
Kesepakatan sudah dibuat. Gantari Dihyan Irawan akan bekerja di perusahaan Nevan sebagai coordinator finansial risk analyst selama dua bulan saja. Meski awalnya kakek sempat menolak, tapi kemudian dia menyetujuinya setelah mempertimbangkan jika masa depan Nevan adalah masa depan Shanessa juga. Toh, cuma dua bulan.
Gantari tak banyak bicara, terlebih dilain sisi dia masih tetap bisa tinggal di negaranya dan tak terpisah dari sang ibunda.
Pagi ini Nevan memperhatikan curriculum vitae yang dibawa Gantari.
"Sarjana Ekonomi," gumamnya.
Dia memanfaatkan masa perpisahan kami dengan sangat baik, pikir Nevan.
Gantari sudah mulai bekerja. Di mejanya sudah ada setumpuk berkas yang minta dianalisis. Tidak ada sesi perkenalan atau keliling kantor. Beberapa karyawan sudah menyapanya sekilas dan Gantari juga sudah berhasil mengingat beberapa nama mereka.
Nevan pikir awalnya ini hanya sandiwara saja, pura-pura bekerja. Tapi, kalau dipikir-pikir tidak ada salahnya memanfaatkan kemampuan Gantari yang tidak diragukan lagi.
Waktu istirahat dimulai dan Gantari menghilang. Begitu pula untuk hari-hari selanjutnya. Dia akan kembali, tepat disaat jam istirahat usai dan kemudian akan mulai serius dengan dokumen-dokumennya.
Meski berada dalam satu kantor, namun mereka tidak pernah mengobrol. Gantari juga sudah tidak terlihat aneh dengan gaya basa-basi mengerikannya lagi.
Nevan baru datang dan mendapati Gantari sudah sibuk di meja kerjanya. Beberapa karyawan juga mulai berdatangan dan langsung menyapa Nevan. Mendengar kedatangan orang lain di kantor membuat Gantari mendongak dan tatapan mereka bertemu. Tak lama, karena Nevan melanjutkan langkah menuju ruangannya.
Sore hari, sebelum pulang, Gantari memberi kabar jika besok akan diadakan rapat. Hal ini sudah ia konfirmasi pada Nevan siang tadi. Beberapa karyawan ia rekrut sebagai staff finansial risk analyst dan juga sudah mendapat persetujuan Nevan. Mereka sengaja dipersiapkan untuk melanjutkan tugasnya dua bulan kemudian.
Rapat selesai tiga jam kemudian. Mereka keluar ruangan dengan bersenda gurau. Gantari sudah mulai membaur dan Nevan memperhatikannya. Gantari memang beberapa kali masuk keruangannya untuk melaporkan ini dan itu, tapi hanya sekadar itu. Apa lagi memang? Yang mengganggunya adalah tidak ada perasaan canggung yang terlihat dari sorot Gantari, berbeda dengan dirinya.
Nevan masih memerhatikan mereka dari dalam ruangan. Pikirannya kembali melayang.
Dihyan itu amnesia, ya?
Kemudian dia menggeleng sendiri.
Matanya melebar ketika melihat Shanessa berada dalam rombongan. Ikut bersenda gurau dengan mereka di meja kerja. Nevan membuka pintu dan melangkah keluar. Shanessa yang melihatnya langsung melambaikan tangan. Beberapa karyawan berteriak memintanya bergabung dengan donat di tangan mereka. Membuat Shanessa terkikik geli.
"Tumben ke kantor?" Nevan bertanya ketika mereka sudah berada di dalam ruangan kerjanya.
__ADS_1
Shanessa mengerling. "Senang nggak?"
Nevan tersenyum. "Jangan nanya aku dong. Kamu datang bukan untukku," ucapnya pura-pura kesal.
Mendengarnya membuat Shanessa terbahak. "Aku cuma khawatir dengan Gantari, tapi kayaknya dia justru lebih ceria disini," ujarnya sambil menoleh sebentar keluar dinding kaca.
Diam-diam Nevan mengakuinya. Gantari terlihat lebih tenang dan sumringah belakangan ini.
"Mungkin karena bisa melihat ibunya setiap hari," lanjut Shanessa.
Nevan ikut menoleh. "Mungkin," gumamnya.
Jadi, setiap jam istirahat dia menghilang ke rumah sakit?
***
Rapat sesi kedua, Nevan ikut serta. Ia muncul dengan secangkir kopi hitam ditangannya. Kemudian duduk di kursi yang biasa ia tempati dikala rapat. Ahmad melirik sebentar, kemudian bicara nyaris bergumam, "Kebiasaan kalian mirip," katanya, lantas ia kembali fokus pada bahan rapat di tangannya dan sesekali menanyakan sesuatu pada Widia yang duduk di sebelah.
Gantari mengutuki dirinya yang lupa jika rapat kali ini Nevan ikut serta dan tidak mempertimbangkan masalah kopi hitam pembuat masalah ini. Sungguh, godaan kopi hitam yang terkutuk tidak bisa Gantari tolak.
Gantari berdeham, kemudian menjelaskan beberapa prospek potensial disertai dengan hasil analisisnya yang bagus untuk perkembangan profit perusahaan. Semua staff yang mendengarkan mengangguk paham. Gantari meminta staf yang sudah ia tunjuk untuk mempresentasikan hasil sesuai bidang. Widia, Nanda, Ahmad dan Wildan dengan semangat membahas strategi pemasaran dan mencoba membaca potensi pasar saat ini yang disambut oleh jempol teracung oleh Gantari. Nevan yang melihatnya tersenyum geli.
Setelah rapat, mereka makan malam bersama. Lusa, Nevan akan mulai menjalin kerja sama dan minggu depannya investasi akan dilakukan. Semua begitu bersemangat. Gantari bagai matahari yang memang sangat mereka butuhkan dimasa pertumbuhan.
Shanessa kembali ikut serta setelah pulang dari pustaka wilayah. Sungguh kepalanya terasa pening berada di sekitar tumpukan ribuan buku seperti tadi.
Seafood menjadi menu pilihan mereka malam ini. Semua makan dengan begitu lahap. Hanya Gantari yang masih asik menyeruput jus jeruknya.
"Jangan minum terus, Tar. Ayo makan," ajak Nanda.
Wildan bahkan sudah memasukkan beberapa udang ke piring Gantari.
"Makan yang banyak, Tari," Irfan menimpali.
__ADS_1
Gantari tersenyum. Kemudian memandang udang di hadapannya. Tangannya bergerak memegang udang dengan saos tiram menggoda.
"Sumpah. Enak banget, Tar," Elma tak mau kalah. Ia ikut mengambil beberapa udang lagi dan melahapnya nikmat. Semua begitu tampak menikmati.
Gantari meneguk ludahnya dan mengangkat udang yang berada di atas piringnya mendekati mulut, hingga sebuah tangan menahan pergerakannya dalam diam.
Udang itu jatuh lagi ke piring dan Gantari mendapati Nevanlah pelakunya. Nevan menarik piring Gantari dan menggantinya dengan steak ayam tanpa bersuara.
Gantari mengernyit, namun Nevan tidak peduli. Ia melanjutkan memakan cumi asam manis kesukaannya.
Shanessa diam-diam memperhatikan.
"Makasih terakhiranya, Pak."
Nevan tersenyum menanggapi ucapan Widia barusan.
"Terimakasih juga sudah bekerja keras," balasnya.
"Semoga goal, ya, Pak, biar bisa makan enak lagi," Irfan terkikik.
"Bentar lagi juga makan enak. Kalau Pak Nevan nikah," Wildan menimpali yang disambut teriakan cie cie dari lainnya, membuat Shanessa mendadak merona.
Elma bahkan menyenggol lengan Shanessa berkali-kali. Mereka memang sudah akrab, calon istri bosnya itu sudah kerap kali bertandang ke kantor mereka.
"Tari, loe jangan buru-buru nikah, ya," goda Widia. "Nikah itu nggak kayak di sinetron-sinetron."
Gantari tersenyum saja.
"Udah ada calon belum, Tar?" Irfan berdeham, "Gue nganggur nih."
Sorakan kedua kembali memekak telinga. Nevan sontak berdiri dan membuat semua yang hadir menutup mulut. Melihat suasana tiba-tiba canggung membuat Nevan memaksa senyum. "Yok, pulang. Udah malam," katanya garing.
Nevan memacu mobilnya kencang. Shanessa memilih pulang bersama Gantari dengan diantar Pak Sarif. Selama perjalanan dia mengutuki dirinya sendiri. Bagaimana kalau Gantari itu besar kepala dan mengira dia masih ada rasa. Sial.
__ADS_1