Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Kaelandra Adha


__ADS_3

Sepasang tangan mungil dan lembut tampak sedang menepuk-nepuk wajah Nevan yang terlelap. Di sebelahnya, terdengar suara seorang wanita yang terkekeh kecil sambil menjaga tubuh gempal yang baru belajar duduk itu agar tidak terjatuh ke belakang.


Sambil terus meracau, bayi itu terus saja menepuk wajah sang papa, bahkan menjilati pipinya. Hingga, membuat Nevan akhirnya menggeliat dan membalas dendam dengan pura-pura menggigiti pipi gembul putra tersayang.


Awalnya, El tertawa geli. Namun, lama-lama ia mulai menangis tidak terima saat Nevan merengkuh dan memeluknya paksa.


"Papa!" Gantari memukul bokong Nevan, lalu merebut El dari pelukan Nevan dengan tampang tidak terima. "Jangan dibikin nangis!"


Nevan bangkit dengan mengucek matanya, lalu menoleh dan melihat jam masih menunjukkan pukul 2 dini hari. Astaga!


"El duluan yang jahil, Dihyan," adu Nevan sambil merebahkan tubuhnya ke pangkuan Gantari, lantas memeluk pinggang sang istri. Tampak tidak mau kalah dari El.


El yang merasa terganggu, langsung mendorong kepala Nevan. Namun, papa muda itu enggan mengalah. Hingga, lagi-lagi El mengeluarkan jurus andalannya, menangis.


"Tuh, kan cengeng! Dihyan ini bukan cuma mama kamu, tapi dia juga istiku!" tukas Nevan tanpa mau beranjak.


Gantari hanya menghela napasnya pasrah. Membiarkan dua bayi beda usia itu bertengkar memperebutkan dirinya.


***


"Telat lagi loe?" Fikri yang sengaja menunggu Nevan di pintu masuk ruang kerja, langsung mengintrupsi. Kemudian, memandang jam yang sudah menunjukkan angaka 11 dengan ekspresi datar.

__ADS_1


Nevan menoleh, tampak tidak terkejut sama sekali karena memang ini bukan kali pertama terjadi. Fikri sang asisten, memang sudah sering menegur keterlambatannya.


Bentar, bentar, kayaknya ada yang salah.


"Biasa, Fik, El ngajak begadang," terang Nevan sembari meletakkan tas kerjanya ke atas meja.


"El atau Mama El?"


Nevan membalikkan tubuhnya menghadap Fikri, lantas tersenyum jahil. "Dua-duanya."


Fikri langsung mengumpat. Ia bahkan menarik napasnya panjang, sebelum menyerahkan beberapa map berisi laporan kepada Nevan. Kemudian, duduk duluan di sofa. Kakinya memang sudah pegal wara-wiri kesana-kemari sejak pagi dan sekarang ia justru dipanas-panasi. "Itu hasil gue NGEGANTIIN loe tadi pagi."


"Sering-sering aja, Van! Lama-lama gue pecat loe jadi bos," sungut Fikri, hingga membuat Nevan tertawa puas.


"Gue emang niat resign."


"Gila loe!" Fikri berdiri lagi. "Mau ngapain loe resign-resign segala?"


"Duit gue udah banyak," balas Nevan santai. Kemudian, gantian duduk di atas sofa. Namun, sebuah map langsung melayang dan menggeplak lengannya. Lagi-lagi Nevan tertawa.


Diam-diam Fikri mengamati sahabatnya itu. Belakangan, Nevan tampak bahagia dan sumringah sekali, membuat dia berpikir untuk menikah juga.

__ADS_1


"Dokter tempo hari udah mau balas chat loe?" tanya Nevan tiba-tiba. Seolah tahu dengan jalan pikiran Fikri.


Fikri tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian, duduk lagi dengan lesu.


"Perjuangin!" Nevan melipat tangannya ke depan dada, lantas menatap Fikri serius. "Kalau dia nolak loe dengan alasan loe terlalu baik, jangan percaya."


"Kenapa?"


Nevan memegang dagunya, mencoba mengalisis. "Karena itu fitnah."


"Nevan nggak waras!" Hampir saja Fikri menyerang Nevan lagi dengan map di tangannya. Namun, pemuda yang hobi gonta-ganti gaya rambut itu keburu menghindar.


"Puahahaha. Gue balik, ya, Fik. Kangen sama Mama El."


***


Berhubung sebentar lagi Idulfitri, kayaknya Nevan berniat bikin Kahiyang Fitri 😂


Habis ini lanjut baca Terjerat Cinta Berondong, ya. Udah tamat juga.


__ADS_1


__ADS_2