
Gini-gini Fikri perhatian juga dengan bos besarnya. Jadi, kotak makan Gantari yang dia rebut dari kawan-kawannya, ia letakkan di atas meja kerja Nevan. Meski roti selai alpukat telur yang tersisa tinggal dua dari total delapan lapis roti, namun itu adalah kadar perhatian terbesar yang bisa Fikri berikan untuk Nevan.
Setelah meletakkan kotak makan, Fikri keluar dari ruangan Nevan dengan senyum terkembang, membayangkan hal baik yang baru saja ia lakukan. Kemudian berinisiatif untuk memonitoring proyek di lapangan terlebih dahulu baru nanti menjumpai Nevan lagi.
***
Pagi-pagi Shanessa sudah mengomel. Ia tahu persis jika subuh tadi Gantari sudah sibuk karena masak banyak sekali, namun sang sepupu tidak meninggalkan sepiring kecil pun makanan untuk dirinya.
"Ada apa?" tanya kakek yang duduk di sofa ruang tengah dengan secangkir teh hijau di depannya.
"Gantari, kek," Shanessa mulai mengadu, ia beranjak dari meja makan menuju sofa tempat kakeknya selalu menghabiskan pagi. "Masak banyak, tapi nggak ninggalin sedikit pun untuk aku."
Tatapan kakek menerawang. Lima tahun bersama, ia juga belum pernah sekalipun mencicipi masakannya cucu sulungnya itu.
Masih terus mengomel, Shanessa berinisiatif untuk menyusul Gantari ke kantor. Ia yakin masakan super banyak yang dimasaknya tadi subuh sudah di boyong ke kantor semua.
Shanessa bersenandung sembari memoles blush on ke pipinya, ketika Lexa menelpon.
"Shan, bimbingan yok," ajak Lexa ketika panggilannya dijawab.
Mendengar ajakan tersebut Shanessa hanya terkekeh garing, "Perbaikannya belum kelar."
"Emanglah ya Miss lelet. Awas loh tunangannya dipatok orang," balas Lexa santai, lantas memutus sambungan sepihak.
Shanessa temenung sesaat, baru kemudian memasukkan ponselnya ke dalam hand bag.
Tampaknya suasana hati Shanessa belum cukup amburadul hari ini, karena lagi-lagi dia disuguhi bisik-bisik karyawan setibanya ia di kantor Nevan.
"Entah kenapa, gue ngerasa Pak Nevan nggak cocok sama mbak Shaness."
"Iya, kak Shaness cantik, sih, tapi sikap manjanya parah," sahut karyawan lainnya.
Shanessa sudah kehabisan stok sabar, maka dia melangkah menghampiri dua ahli ghibah tersebut.
"Cantik plus manja adalah paket komplit untuk pria," sembur Shanessa dengan dagu terangkat. "Ada masalah?"
Kedua wanita yang tidak Shanessa ketahui namanya itu diam tidak membalas. Hingga, ketika Shanessa pergi pun mereka tidak lagi bicara.
Shanessa langsung menerobos masuk ke ruangan Nevan tanpa mau berbasa basi dengan Utami, sekertaris Nevan, seperti biasa.
__ADS_1
Ia menghembuskan napasnya dalam, mencoba membuang rasa kesal pada cecunguk dua tadi. Namun, tatapannya beradu pada kotak makan berwarna hijau yang tergeletak rapi di atas meja Nevan. Shanessa tahu pasti jika itu milik Gantari. Sontak hatinya terasa nyeri. Air matanya menetes begitu saja. Ia mengambil kotak makan tersebut dan melemparkannya ke lantai.
Mendadak ucapan karyawan tadi berputar kembali.
Entah kenapa, gue ngerasa Pak Nevan nggak cocok sama mbak Shaness.
Iya, kak Shaness cantik, sih, tapi sikap manjanya parah.
Dan ucapan Lexa,
Gimana pun Gantari itu cewek.
Awas loh tunangannya dipatok orang.
Dan kejadian waktu Nevan meminum kopi bekas Gantari.
Atau kejadian, ketika Nevan mencegah Gantari memakan udang karena takut alerginya kambuh.
Shanessa berteriak dan kemudian terisak.
Di luar Utami mencuri lihat apa yang tengah terjadi di dalam, karena khawatir maka ia berinisiatif menghubungi Nevan.
Tak sampai setengah jam, Nevan tiba di kantor. Dia menyapa Utami sebentar, lantas langsung masuk ke ruangannya dan mendapati Shanessa sedang duduk di sofa sembari menjambak rambutnya sendiri.
"Kalian selingkuh, kan?" todong Shanessa. Ia menatap tajam Nevan. Tatapan yang tidak pernah ia berikan pada Nevan selama ini.
"Kalian menghianati aku, kan?" sentak Shanessa lagi. Nevan diam saja, dia masih terkejut dengan sikap dan tuduhan Shanessa barusan.
"Lebih baik kamu jelasin dulu pangkal persoalannya. Bukan langsung membuat kesimpulan begini," balas Nevan akhirnya.
Shanessa bangkit, lantas berjalan mendekati kotak makan yang sudah berada di lantai dengan isi berserakan.
"Apa lagi sekarang?" Shanessa menunjuk kotak tersebut dengan penuh amarah.
"Dia bahkan masak untuk kamu. Demi kamu!" teriak Shanessa membabi buta.
Nevan mendengus. Tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya sekarang.
"Panggil Gantari sekarang," titah Nevan pada Utami melalui telepon.
__ADS_1
Utami segera menghubungi nomor kubikel Gantari dengan wajah panik dan tak lama Gantari muncul di hadapannya.
"Masuk, gih. Kayaknya ada masalah," bisik Utami.
Gantari menatap diam pintu ruangan Nevan yang tertutup, baru kemudian melangkah kesana. Dia masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu dan langsung mendapati Shanessa dengan wajah kacau.
"Kamu ingin merebut Nevan dariku, kan?" sembur Shanessa frustasi.
Gantari mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Kamu mencoba merayu Nevan dengan memasakkan makanan untuknya, kan?" tuduh Shanessa lagi sembari mendendang kotak makan di kakinya.
Gantari menoleh dan melihat kotak makan yang tadi pagi ia bawa untuk rekan kerjanya tergeletak disana.
"Itu tidak benar," jawabnya Gantari mencoba tenang.
"Aku nggak mau kamu kerja di sini lagi!" teriak Shanessa.
Nevan menghela napasnya dalam, kemudian memejamkan matanya singkat. Ia hendak berbicara namun Gantari keburu bersuara.
"Apa hidupku masih permainan kalian?" Kali ini Gantari mendecih. Kemudian tersenyum miris.
Nevan menoleh pada Gantari, sedangkan Shanessa masih menatapnya dengan amarah.
"Kalau kalian menyuruhku ke sini, maka aku kesini. Kalau kalian menyuruhku ke sana, maka aku harus kesana," Gantari melanjutkan, "Aku kira hanya Darya Ardiwinata saja yang menganggapku robot, ternyata kau juga sama," ucap Gantari dingin.
Ia membalikkan badannya dan melangkah cepat keluar dari ruangan itu. Mengabaikan Utami yang menatap bingung padanya.
Fikri yang baru datang dari lapangan, hendak menyapa Gantari dengan ceria, namun mengurungkan niatnya ketika melihat raut Gantari yang sudah hampir menangis. Ia berdiri dalam diam memandang kepergian teman baru yang disukainya itu, lantas menoleh pada Utami minta penjelasan, namun Utami sama bingungnya.
Fikri menoleh lagi pada ruangan Nevan. Apa Nevan melakukan sesuatu yang buruk pada Gantari hanya karena ia tidak suka pada gadis itu?
Fikri melangkahkan kakinya ke ruangan Nevan. Kemudian masuk tanpa mau repot-repot mengetuk pintu terlebih dahulu. Hatinya sedang panas.
"Ada apa?" ucapannya terhenti ketika ia mendapati Shanessa juga disana, namun ia kembali melanjutkan, "Ada apa dengan Gantari?"
Tak ada yang menjawab pertanyaan Fikri. Keduanya terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga Fikri melihat kotak makan Gantari dengan isi yang sudah berceceran. Dia tahu penyebabnya sekarang.
Fikri melangkah dan mengutip kotak tersebut. "Jadi karena ini?" tanya Fikri tajam.
__ADS_1
"Aku yang meletakkan disini," sentak Fikri. Kemudian ia keluar dengan dada yang bergemuruh. Meninggalkan Shanessa yang melorotkan tubuhnya ke lantai dan berakhir dengan isakan.
Nevan mengusap kasar wajahnya dengan tangan. Dia sedang tidak mengerti dengan apa yang terjadi.