
Sekarang, tugas Gantari adalah membuat tim untuk acara amal yang akan dilakukan secepat mungkin. Jika acara amal harus dilaksanakan cepat, maka konsekuensinya adalah gerak mereka mencari sponsor juga harus cepat.
Fiuh!
Gantari baru saja kembali ke kantor bersama rekan-rekannya. Dia tidak langsung kembali ke kubikelnya, melainkan duduk dulu di lobi sembari mengipas-ngipas diri.
Bukan ruangan itu tidak ber-AC, tapi memang hati Gantari yang sedang panas.
"Emang kipas-kipas di atas nggak bisa?" Si biang kerok datang dengan tergopoh.
Duh, pake nyusul turun segala, pikir Gantari.
Gantari tidak menjawab, dia masih sibuk mengipasi dirinya dengan berkas di tangan. Kalau dipikir-pikir, fungsi berkas serba guna juga. Bisa untuk kipas, bisa untuk melempar orang, bisa juga untuk memukul.
Merasa tidak digubris, Angaksa beringsut dan duduk di samping Gantari.
"Gimana?"
"Gimana, gimana?" sungut Gantari.
Sudah, dibilang hati Gantari sedang panas, masih juga nekat.
"Mencari sponsor untuk acara amal, sama mustahilnya dengan melihat Bapak botak," lanjut Gantari.
Angkasa melotot. "Kamunya kali kurang gesit."
Gantari menghentikan gerakan mengipasnya, lalu mendelik tajam pada Angkasa. "Mereka takut, Bapak menyalah gunakan bantuan mereka."
Angkasa menahan napasnya sebentar, lalu mengembuskan kasar. Ia berdiri, lantas berkacak pinggang.
"Astaga!" katanya tak bisa berkata-kata.
"Kita ubah rencana," ujar Gantari.
"Rencana apa?"
"Uang Bapak banyak nggak?"
Angkasa melirik Gantari curiga. Namun, akhirnya dia mengangguk ragu.
"Kita adakan bakti sosial aja. Siapa suruh, reputasi Bapak jelek. Itung-itung mengurangi dosa Bapak juga, kan?"
Angkasa sudah hampir meledak. "Kamu ini karyawan atau musuhku, sih?"
Namun, ledakan emosi Angkasa itu hanya dibalas Gantari dengan tatapan datar. "Gimana?"
"Ya, udah."
***
Nevandra Ardiona
Udah pulang? 16.15 PM
Read
Gantari Dihyan Irawan
Udah 16.17 PM
Read
__ADS_1
Nevan mendengkus membaca balasan singkat Gantari. Hatinya memang sedang melow akhir-akhir ini.
Berulang kali dia mengetikkan pesan balasan, namun selalu dihapus lagi dan sekarang dia sudah melempar dirinya ke atas ranjang dengan masih menggunakannya pakaian kerja lengkap. Menatap langit-langit dramatis.
Ponsel Nevan berdering dan dengan malas Nevan meraihnya dari atas nakas. Namun, matanya seketika membeliak ketika melihat nama Gantari terpampang disana.
"Halo?"
"Kenapa tulisannya dari tadi sedang mengetik, tapi chat-nya nggak nyampe-nyampe?"
Nevan melongo, lalu senyum sumringah terukir di bibirnya.
Jadi Gantari menunggu balasannya.
"Habisnya, jawaban kamu singkat banget. Aku jadi bingung balasnya."
Terdengar kikikan dari seberang. "Ya, udah, ulang."
"Mana bisa gitu."
"Ya, udah, besok."
"Palingan besok aku juga yang mulai."
Astaga, Nevan! Kamu kayak a-be-ge.
Gantari tertawa lagi. "Dari dulu juga kan emang kamu terus yang mulai. Sekarang kenapa ngeluh?"
"Aku nggak ngeluh."
"Terus?"
"Terus terang aku cinta."
Halah.
***
"Ok! Siap, ya?"
Gantari mengambil alih rapat dengan semangat membara pagi ini. Hari ini mereka akan kejar target menyelesaikan hal yang bisa diselesaikan.
"Pak Angkasa, dana sudah oke?"
Angkasa tidak menjawab, ia hanya mengangguk malas.
"Vivi, target baksos sudah aman?"
"Siap! Aman."
"Rizki dan tim, segera temui Pak Angkasa dan belanja sesuai yang kita rencanakan kemarin."
"Laksanakan!"
"Fajar, kamu bagian promosi. Siapkan spanduk, selebaran, dan sebagainya berbentuk softcopy dan hardcopy."
"Siap!"
"Wulan, segera hubungi wartawan dan tawarkan meliput acara ini. Jangan lupa, bawa embel-embel skandal si bos."
Angkasa melotot, sedangkan Wulan sudah cekikikan sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Semuanya, segera maksimalkan fungsi sosial media kalian. Kita manfaatkan the power of sosmed dengan hastag ...."
"Pesona Angkasa!" teriak semua peserta rapat bersamaan.
__ADS_1
"Mantap!"
"Itu ambigu!" protes Angkasa. Namun, tidak ada yang peduli karena mereka semua segera sibuk menyelesaikan tugasnya masing-masing.
Setelah dua hari lembur, tiba saatnya acara bakti sosial dilaksanakan.
Hari ini Angkasa dan tim sudah berdiri di depan pagar sebuah sekolah dasar negeri untuk menyambut anak-anak yang baru datang diantar orang tuanya.
"Selamat pagi, jagoan."
Uhuk!
Si anak tampak malu-malu menerima sambutan Angkasa barusan. Ngomong-ngomong Angkasa memang jadi tokoh utama hari ini. Dia memberikan kotak bekal dengan karakter kartun beserta makanan bergizi yang dibuat semenarik mungkin di dalamnya. Salut untuk tim Angkasa!
"Kotaknya dicuci dulu, Om?"
Angkasa melongo ketika seorang gadis cilik menemuinya. Kemudian, ia terkekeh geli membuat Gantari yang berdiri di dekatnya bergidik ngeri.
"Nggak, Sayang. Kotaknya spesial untuk kamu."
Mendengar itu si gadis langsung berjingkrak bahagia dan lari ke arah kerumunan temannya yang rupanya juga menunggu kabar yang sama.
Cekrek!
Fajar gesit mengabadikan momen.
Karena antrian mulai membludak, jadi yang lain ikut turun tangan membagikan, meski kenyataannya Angkasa mendapat antrian paling panjang. Hidup pesona Angkasa!
Orang tua yang mengantar anak-anak juga tampak ikut bahagia.
Cekrek lagi!
Tenang, mereka juga tidak dibiarkan menganggur oleh tim Angkasa, karena sembako murah sudah tersedia di stand sebelah.
"Hasil penjualan akan disumbangkan sepenuhnya pada anak-anak kita yang tidak sekolah."
Begitu, bunyi spanduk yang ada di atas stand tersebut.
Para pedagang kaki lima hari ini tidak terlihat, bahkan kantin sekolah juga tutup karena Angksa sudah memberikan kompensasi ganti rugi pada mereka semua. Jadi, mereka tetap mendapatkan pemasukan tanpa berjualan hari ini.
Pesona Angkasa memang luar biasa.
Angkasa mulai tebar pesona lagi.
Tidak pilih-pilih, semua kena pesona Angkasa.
Selera Angkasa dari muda sampai tua.
Itu adalah rentetan berita online yang berhasil menghiasi situs berita hari ini. Khusus judul berita yang terakhir membuat Angkasa sontak tersenyum kecut.
Bahkan, ada juga infotaintment yang menayangkan kegiatan Angkasa hari ini. Awalnya mereka terjebak dan mengira Angkasa ada skandal baru dengan artis wanita, tapi melihat momen bahagia hari ini, membuat mereka memutuskan untuk tetap menayangkannya.
Benar kata orang, jika sebenarnya yang memberi akan merasakan bahagia berlipat-lipat ketimbang yang menerima. Itulah yang dirasakan Angkasa dan tim sekarang. Mereka lupa dengan tujuan memperbaiki reputasi, yang mereka tahu sekarang adalah saat-saat yang membuat dada mereka terasa lapang. Mereka tertawa bersama, bercanda bersama, dan terharu bersama.
"Setelah ini aku teraktir kalian makan enak!" teriak Angkasa yang langsung disambut sorak sorai karyawannya.
"Terima kasih, Pak Asa."
Angkasa menoleh dan mendapati Gantari mengucapkan kalimat itu sambil tersenyum.
Asa?
Asa?
Asa?
__ADS_1
Setetes air mata Angkasa meluncur begitu saja, hingga membuat Angkasa bingung sendiri.