Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Sepuluh


__ADS_3

Cahaya masih kemerah-merahan diufuk timur ketika Bi Murni sudah tiba di rumah Nevan. Dia membuka pintu dengan kunci yang biasa ia bawa dan sedikit terlonjak ketika melihat Nevan sudah duduk di sofa.


"Udah bangun atau belum tidur, Leh?" tanyanya dengan suara serak.


Nevan tak langsung menjawab. Dia menoleh dan memandang Bi Murni dalam diam. Bi Murni menerka, ada yang tidak beres dengan tuan mudanya itu.


"Sudah salat subuh belum?" tanyanya lembut. Dia mendekati Nevan dan duduk di sampingnya. "Yok salat dulu. Bibi juga belum salat tadi."


"Kenapa datang pagi sekali?" Nevan bereaksi.


Bi Murni terkekeh. "Sengaja. Soalnya kalau boleh nanti Bibi mau pulang cepat. Ada urusan," jelasnya kemudian.


Nevan mengangguk. "Boleh," jawabnya singkat.


Bi murni menghela napas. "Sudah, salat dulu! Subuh ndak pernah mau menunggu."


Mendengar ucapan asisten rumah tangganya barusan berhasil membuat Nevan menerbitkan senyum. "Emang Zuhur, ashar, magrib, Isya, mau menunggu?"


"Ya, ndak juga," jawab Bi Murni terkekeh.


Mau tidak mau Nevan pun ikut merasa geli juga.


Semalaman tak tidur membuat kepala Nevan pening, dan lagi mengingat masa lalu memang membuat dirinya selalu demam. Kopi hitam buatan Bi Murni biasanya bisa menjadi penawar, namun tidak kali ini. Seusai salat subuh, Nevan dengan pakaian rapi duduk kembali di sofa dengan tangan memijit pelipis.


"Ndak usah kerja kalau sakit," sambil mengepel Bi Murni berujar.


Ngomong-ngomong, Nevan sudah menganggap Bi Murni ini sebagai orang tuanya dan begitu pula sebaliknya. Bi Murni tidak segan memperlakukan majikannya itu layaknya sang anak.


"Kalau diam di rumah malah tambah sakit, Bi."


Bi Murni terdiam, kemudian mengangguk-angguk. Karena dia juga merasa begitu. Tidak bekerja justru membuatnya lelah. Anak-anaknya sudah melarang bekerja, namun dengan lembut Bibir Murni memberi pengertian.


Percakapan mereka terhenti ketika dering ponsel Nevan berbunyi dan menampilkan nama Shanessa di layar.


***


Tidak seperti biasa, hari minggu ini pak Sarif tidak menjemput Gantari di rumah sakit. Sudah menunggu hingga malam, namun tetap tak ada kabar. Gantari sih senang-senang saja karena bisa berlama-lama menemani sang ibu, hingga kemudian pak Sarif menelpon dan mengabarkan kalau beliau kecelakaan.


Farez menawarkan diri untuk mengantar, meski awalnya sempat Gantari tolak. Namun, Farez bersikukuh kalau sekarang dia sedang menganggur dan itu menyiksanya. Jadilah, Gantari setuju.

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian mereka sampai di kediaman Ardiwinata. Farez hanya mengantarnya sampai depan pagar dan kembali lagi ke rumah sakit setelah membalas ucapan terimakasih Gantari. Dia memacu mobilnya dengan sumringah.


Di teras, Gantari menemukan pak Sarif sedang duduk dan langsung berdiri ketika melihatnya.


"Maaf, ya, Non," sambutnya dengan rasa bersalah.


Gantari tersenyum. "Keadaan bapak gimana?" tanyanya.


Pak Sarif makin menampakkan wajah bersalahnya. "Nggak kenapa-kenapa, Non, tapi mobil rada hancur."


"Syukurlah bapak baik-baik aja," balas Gantari menenangkan.


Percakapan mereka terhenti ketika Shanessa, Nevan, Ardi, dan kakek keluar.


"Baru mau dijemput," cetus Shanessa.


Gantari mengangkat bahunya. "Aku bukan bocah," katanya.


Shanessa tersenyum. Ia kemudian melihat pak Sarif dan menanyakan hal yang sama dengan apa yang sudah Gantari tanyakan pada pria paruh baya itu.


Ardi mendekat dan memastikan jika memang Pak Sarif baik-baik saja. Setelah kakek menyuruhnya pulang diantar pak Arya, barulah beliau tampak sedikit tenang. Ngomong-ngomong Ardiwinata itu memang menakutkan, ya.


"Diantar sama siapa tadi?"


"Farez," jawab Gantari tak acuh. Dia tidak sadar Shanessa sedang membulatkan bibirnya kemudian cekikikan tak jelas.


"Makan dulu."


Suara Kakek menginterupsi langkah kaki Gantari yang hendak langsung menuju kamar. Tubuhnya sudah gerah dan ingin secepatnya mandi, namun ia membalikkan tubuhnya kembali dan terpaksa duduk di kursi samping Ardi.


Shanessa sepertinya masih tertarik dengan topik tadi. Dia bicara banyak tenang Farez dan menceritakan betapa tampannya dokter muda itu.


Sesekali dia melirik pada Nevan, berharap sang tunangan tak cemburu. Lagi pula Nevan juga tidak tau Farez itu siapa, jadi dia lanjut makan saja.


Ardi pun setuju. Dia berpendapat bahwa, Farez adalah seorang lelaki yang baik.


Setelah berepisode cerita tentang Farez, barulah Nevan sadar, jika sosok yang menjadi topik pembicaraan adalah si dokter flower boy yang memanggil Gantari dengan sebutan Dihyan. Hingga tanpa sadar dia memutar bola matanya jengah.


Kakek yang tak mau kalah, ikut menimpali, "Kalau memang sebaik itu, diseriuskan saja. Shanessa sebentar lagi akan menikah, ada baiknya kamu juga segera menyusul."

__ADS_1


Gantari menghentikan makannya. Dia melepaskan sendok dan menegakkan tubuh menatap kakek tajam. Kalau dipikir-pikir, hanya kepada kakek, Gantari bersikap dingin begini.


"Aku sedang tidak minat menikah dengan siapapun. Jadi, terimakasih sarannya," ucapnya dingin. Kemudian dia melangkah meninggalkan meja makan menuju kamarnya.


***


Gantari sedang berdiri di teras menunggu Ardi memanasi mobil karena Pak Sarif, sopir yang biasa mengantarnya ke kantor, sedang diberi cuti. Shanessa datang dengan bawaan super heboh, ransel, tas laptop, dan totebag. Hari ini dia mau seminar proposal, cie.


"Aduh! charger ketinggalan lagi," keluhnya setelah membuka tas laptop pink nyetrik miliknya, kemudian meletakkan seluruh barang bawaannya ke atas meja.


Gantari tersenyum. "Semoga lancar, ya," ucapnya tulus.


Shanessa mendongak, lantas balas tersenyum dan berlari memeluk Gantari. "Doain, ya, Tar."


"Pokoknya harus tenang, nggak boleh panik. Kamu harus ingat, banyak yang doain kamu," ucap Gantari, lalu membalas pelukan sepupunya itu.


Shanessa mengangguk, kemudian ingat jika Nevan sebentar lagi sampai, jadi dia melepaskan pelukan dan berlari ke dalam mengambil charger laptop. "Bentar, ya!" teriaknya.


Gantari kembali tersenyum geli. Baru saja dia menoleh ke garasi memastikan Om Ardi sudah selesai memanasi mobil ketika mobil Nevan memasuki perkarangan.


Lelaki tampan itu keluar mobil dengan penuh gaya. Stelan rapi, sepatu berkilap, lengkap dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Ia melepaskan kacamatanya tanpa repot-repot menghentikan langkah menuju tempat Gantari. Sebenarnya bukan menuju Gantari, tapi menuju meja tempat barang-barang perlengkapan seminar Shanessa bertumpuk.


"Shaness mana?"


"Di dalam."


Nevan mendengus. Dia sudah cape basa-basi malah ditanggapi begini.


"Jangan terlalu pemarah lah jadi orang."


Mendengar ucapan Nevan barusan membuat Gantari melirik tak suka.


"Kapan?" tanya Gantari.


"Maksudku, tadi malam." Nevan menghela napasnya pelan, kemudian melanjutkan, "Niat kakek kan ba ...."


"Maksudku, kapan kita akrab?" cetus Gantari tajam. Kemudian ia melenggang meninggalkan Nevan menuju mobil Ardi yang rupanya sudah menunggu.


Nevan melongo, kemudian terkekeh hambar. "Perempuan macam apa itu?" gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2