
Angkasa sedang duduk di sebuah ruang pertemuan dengan gaya santainya seperti biasa. Kursi-kursi yang tersusun rapi mengelilingi meja melingkar panjang ala-ala ruangan rapat itu tampak banyak yang kosong. Hanya ada satu orang yang duduk di seberang Angkasa yaitu seorang Manajer pemasaran pihak Hotte Mart.
Sebentar lagi, dia akan melakukan penandatanganan kontrak dengan pihak Hotte Mart atas kemenangan tender beberapa waktu yang lalu. Hal yang sudah lama Angkasa tunggu-tunggu karena akhirnya, dia bisa mengalahkan Nevan.
Leo yang baru saja selesai menelpon, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lantas ikut masuk ke ruangan dan mengambil posisi berdiri di samping Angkasa. Kali ini Angkasa memang tidak melibatkan Gantari dan lebih memilih mengajak asisten pribadinya, Leo, karena ada hal yang harus ia lakukan dan Gantari tidak boleh tahu.
Sedikit membungkukkan badan, Leo berbicara pelan pada sang bos, "Semua sudah beres, Pak."
Angkasa yang mendengar laporan Leo tersebut, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja sembari terus memainkan bibir dengan jemarinya. Kebiasaan.
Hampir 15 menit duduk dengan menggoyang-goyangkan kursi, Angkasa mulai bergerak gelisah, karena yang ditunggu belum juga datang.
"Aku nggak suka kalau waktuku terbuang sia-sia," rutuk Angkasa. Bahkan, berkali-kali ia terlihat mengembuskan kasar napasnya. Menepuk-nepuk paha dan entah apa lagi.
Tindakan Angkasa tersebut, membuat Leo memasang tampang tidak enak pada si Manajer Pemasaran Hotte Mart yang duduk di seberang mereka. Leo yakin dia pasti mendengar ucapan bosnya tersebut dan akhirnya yang bisa Leo lakukan hanya meringis saja.
Beruntung, sebelum kobaran api di mulut Angkasa menyambar lebih lebar, CEO Hotte Mart tiba bersama sekretarisnya.
Angkasa menyambut CEO murah senyum itu dengan tampang datar. Suasana hatinya masih buruk akibat tidak tepatnya waktu si CEO baru tersebut.
"Maaf, terlambat, Pak Angkasa. Saya sedikit ada urusan," jelas si CEO sembari menyalami tangan Angkasa.
Angkasa tersenyum miring. "Kalau begitu kita sama, Pak ..." Angkasa melirik name tag laki-laki di depannya, lalu melanjutkan, "Doni, karena saya juga punya urusan lain," jawabnya ringan.
Leo meneguk ludahnya berat. Terlebih ketika melihat tampang Doni yang berubah masam.
"Harusnya Gantari aja yang ngurus," gumam Leo gusar.
Suasana tampak memanas, namun pada akhirnya Angkasa Grup tetap menandatangani kontrak juga. Meski tadi sempat membuat Leo ketar-ketir.
"Terima kasih. Saya harap semuanya berjalan lancar," tekan Doni. Aura tersinggung masih terpancar di wajahnya.
"Tentu. Kami akan melakukan yang terbaik," balas Angkasa kali ini bijak.
Angkasa sudah hampir berdiri, ketika Doni kembali bersuara. "Sebentar, Pak Angkasa. Dewan direksi kami ingin bertemu dengan anda."
Angkasa mengangkat sebelah alisnya.
Tanda tangan kontrak melibatkan dewan direksi? batinnya.
__ADS_1
Pintu terbuka lebar, membuat Angkasa mau tidak mau menjeda kebingungannya. Tiga orang laki-laki melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang pertemuan dengan gagah. Dua orang tampak masih berusia tiga puluh tahunan akhir, sedangkan yang berjalan paling depan tampak lebih tua dari keduanya.
Doni, Manejer Pemasaran dan sang sekretaris langsung berdiri, menyambut kedatangan ketiga orang itu. Leo juga sudah menoleh dan ikut berdiri. Hanya Angkasa yang masih tampak tak begitu peduli.
Tiga orang dengan setelah jas lengkap itu langsung mengambil alih duduk di kursi yang tertetak di kepala meja.
Angkasa mengekori pergerakan mereka dengan matanya, namun tiba-tiba raut sombongnya berubah pias. Jantungnya tersentak, hingga rasanya berhenti sejenak.
Angkasa membeku.
Pandangannya terpaku hanya pada satu titik, yaitu ....
"Selamat datang, Pak Angkasa. Kami harap kita bisa bekerja sama dengan baik," ucap pria yang paling tua.
***
Gantari sedang mengendarai Retic menuju rumahnya. Meski sudah ditawari menginap oleh Darya, namun Gantari menolak karena hatinya sedang tidak tenang.
Jadi ini maksud si gondrong nggak ngajak gue? rutuk Gantari sambil terus melaju.
Gantari terus saja bergelut dengan kerisauannya sampai-sampai dia tidak sadar, jika ada seorang pemuda yang sedang duduk di teras rumah menunggu dirinya.
"Astaghfirullah!" Gantari terperanjat. Dengan kepala yang masih memakai helm ia melotot kaget pada laki-laki yang sedang makan kiko itu.
Nevan terkekeh, lalu bangkit dari duduknya, mendekati Gantari. Tangannya terulur untuk membuka helm di kepala perempuan cantik itu.
Gantari diam saja. Ia hanya fokus pada Kiko ungu yang sedang digigit Nevan, hingga bibir laki-laki itu basah.
Astaghfirullah.
Gantari menggeleng-gelengkan kuat kepalanya. Banyak masalah membuat otaknya jadi tidak beres.
"Hayo, mikir kotor, ya?" goda Nevan, lalu meletakkan helm Gantari ke atas meja.
"Haus. Minta kikonya," ujar Gantari cepat, lantas menyambar kiko yang tinggal satu tergeletak di atas meja.
"Kamu udah lama?" tanya Gantari ketika melihat tumpukan kulit kiko kosong di dalam kantong plastik. Kemudian, ia memilih duduk di kursi.
Nevan memegang perutnya six pack-nya, lalu mengangguk. "Lumayan. Sampai gembung," ujarnya.
__ADS_1
Gantari yang sedang berusaha membuka kiko semata wayangnya langsung melebarkan mata, lalu dengan cepat merebut Kiko yang ada di mulut Nevan.
"Udah jangan dimakan lagi."
"Mubazir. Allah nggak suka," balas Nevan, mencoba merebut kikonya kembali, namun Gantari keburu memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri.
"Astaga, Dihyan!" Nevan menggeram frustasi, lalu menjambak rambutnya sendiri.
"Heleh, kiko doang. Sampai segitunya," cibir Gantari dengan mulut disesaki kiko.
Nevan yang masih saja menunduk frustasi, dengan tangan yang juga masih memegangi kepala, akhirnya mendongak dan menurunkan kedua tangannya. Kemudian, menatap Gantari lekat.
"Dihyan ... Ayo kita nikah."
***
Bang Nevan : Jika! Jika!
Jika : Apaan?
Bang Nevan : Itu beneran aku mau nikah sama Dihyan?
Jika : Mau nggak?
Bang Nevan : Mau banget lah, Jika. Akhirnya! Makasih, yak.
Jika : Iya. Nanti malam tidur cepat ya, Bang.
Bang Nevan : Lah, kenapa emang?
Jika : Katanya mau nikah?
Bang Nevan : Lah, iya. Emang apa hubungannya?
Jika : Lah, iyalah, Bang. Kan abang nikah sama Kak Dihyan dalam mimpi. Kalau nyata mah Jika pikir-pikir dulu.
Bang Nevan : Nampol orang hukumannya berapa tahun, ya?
Jika : wkwkwkwkwk
__ADS_1