
Gantari memacu sepeda motornya menyusuri jalan raya. Pikirannya melayang meski pandangannya masih fokus mengendalikan laju kendaraan. Ada ganjalan besar di hatinya yang membuat seluruh organ tubuhnya jadi tidak enak.
"Aih!" Gantari mendecak kesal bukan lantaran ada kendaraan yang tiba-tiba berhenti, tapi karena hatinya kian terasa sesak. Ia menarik pedal rem dan membelokkan sepeda motornya di persimpangan, lantas melaju lagi dengan tidak ragu menuju rumah Nevan.
Membiarkan masalah hanya akan membuatnya tidak enak makan dan tidur.
Sepeda motor Gantari sudah terparkir di halaman rumah milik Nevan. Sejenak, Gantari terdiam memandang rumah berlantai dua yang didominasi cat warna putih di hadapannya. Kemudian, diembuskannya napas dalam, lalu melepaskan helm dari kepala dan melangkah menuju teras.
Pagi-pagi menyatroni rumah mantan suami rasanya canggung juga. Apa lagi, Gantari yakin Bi Murni sedang ada di rumah.
Eh! Emang apa yang dia harapkan? Berduaan dengan Nevan, gitu?"
"Mbak Gantari?"
Oh, Tuhan.
Gantari yang tadi sempat tersentak langsung memutar tubuhnya dan mendapati Bu Murni sudah berdiri di belakangnya dengan sebuah gembor.
Sambil nyengir lebar, Gantari mengangguk dan menyapa Bu Murni dengan ramah. "Lagi nyiram bunga, ya, Bi?"
Garing.
Bi Murni hanya melirik gembor yang sedang ia pegang, lalu mengangguk. "Cepat temuin Mas Nevan, deh, Mbak," ujarnya khawatir.
__ADS_1
"Kenapa, Bi?" tanya Gantari dengan alis berkerut. Pura-pura tidak tahu. Pada hal wajah kecewa Nevan masih berputar-putar di pikirannya.
"Lagi kacau banget, kayaknya."
Gantari mengangguk, lalu masuk ke dalam rumah setelah dipersilakan oleh Asisten Rumah Tangga Nevan tersebut. Sedangkan, Bi Murni memutuskan melanjutkan kegiatannya menyiram tanaman.
Terakhir kali dia kesini bersama Nevan dan hari ini dia datang sendiri. Tidak ada adengan kebingungan mencari kamar Nevan karena Gantari pernah tahu dan masuk ke kamar Nevan. Dulu ketika Gantari masih bekerja di Rawikara Retail, dia juga pernah ke sini saat Nevan menghilang dari kantor dan rupanya sedang terkapar di kamar karena sakit.
Perlahan Gantari menekan kenop pintu dan pintu perlahan terbuka dengan diiringi suara derikan pelan. Hal pertama yang Gantari lihat adalah Nevan yang berbaring di atas ranjang dalam keadaan tengkurap.
Gantari memutuskan masuk tanpa suara setelah menutup kembali pintu. Ia tahu Nevan sedang tidak tidur. Laki-laki itu punya penyakit susah tidur jika sedang banyak pikiran.
Tampaknya Nevan memang langsung melempar tubuhnya ke atas ranjang karena ia tidur menghadap kaki ranjang. Tidur dalam keadaan tengkurap dengan berbantalkan tangan yang menutupi sebagian wajahnya, membuat Nevan terlihat begitu polos. Diam-diam senyum tercetak di bibir Gantari. Senyum pertamanya pagi ini.
Pandangan Gantari beralih dari wajah ke jemari Nevan. Salah satu hal yang paling Gantari suka. Jemari itu begitu putih dan lentik, bahkan terkadang Gantari cemburu melihatnya. Perlahan Gantari mengangkat dagunya dan beralih meraih jari Nevan, lalu memainkannya.
Nevan bergeming. Dia sama sekali tidak bergerak atau sekadar membuka mata. Membuat keyakinan Gantari semakin kuat, jika Nevan memang sedang tidak tidur.
Gantari pun begitu. Dia sama sekali tidak berniat bicara. Dari tadi hanya asik saja memainkan jemari Nevan.
"Perasaanku belum berubah dan nggak akan berubah," ucap Nevan dengan suara berat yang teredam permukaan ranjang.
Gantari tersenyum lagi, meski ia tahu Nevan tidak melihatnya.
__ADS_1
"Aku tau," balas Gantari. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya.
"Aku nggak suka mendengar itu dan kuharap nggak akan mendengarnya lagi." Pemuda itu terus saja bicara dengan mata yang masih tertutup.
Kali ini Gantari menggenggam jemari Nevan. Menautkan jemari mereka dengan erat. Sekilas ia menarik napas dan mengembuskannya pelan.
"Maaf karena lagi-lagi aku menyakitimu."
Nevan menggelengkan. Matanya masih terpejam.
"Justru aku yang selalu menyakitimu, kan?" Suara Nevan terdengar kian berat. Dia masih teringat dengan ucapan Farez tadi. Masih teringat gosipnya dengan Mariah. Bahkan, ia masih ingat dengan fakta jika ... ia membiarkan dirinya salah paham begitu lama pada Gantari, dulu.
Tanpa bisa dikendalikan lagi, sebulir air mata lolos dari ujung mata Nevan. Membuat Gantari yang melihatnya merasakan pedih di hatinya.
Gantari mengarahkan sebelah tangannya yang bebas ke kepala Nevan, lantas mengusapnya lembut. Mereka berdua pernah sama-sama terluka oleh masa lalu dan keadaan. Satu-satunya cara hanya terus berjalan meski akhirnya tidak bisa melupakan.
"Dengar ...." Gantari menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah Nevan, hingga mau tidak mau pemuda itu mendongak dan membuka mata.
Sejenak, dua manik mata yang menyimpan luka itu beradu. Mencoba saling berbagi dan memaklumi. Hingga kemudian, bibir Gantari perlahan menempel dengan lembut di bibir Nevan.
"Aku cuma mau kamu, nggak mau yang lain," ucap Gantari kemudian.
***
__ADS_1
Jika : Nggak ada Bang Nevan, kan, ya? 👀