
Secara fisik, Angkasa terlihat jauh berbeda dengan pria paruh baya yang kini duduk di hadapannya itu. Seolah tidak ada sama sekali gen yang ia warisi dari pria yang selama ini Angkasa panggil dengan sebutan ... Papa.
Suasana cukup canggung karena meski sudah beberapa menit berlalu, tetapi tidak ada yang memulai pembicaraan. Sehingga, Shanessa meremas ujung dressnya, lantas memberanikan diri untuk membuka topik obrolan.
"Om, suka espresso?" Shanessa mencoba mencairkan suasana. Padahal, sejujurnya ia cukup merasa tegang bertemu dengan calon mertuanya tersebut.
Admaja Wiraguna tersenyum, lalu melirik secangkir kopi yang berada tepat di depannya. "Espresso adalah semesta kopi. Kamu harus mencoba ini sebelum menikmati kopi jenis lainnya."
Wajah Shanessa mulai sumringah mendapat respons demikian. "Aku punya sepupu yang juga sangat suka dengan kopi hitam. Setiap hari aku harus mencium aroma kopinya."
Admaja tertawa kecil. "Kamu harus mencobanya juga."
"Udah, Om. Pahit!"
Admaja tertawa lagi. Kemudian, mengalihkan pandangannya ke arah Angkasa. "Asa juga tidak suka kopi."
Shanessa ikut menolehkan kepalanya pada Angkasa. Sejak tadi, pemuda gondrong itu lebih memilih diam.
Perlahan, Shanessa mengulurkan tangannya di bawah meja untuk menggengam tangan Angkasa. Namun, ia dibuat terkejut saat menyadari telapak tangan Angkasa berkeringat dan terasa begitu dingin.
Angkasa bahkan tidak membalas genggaman tangannya. Sehingga, membuat Shanessa menatapnya khawatir.
"Aku ingin menikah." Tiba-tiba Angkasa bicara. Tatapannya menjurus lurus ke arah Admaja. "Tolong lamarkan Shanessa untukku."
Admaja menatap Angkasa begitu dalam, lalu mengangguk. "Tentu."
Tampak Angkasa mengembuskan napasnya, lalu berdiri tanpa aba-aba. "Ayo! Kita pulang."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Angkasa langsung melangkah pergi. Meninggalkan Shanessa yang tampak kebingungan dan ikut pamit dengan sungkan pada Admaja.
"Pergilah. Ikuti dia," ucap Admaja tenang.
Shanessa mengangguk, lalu menyusul Angkasa yang sudah tidak lagi terlihat.
Saat Shanessa tiba di pelataran parkir dan membuka pintu mobil, ia melihat Angkasa sedang menenggak beberapa butir obat. Meski bingung, tapi Shanessa memilih diam dan duduk di samping Angkasa dengan tenang.
Butuh beberapa menit, hingga akhirnya Angkasa menoleh dan menatapnya. Wajahnya terlihat begitu lemah dan rapuh.
"Shanessa ...." Angkasa menatap Shanessa lama, lalu melanjutkan, "Kamu yakin mau menikah denganku?"
__ADS_1
Tentu saja Shanessa terkejut. Namun, ia menganggukkan kepalanya, yakin.
"Aku bergantung pada obat penenang," aku Angkasa.
Shanessa menganggukkan kepalanya lagi.
"Aku ... bukan anak kandung Admaja Wiraguna!" cetus Angkasa frustasi. Sebuah kenyataan yang membuat Shanessa seketika bungkam.
"Aku anak hasil hubungan gelap ibuku," lanjut Angkasa pahit. Kini, pemuda gondrong itu tidak lagi mampu menatap Shanessa. Pandangannya menurun.
"Kalau saja Admaja memperlakukanku dengan buruk, membenciku, memarahiku, mungkin aku bisa sedikit merasa lebih baik." Suara Angkasa terdengar gemetar, tapi ia kembali melanjutkan, "Tapi pria brengs*k itu justru sok bersikap baik padaku. Aku muak! Aku benci dengan sikap malaikatnya!"
Kali ini bukan hanya suara Angkasa yang gemetar, tapi tubuhnya juga. "Melihatnya, membuatku membenci diriku sendiri. Membuatku terus saja mengutuki diriku yang lahir dengan cara kotor."
Shanessa sudah tidak tahan lagi. Ia menarik tubuh Angkasa dan mendekapnya erat dengan air mata yang sudah menetes.
"Mana ada manusia begitu, kan, Shaness? Memang dia gk punya hati?" racau Angkasa.
Shanessa tidak menjawab. Ia hanya terus memeluk Angkasa dengan erat. Begitu banyak sisi lain seorang Angkasa yang baru bisa ia lihat hari ini.
Jadi, ini alasan Angkasa memilih hidup tanpa menyandang nama belakang selama ini?
Kepala Shanessa perlahan menggeleng. Ia baru menyadari sesuatu.
Itu berarti sebenarnya, Angkasa tidak membeci Admaja. Angkasa ... justru membenci dirinya sendiri.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya, Shanessa Ardiwinata binti Ardiman Ardiwinata dengan mas kawin ...."
Tidak sedetik pun, Shanessa mengalihkan pandangannya dari wajah pemuda berstelan serba putih yang kini sedang berjabat tangan dengan ayahnya tersebut. Pemuda yang hanya dalam hitungan menit lagi akan resmi menjadi suaminya.
"Sah?"
"Sah!"
"Sah!"
Seumur hidup, Shanessa belum pernah melihat mempelai pria setampan Angkasa. Angkasa tampak begitu mempesona dengan rambut panjang kebanggaannya.
__ADS_1
Wajahnya yang bersih dengan rahang tegas dan alis yang terukir rapi, benar-benar sesuai idamannya. Kalung rantai yang biasanya melingkar di leher pemuda itu, kini sudah tidak ada lagi. Angkasa tampak begitu rapi dan ... sekali lagi, mempesona.
"Alhamdulillah ...."
Doa langsung dilafalkan penghulu dan papa seketika menangis terharu. Sehingga, membuat Shanessa mengalihkan pandang dan memeluknya terlebih dahulu, sebelum menghampiri sang suami sesuai instruksi.
"Papa jangan nangis," ucap Shanessa lembut sembari mengusap air mata Papa. Namun, Papa justru semakin menangis dalam pelukan putri semata wayangnya tersebut. Sedangkan, Angkasa hanya bisa menunggu adegan itu dengan tatapan setengah tidak sabar.
Nevan yang juga hadir dalam perayaan hari bahagia sepupu istrinya tersebut, menatap Angkasa dengan senyum menyerangai puas. Entah kenapa ia senang saja melihat mantan saingannya itu sengsara.
Angkasa yang menyadari itu hanya bisa melotot dan menaikkan dagunya jengkel. Harusnya sekarang ia sedang meletakkan telapak tangannya ke atas kepala Shanessa dan membacakan doa.
"Udah, ah, Mas! Kayak anak kecil tau," sergah Gantari yang duduk di samping Nevan.
Nevan tertawa, lalu mencubit gemas pipi Kael yang berada dalam gendongan Gantari. "Jangan tiru Om Ang, ya, anak Papa. Dia gondrong."
"Gue denger!" teriak Angkasa, hingga membuat semua perhatian teralihkan padanya. Termasuk perhatian Shanessa dan sang Papa. Sedangkan, Admaja hanya geleng-geleng kepala saja.
Ada untungnya juga sikap bar-bar Angkasa kerap tidak terkendali. Karena teriakannya tersebut, kini akhirnya ia bisa menjalankan ritual romantisnya bersama Shanessa.
Saat meletakkan telapak tangan kanannya ke atas kepala Shanessa, Angkasa terlihat begitu khidmat melafalkan doa. Laki-laki sangar itu bahkan sempat tertangkap basah menghapus air matanya.
Ritual dilanjutkan dengan Angkasa yang mengecup kening Shanessa. Namun, terdengar suara sorakan menggoda dari para tamu karena pria berambut indah itu terlalu lama melakukannya. Leo bahkan mendecih. Cinta memang tidak pandang bulu.
Beberapa kerabat tampak tidak sabar ingin mengucapkan selamat pada pengantin baru. Termasuk Nevan dan Gantari. Mereka berjalan mendekati Angkasa dan mengucapkan beberapa doa serta harapan.
"Cepat kasih adik buat Kael, ya, Tante," ucap Gantari.
Shanessa langsung tertawa malu-malu. Kemudian, meraih Kael dari gendongan Gantari dan mengecupnya bertubi-tubi.
"Gas aja Ang. Jangan sampai gue salib," timpal Nevan yang langsung dihadiahi cubitan oleh Gantari.
"Nggak loe ajarin, gue juga udah pro," sungut Angkasa. "Btw, thanks udah ngajarin gue doanya."
"Doa apa?" Shanessa dan Gantari kompak bertanya.
"Urusan laki-laki," balas Nevan sembari merangkul Gantari. Sedangkan, Angkasa tampak tersenyum malu-malu. Ia sudah tidak sabar mempraktikkan doa tersebut.
Iyuh!
__ADS_1
***
yuk, khilaf, yuk 🤣