
"Kenapa?" Fikri yang duduk di hadapan Nevan akhirnya bertanya. Sebenarnya, sudah sejak tadi ia menyadari jika bosnya itu sedang uring-uringan.
Nevan yang sedang mempelajari salinan kontrak yang diberikan Fikri sontak mengangkat wajahnya. "Deal aja, deh."
"Deal apaan? Gue nanya, loe kenapa?"
Nevan menghela napas, lantas beranjak dari kursi kebesaran dan berpindah ke sofa. Fikri tidak mengikuti. Ia hanya memutar kursinya menghadap Nevan yang makin memasang tampang kusut.
"Gantari."
"Gantari kenapa?" tanya Fikri cepat. "Loe jangan macem-macemin Gantari gue, ya!"
Andai suasana hatinya sedang tidak buruk, mungkin Nevan sudah menggeplak kepala asistennya multi fungsinya itu. Namun, kali ini Nevan hanya memutuskan untuk menghela napas lagi.
"Gantari hamil."
Fikri membuka lebar matanya, lantas dengan mulut ternganga ia berdiri dari duduknya. "Jadi pernikahan kalian itu beneran, ya? Bukan nikah kontrak kayak di novel-novel? Gue kecewa banget, ya Tuhan."
Nevan mendelik, lalu mendecak sebal. "Loe bisa serius nggak? Kalau enggak gue ogah lanjut cerita."
"Oh, oke!" Fikri memutuskan duduk kembali. Kali ini dengan kaki bersilang dan dagu yang ditopang dengan tangan kanannya, siap mendengarkan dengan serius. "Bukannya harusnya loe senang? Kok malah kayak anak sekolah habis nerima raport gini?"
"Seneng, tapi sejak hamil dia nggak mau gue sentuh!" sungut Nevan, lalu menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Hah? Yang bener?" Fikri kembali antusias. Bahkan, kali ini dia berdiri dan berpindah tempat duduk ke samping Nevan. "Dilarang dokter?"
"Bukan."
"Bawaan bayi?"
"Gantari malu kalau dia hamil."
Fikri melotot lagi. "Dia malu punya anak dari loe? Nah, kan bener! Harusnya Gantari nikah sama gue aja biar keturunan kami sempurna."
Mulut Fikri langsung terkunci karena Nevan langsung mencengkram kerah bajunya. "Oke, lanjutin."
Mungkin, kalau Nevan tidak mengenal Fikri sejak lama, laki-laki itu pasti sudah Nevan lempar ke luar jendela.
"Dia khawatir sama omongan orang karena hamilnya kecepetan," jelas Nevan. Ia sudah menurunkan tangannya dari leher Fikri.
Fikri mengangguk paham. "Kalau nurutin omongan orang emang nggak bakal ada habisnya. Kapan wisuda? Kapan kerja? Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan nambah anak? Cuma kapan mati aja yang jarang ditanyain."
Nevan ikut mengangguk. Kali ini ucapan Fikri bisa diterima nalar. "Terus menurut loe gimana?"
"Ya, loe harus nyoba ngerti perasaan Gantari, tapi pelan-pelan yakinin kalau ketakutan dia nggak terbukti. Toh, belum ada yang nyinyir, kan?"
"Belum, sih. Kan dirahasiain sama dia."
__ADS_1
"Ajak ke kantor sesekali. Biar pikirannya lebih tenang."
Nevan mengangguk lagi. Ini pengalaman pertamanya menghadapi wanita hamil, jadi butuh banyak belajar. Namun, ia lupa kalau Fikri juga sama tidak berpengalamannya.
***
Sejak kejadian waktu itu Gantari memang menjaga jarak dari Nevan. Bahkan, duduk saja tidak mau dekat-dekat. Hal ini membuat Nevan hanya bisa mengurut dada saja.
"Kita periksa, yuk, Sayang."
Gantari yang sedang menonton televisi menolehkan kepalanya pada Nevan yang duduk di kursi lain. "Periksa apa?"
"Periksa anak kita," jawab Nevan hati-hati.
"Hari ini udah aku tes lagi dan tetap garis dua."
Nevan terdiam. Rupanya kekhawatiran sang istri memang tidak main-main.
"Karena positif makanya harus diperiksa," lanjut Nevan mencoba tenang.
"Besok-besok aja. Sekarang belum kelihatan gejalanya."
Tak mau mendesak akhirnya Nevan pasrah. Terus dipaksa justru malah akan berujung pertengkaran.
"Besok mau ikut ke kantor?"
Nevan diam sejenak memikirkan alasannya. "Menang tender lagi. Jadi, kali ini mau dirayakan biar pada semangat."
Gantari mengangguk kuat. "Aku yang masak boleh?"
"Boleh," jawab Nevan tersenyum kecil. Andai Gantari sesemangat ini ketika membahas tentang anak mereka.
***
Nevan memutuskan berangkat lebih dulu ke kantor, sedangkan Gantari masih sibuk masak besar dengan Bi Murni. Sebelum berangkat, dia ke dapur dan pamit pada sang istri. "Nanti aku jemput, ya."
Gantari yang sedang fokus dengan blender tidak mendengar ucapan Nevan tersebut. Beruntung Bi Murni menepuk pelan pundaknya, hingga Gantari mematikan mesin pelumat itu sebentar, lantas menoleh.
"Nanti aku jemput," ulang Nevan setelah mengulas senyum.
"Nggak usah. Nanti aku bawa mobil sendiri aja."
Nevan tercenung. Gantari sedang hamil muda, mana baik membawa mobil sendiri. "Aku jemput aja," putus Nevan, lantas ia berjalan mendekati Gantari dan mengecup kening sang istri.
***
Nevan melangkah keluar dari ruang meeting dengan tergesa. Sekarang sudah mendekati waktu makan siang dan dia belum menjemput Gantari.
__ADS_1
Ia berjalan memasuki ruangan kerjanya karena kunci mobil ada di sana. Namun, langkah Nevan sontak terhenti karena rupanya Gantari sudah ada di sana dengan senyum mengembang tengah menyambut kedatangannya.
"Kamu udah siap meeting-nya?"
Baru kali ini Nevan merasa tak suka ketika melihat kehadiran Gantari. Ada hal yang membuat suasana hatinya buruk.
"Sudah."
"Ayo, makan. Tadi aku udah minta tolong Mas Ikmal buat nata makanan di pantry," beritahu Gantari sumringah.
Panty Rawikara Retail memang sering menjadi ajang tempat berkumpul karyawan ketika istirahat makan siang atau saat bosan dengan makanan kantin. Selain karena ruangannya cukup luas fasilitasnya juga cukup lengkap.
Nevan mengulas senyum tipis, lantas mengangguk. Ia berjalan mengikuti Gantari yang sudah berjalan lebih dulu menuju pantry. Rupanya dua meja bundar di sana sudah hampir terisi penuh oleh tim tender yang Nevan maksud.
"Gantari!" Fikri yang tidak sabar mencomot ikan bakar langsung berdiri dan meminta Gantari duduk di sampingnya. "Kamu nggak kangen? Aku kangen."
Gantari tergelak. "Aku kangen semua."
Nanda yang duduk di seberang hanya mencibir pada Fikri. Laki-laki itu emang jarang serius.
Elma yang juga sudah tidak sabar lagi langsung meminta izin untuk segera makan. Ikan bakar, ayam geprek, capcay, goreng tahu tempe, benar-benar membuatnya tak tahan. Apa lagi sambal cabe hijau.
"Halah, kalian juga ngiler, kan? Tapi nggak berani makan duluan," sungut Elma sambil menyendokkan nasi ke piringnya.
"Sekalian, Kak," pinta Utami malu-malu sembari menyodorkan piringnya.
Gantari tertawa geli, lalu mempersilahkan yang lainnya untuk ikut makan juga. Suasana mendadak riuh saling meminta ini dan itu. Kemudian, hening sejenak menikmati makanan di piring masing-masing dan riuh lagi.
Gantari memakan makanannya setelah mengambilkan bagian untuk Nevan terlebih dahulu. Sesekali ia melirik pada sang suami yang baru ia sadari jadi pendiam sekali.
"Syukuran apa, sih, Tar? Loe hamil, ya?" celetuk Vivian seperti biasa tanpa saringan.
"Ada-ada aja, loe. Gantari baru nikah masa udah hamil aja," balas Nanda di sela suapannya.
Belum sempat terdengar jawaban dari Gantari, fokus perhatian berpindah pada Fikri yang terbatuk-batuk. "Emang kenapa kalau hamil? Udah nikah ini."
Vivian mengangguk, tapi Irfan ikut bersuara. "Mereka nikah belum sebulan loh, Fik. Mengada-ada aja, loh."
"Loe kira MBA."
"Apaan tuh MBA?"
"Married By Accident."
Kemudian, yang lain tertawa heboh dan mulai menceritakan ini dan itu sesuai dengan pengalaman mereka masing-masing. Begitulah manusia, sering kali menyinggung hati orang lain, lantas tidak menyadari.
Sedangkan, Gantari tidak tahan lagi. Dia berdiri dan pergi dari sana meninggalkan makanannya dan Nevan.
__ADS_1