Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Tujuh


__ADS_3

Nevan berangsur mundur. Dia menghenyakkan tubuhnya di kursi tunggu di depan ruangan dengan tatapan tidak fokus. Pikirannya melayang kemana-mana dan degup jantungnya pun tak karuan. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.


Shanessa sendiri dari tadi mondar-mandir dengan wajah panik. Sesekali dia mencoba mengintip melalui kaca pintu dan sesekali menggigit kukunya.


Selang 15 menit, dr. Farez keluar diikuti seorang suster. Berbeda dengan sang suster yang melanjutkan langkah, Farez justru berhenti dan berbicara pada Shanessa.


"Semua sudah stabil, tapi tolong tenangkan Dihyan," mintanya sungguh-sungguh.


Shanessa mengangguk cepat dan tanpa pikir panjang langsung memasuki ruang inap. Nevan yang mendengar permintaan dokter tersebut mendongak. Ada yang mengusiknya. Dokter itu memangil Gantari dengan Dihyan?


***


Di dalam, seorang suster lainnya sedang menepuk pundak Gantari, mencoba menguatkan keluarga pasien yang lima tahun ini dikenalnya. Shanessa datang, lalu memberi kode agar dia saja yang menemani Gantari yang disambut anggukan setuju sang suster. Dia akhirnya keluar dengan wajah yang masih menggambarkan kekhawatiran.


Gantari masih terduduk. Tatapan matanya enggan beralih sedetik pun dari wajah sang ibu. Ketika Shanessa memegang tangan Gantari, ia sadar betul jika tubuh itu gemetar hebat. Air matanya jatuh lagi melihat keadaan sang sepupu. Dia menarik Gantari dalam pelukannya dan mendekapnya erat.


"Tari, semuanya akan baik-baik saja," suara Shanessa bergetar. Sejujurnya, dia juga tidak yakin dengan apa yang barusan dia ucapkan.


"Semua udah aman sekarang," lanjutnya lirih. Shanessa merasakan tubuh Gantari begitu dingin, lantas semakin didekapnya erat tubuh itu.


Shanessa terisak, namun Gantari tidak mengeluarkan suara apa pun juga. Hanya air mata yang sedari tadi terus menetes membasahi wajah cantiknya.


"Kamu kuat. Kalau aku jadi kamu, aku nggak yakin bisa setegar kamu," ucap Shanessa getir. Dia mulai ketakutan melihat keadaan Gantari yang seperti mayat hidup.


"Tari, aku mohon lihat aku."


"Tante nggak akan ninggalin kamu!" Ia berteriak frustasi, kemudian menggoyangkan kuat tubuh ringkih di depannya, mencari cara agar sang sepupu mau membalas tatapannya.


Perlahan Gantari menunduk dan suara tangisan mulai terdengar dari bibirnya. Shanessa merasa dadanya sesak, dia kembali memeluk Gantari dan tangisan itu semakin pecah, hingga membuat jantung Shanessa serasa diremas.


"Benar. Menangislah, sayang," ucap Shanessa lembut.


Tidak ada percakapan yang terjadi di antara kedua pemuda berbeda profesi yang sedang duduk di lorong. Mereka sama-sama diam mendengarkan tangisan Gantari. Diam-diam rasa nyeri menyelinap di dada mereka masing-masing.


***

__ADS_1


Matahari sudah berada di atas kepala, perut pun mulai keroncongan, maka Nevan berinisiatif membeli makanan. Setelah makan dengan cepat, dia membungkuskan dua porsi lagi.


Makanan tersebut ia berikan pada Shanessa, meski sang gadis tampak ogah-ogahan menerima. Selera makannya tidak ada sedikitpun, tapi Shanessa bertekad untuk menemani Gantari makan.


Dalam mimpi.


Karena dibujuk bagaimana pun, Gantari tidak bersedia makan. Shanessa keluar lagi dengan dua kantong makanan plus wajah putus asanya.


"Kalau dia nggak mau makan, kamu aja yang makan," titah Nevan.


Shanessa tidak berani menolak, karena itu terdengar seperti nada perintah. Maka, mereka kembali lagi ke kantin rumah sakit dan makan disana.


"Kalau begini, Tari nggak akan mau pulang," desah Shanessa di sela makannya.


Nevan diam saja.


"Tapi dia harus pulang," lanjut Shanessa lagi.


"Ibunya sakit. Biarkan dia menginap."


"Nggak boleh," balas Shanessa lemah. Ia menghentikan makannya. Baru beberapa suap dan dia tidak sanggup melanjutkan.


Entah kenapa, hari ini begitu cepat berlalu. Belum apa-apa sudah sore saja. Shanessa semakin ketar-ketir dan mencoba menghubungi sang ayah, namun tidak ada jawaban, maka dia mengirim sebuah pesan.


Membujuk Gantari pulang adalah hal mustahil dan membiarkan Gantari tetap disini namanya cari mati.


Nevan memperhatikan Shanessa yang makin uring-uringan. Galau menentukan pilihan.


"Mau menginap disini?" tanya Nevan.


Shanessa menoleh dengan sedikit antusias karena merasa itu ide yang bagus. "Apa alasan kita nggak pulang?"


Nevan menatapnya bingung. "Apa lagi? Menemani sepupumu di rumah sakit," jawabnya polos.


Shanessa menjambak rambutnya sendiri. "Nggak boleh," balasnya frustasi.

__ADS_1


Nevan termenung. Meski tak paham, tapi ia tahu begitu banyak hal yang tidak ia ketahui.


Ponsel Shanessa berbunyi. Wajahnya berubah pias ketika melihat nama pemanggil yang tertera.


Kakek.


Setelah lama berpikir, Shanessa baru menjawab panggilan tersebut.


"Kakek ada di parkir," ucapnya pada Nevan setelah selesai berbicara di telpon beberapa menit saja.


Perkataan Shanessa barusan membuat Nevan mengernyitkan dahi.


Shanessa dan Nevan memutuskan untuk turun. Sesampainya di bawah, kakek menyuruh mereka pulang duluan. Shanessa sempat menolak, tapi kakek dengan tegas mengulang perintahnya lagi.


Setelah terpaksa setuju, di dalam mobil pandangan Shanessa tidak lepas dari sang kakek yang masih berdiri di halaman parkir. Nevan melajukan mobilnya pelan mengikuti alur jalan keluar dari area parkir, namun tidak sedetik pun Shanessa melepaskan pandang pada posisi kakek. Ada raut khawatir sekaligus takut yang tersirat disana.


Nevan yang menyadari hal itu segera meminggirkan mobilnya, hingga membuat Shanessa menoleh. Namun, sebentar karena fokus Shanessa kembali pada sosok Gantari yang baru saja keluar dan berjalan menuju tempat dimana kakek sedang berdiri menunggu.


Kakek dan cucu itu tidak terlihat seperti sedang mengobrol. Wajah keduanya sama-sama mengeras, persis seperti orang yang sedang bersitegang. Aura tak enak itu menjalar pada Shanessa yang memandang mereka dari jendela.


Tampak sorot mata Gantari berkilat marah. Dia memandang sang kakek dengan tatapan penuh kebencian. Bibirnya terkatup menahan amarah, sedangkan kedua tangannya kini terkepal kuat dikedua sisi tubuhnya hingga membuat buku jarinya memutih.


"Pulanglah. Kalau ada apa-apa, pihak rumah sakit akan menghubungimu," itu bukan ajakan, tapi perintah. Setelahnya kakek langsung berbalik berniat pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika dengan dingin Gantari membalas ucapannya.


"Apa belum puas anda sudah membunuh ayahku?"


PLAK!


Nevan tersentak, matanya membulat, tidak menyangka dengan apa yang barusan ia lihat. Kakek yang ia kenal hangat bisa menampar cucunya sendiri seperti itu. Shanessa apalagi, tangannya bahkan sudah hampir membuka pintu hendak berlari kesana andai ia tidak melihat kedatangan mobil sang papa.


Gantari mengangkat kepalanya dengan gerakan pelan dan membiarkan rambut yang tadi sejenak menutupi separuh wajahnya hengkang dari sana. Kemudian, dia menarik sebelah ujung bibirnya. Seringai itu kembali muncul.


Ardi keluar dari mobil dengan tergopoh dan langsung menghampiri kakek. Dia langsung mencoba menenangkan sang ayah.


"Jangan membuat dia semakin membenci ayah," tekannya.

__ADS_1


Kemudian dirangkulnya pundak kakek dan membawanya memasuki mobil. Ardi sempat menoleh sebentar, sekadar memastikan kondisi Gantari sebelum akhirnya ikut memasuki mobil dan melaju dari sana. Disusul sopir kakek yang ikut melajukan kendaraannya.


Shanessa hendak keluar, tapi Gantari keburu masuk kembali ke dalam rumah sakit seolah tidak ada hal berarti yang terjadi.


__ADS_2