
Hari-hari berjalan lancar belakangan ini. Nevan juga semakin semangat bekerja agar bisa memanjakan sang istri dengan bebas beli ini itu dan pulang tetap waktu. Ya, meski terkadang Nevan memanfaatkan posisinya dan pulang jauh lebih awal, hingga membuat Fikri ngedumel terus.
Seperti hari ini. Jam di dinding baru menunjukkan pukul 15.15 WIB dan Nevan sudah laporan dalam perjalanan pulang pada astisten pribadinya itu. Membuat Fikri menjambak rambutnya sendiri.
Utami yang melihat tingkah laku Fikri hanya memperhatikan diam-diam. Sejak kejadian tempo hari, ia belum berani menyapa teman sejawatnya itu. Apa yang dilakukannya pada Gantari memang memalukan.
"Pak Nevan balik. Kerjaan dia masih ada nggak?" tanya Fikri tiba-tiba yang membuat Utami tersentak kaget.
"Udah nggak ada. Cuma ada beberapa berkas yang perlu ditandatangani, tapi besok pagi masih bisa," balas Utami canggung.
"Oh, bagus, deh." Fikri baru saja akan melangkahkan kakinya ketika Utami kembali bersuara.
"Maaf, ya, Fik."
"Buat?"
"Buat perbuatan nggak tau malu aku."
Fikri menatap Utami dalam. Ia mengenal Utami sudah cukup lama. Gadis rantau itu sebenarnya gadis yang polos. "Cinta memang gila, Ut, tapi bukan berarti kita nggak bisa mengendalikannya."
Utami menundukkan kepalanya, lalu mengangguk paham. Suaranya terdengar bergetar ketika mengatakan, "Aku udah jadi orang jahat, Fik."
"Emang."
Itulah Fikri. Tidak ada kamus nggak enakan dalam dirinya. Iya tetap iya dan tidak tetap tidak. "Jadi jangan ulangi lagi."
Sekali lagi Utami mengangguk. Sebulir air matanya mulai menetes.
"Mending nangis dan akui kekalahan dari pada ngehancurin kebagian orang yang loe sayang."
Utami makin terisak. Ia menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya. Bahunya bahkan terlihat gemetar, hingga membuat Fikri mendekat.
"Udah, dong. Nanti orang-orang ngira gue nolak loe," goda Fikri garing.
__ADS_1
"Farez. Farez yang nolak aku."
"Hah?" Fikri duduk di dekat Utami. Saatnya mengosip.
"Farez si dokter?"
"Iya. Dia nolak aku, Fik." Utami menurunkan tangannya dari wajah, lalu menatap Fikri dengan mata basah. "Aku udah ngelupain harga diri buat nembak dia, tapi dia malah nolak."
Oh, sekarang Fikri paham. Utami jadi segila itu karena diabaikan oleh dua orang lelaki yang sama-sama hanya bisa menatap Gantari.
"Utami!"
"Apa?"
"Semangat!" Tuh, kan! Fikri garing.
***
Nevan sudah mondar-mandir saja dari tadi. Ia sengaja pulang lebih cepat, tapi justru tidak menemui Gantari di rumah. Bi Murni juga mengaku tidak tahu kemana Gantari pergi.
Gantari yang melihat Nevan sudah menunggunya di teras tampak terkejut. Ia memang tidak pamit pada sang suami karena ia kira hanya akan keluar sebentar saja.
"Kamu udah pulang?"
Nevan menatap Gantari curiga karena istrinya tampak cengengesan saja. Gantari bahkan lupa mengucapkan salam seperti biasa.
"Dari mana, Dihyan?"
"Keluar sebentar."
"Ke?"
"Luar."
__ADS_1
Nevan menatap Gantari dengan ekspresi datar, hingga membuat Gantari terkekeh geli.
"Jangan marah-marah. Aku kan baru pulang," rengek Gantari, lantas menggamit lengan Nevan.
"Dari mana?" ulang Nevan.
Ada yang tidak biasa pada Gantari. Meski ia tampak selalu mengulas senyum, tapi tadi Nevan melihat ketika baru keluar dari mobil, wajah Gantari tampak murung. Nevan membalikkan tubuhnya menghadap snag istri, lalu memengang kedua pundaknya.
"Hm?"
"Rumah sakit." Gantari menunduk, memutuskan kontak matanya dengan Nevan.
"Untuk?"
"Konsultasi."
Kening Nevan berkerut. Ia menyentuh dagu Gantari agar membalas tatapannya. "Konsultasi apa, Sayang?"
Kali ini Gantari tak langsung menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya, baru menjelaskan. "Penyebab aku belum hamil lagi."
Nevan terhenyak. Ia baru menyadari jika Gantari tertekan. Mendadak ada rasa nyeri yang Nevan rasakan di hatinya. Betapa tidak pekanya ia.
Nevan menarik Gantari dalam pelukan, lantas mendekapnya erat. "Kenapa nggak ngajak aku?"
Setetes air mata Gantari akhirnya lolos juga. Ia tahu betapa Nevan menginginkan hal itu lebih dari siapapun.
Seolah paham, Nevan kembali melanjutkan, "Sekarang nggak ada lagi soal aku atau kamu, yang ada hanya kita. Kita hadapi semuanya bersama, Dihyan."
Nevan mengendurkan pelukannya, lantas menatap Gantari dalam. "Bukannya kita udah sepakat untuk membicarakan semuanya?"
"Tapi ternyata nggak semudah itu," balas Gantari jujur.
Nevan mengulas senyum hangat di bibirnya. Kemudian, mengusap puncak kepala Gantari. "Emang nggak mudah, tapi lama-lama akan terbiasa."
__ADS_1
Gantari akhirnya mengangguk ketika Nevan terus menatapnya dengan alis naik turun menunggu persetujuan.
"Ayo masuk! Lebih baik kita banyak usaha ketimbang banyak bicara," lanjut Nevan dengan senyum licik.