa tajam, "Jangan cemburu, ya."
Dada Angkasa tampak naik turun dengan ritme cepat. Jelas sekali ia kesal. Dia kehilangan tempat di Bentala Retail, perusahaan orang tuanya sendiri adalah karena Nevan. Dia dibuang oleh keluarganya sendiri adalah karena Nevan.
"Kamu akan segera tau bagaimana rasanya dibuang, dicampakkan, dan diabaikan, Dion," ucap Angkasa tajam.
Ia berdiri dan akan segera beranjak dari sana ketika Nevan berkata, "Sebelum kamu, aku sudah merasakannya."
__ADS_1
Angkasa menoleh dan Nevan kembali melanjutkan, "Dan aku menyesal karena tidak mencari tau dulu penyebabnya. Aku harap itu tidak terjadi padamu, Angkasa."