
Setiap kali aku merindukanmu aku selalu menderita, tapi lucunya aku suka. Malam hari sebelum raga benar-benar terlelap merupakan waktu rutin untukku mengenang masa bersamamu dulu.
Aku kira, aku bisa memaksa diri untuk lepas darimu, namun semakin aku paksa, semakin rindu itu mengakar. Semakin aku paksa, semakin harapan itu mekar.
Nevandra Ardiona, aku tidak pernah kehabisan stok untuk selalu merindukanmu lagi dan lagi.
***
Gantari tersentak kaget ketika Bi Murni memegang pundaknya.
"Mbak Gantari duduk aja. Biar bibi yang goreng ayamnya," tawar Bi Murni.
Gantari langsung mengarahkan pandangannya pada ayam yang sedang berada dalam penggorengan dan rupanya tidak gosong, meski tadi ia sempat-sempatnya melamun.
Melihat raut wajah Gantari tersebut, membuat Bi Murni terkekeh.
"Nggak gosong, kok, tapi Mbak Gantari pasti capek."
"Capek kenapa, Bi?" tanya Gantari heran. Apa mungkin Nevan sempat-sempatnya bercerita tentang hilangnya ia semalam.
"Capek habis ngelus-ngelus kepala Mas Nevan," goda Bi Murni sambil tertawa geli, lantas mengambil sendok penggorengan dari tangan Gantari.
Astaga!
Wajah Gantari langsung memerah. Sepertinya tadi pintu kamar tertutup. Kenapa Bi Murni bisa tahu?
Gantari patuh. Ia mundur dan memilih duduk di kursi meja makan untuk memperhatikan Bi Murni yang melanjutkan pekerjaannya, tanpa perlawanan. Ketimbang nanti muncul lagi bahan yang akan digunakan Bi Murni untuk menggodanya.
"Mas Nevan itu beda kalau sama Mbak Gantari." Bi Murni kembali bersuara tanpa menoleh. Kali ini ia sibuk dengan pisau di tangannya untuk mengupas bawang merah.
"Beda gimana, Bi?"
"Manja." Bi Murni menghentikan kegiatannya mengupas bawang dan membalikkan badan menghadap Gantari. "Matanya juga kelihatan lebih bahagia."
__ADS_1
Gantari terkekeh. "Kirain matanya bersinar, Bi," balas Gantari cekikikan.
Tidak disangka Bi Murni mengangguk. "Emang. Mas Nevan kelihatan lebih hidup."
Astaga, ini berlebihan.
Gantari mengambil salah satu gelas yang tersusun di atas meja, lantas menuangkan air ke sana.
"Mbak Gantari percaya nggak kalau Mas Nevan pernah ikut balapan liar?"
Gantari menenggak air minumnya, lantas mengangguk. "Percaya. Dari zaman SMA dia kan emang suka kebut-kebutan."
"Terus koma selama dua bulan."
Hah?
Kalau ini Gantari baru tahu. Ia terkejut dengan informasi yang diberikan Bi Murni. Kemudian, ia menegakkan tubuhnya mencoba mendengarkan dengan saksama informasi lanjutan yang akan Bi Murni sampaikan.
"Salah satu yang disarankan dokter buat terapi depresi Mas Nevan, ya, ngelakuin hal yang dia suka," cerita Bi Murni. "Tapi, Mas Nevan malah milih balapan."
"Dua bulan, Bi?" tanya Gantari masih tidak percaya.
"Iya. Dua bulanan." Bi Murni mengangkat ayamnya dan meniriskannya ke atas piring, lantas mematikan kompor. Kemudian, ia bergerak ke arah wastafel untuk mencuci tangan. Pada hal bahan membuat sambal belum selesai ia rampungkan.
Nalurinya sebagai seorang wanita yang ingin bercerita panjang lebar keburu berkuasa. Ia berjalan mendekati Gantari, lantas ikut duduk di sana.
"Itu gara-gara teman Mas Nevan yang rambut panjang." Wajah Bi Murni berubah kesal ketika menceritakan bagian itu. Kemudian melanjutkan, "Siapa, ya, namanya? Semesta bukan, ya?"
"Angkasa?"
"Nah, iya! Angkasa. Kan si gondrong itu yang sering ngajakin Mas Nevan balapan."
Gantari mengangguk. Ia memang pernah mendengar, Nevan dan Angkasa kenal di masa-masa perpisahan mereka.
__ADS_1
"Pas sadar, orang yang Mas Nevan cari itu ...." Bi Murni seolah sengaja menggantung kalimatnya. Ia menatap Gantari lekat, lantas dengan hati-hati melanjutkan, "Dihyan."
Mendadak Gantari merasakan perih di hatinya. Terlalu pedih, hingga air matanya menetes begitu saja, namun ia segera menyekanya.
"Semenjak itu nama Dihyan jadi kata yang terlarang buat diucapkan sama Nyonya," lanjut Bi Murni prihatin.
Tanpa bertanya pun, Gantari tahu siapa nyonya yang dimaksud. Adelia Pertiwi, Ibu Nevan.
"Bibi tau banyak, ya?"
Bi Murni mengangguk. "Bibi ikut Mas Nevan waktu ke Singapur. Butuh waktu lama buat bisa ngobrol sama dia kayak sekarang ini. Mas Nevan tertutup banget, bahkan dia nggak pernah nyapa Bibi dulu," kenangnya.
"Tapi, sekarang dia sayang banget sama Bibi," balas Gantari. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Berkat Mbak Gantari." Melihat Gantari menautkan alisnya, Bi Murni kembali melanjutkan, "Bibi mancing Mas Nevan pakai nama Mbak Gantari."
Gantari masih tidak mengerti, namun ia tetap setia mendengarkan.
"Nama Dihyan nggak boleh, jadi kami ngomongin Gantari," cerita Bi Murni merasa geli sendiri, hingga membuat mereka tertawa bersama.
"Gosip terus ...."
Keduanya sama-sama menoleh dan mendapati Nevan sudah berdiri di ujung meja makan dengan wajah pura-pura kesal. Kemudian, ia berjalan mendekat dan berdiri di belakang Gantari.
"Kok cepat banget tidurnya?"
"Telingaku sakit. Rupanya lagi diomongin."
"Dih!"
Bi Murni tersenyum geli mendengar obrolan dua orang yang sedang kasmaran itu, lantas beranjak dari duduknya dan kembali melanjutkan menyiapkan bahan untuk membuat sambal ayam geprek.
Nevan membungkukkan tubuhnya, lantas berbisik di telinga Gantari, "Beraninya cuma nyium waktu aku lagi tidur."
__ADS_1
ASTAGA!
***