Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Enam Puluh Sembilan


__ADS_3

"Cantik."


Fikri melotot mendengar pujian yang disampaikan Nevan secara spontan tersebut. Meski dia teman dan karyawan Nevan, tapi perlu digaris bawahi, jika Fikri ada di pihak Gantari dan itu tidak bisa diganggu gugat.


Hampir saja Fikri menendang kuat kaki Nevan di bawah meja, tapi beruntung bosnya itu kembali bersuara, "Tidak akan sulit baginya untuk mendapatkan yang terbaik."


Huda tertawa, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Inilah yang sedang saya lakukan. Mencarikan dia yang terbaik."


"Sayangnya saya duda," ucap Nevan sembari terbahak, membuat, Huda dan sang putri menatapnya kaget.


"Dan, rencananya sebentar lagi kami akan rujuk. Mohon doanya Pak Huda."


Huda tertawa hambar, lalu mendengkus. "Jangan bercanda."


Nevan meneguk kopinya sedikit, lalu berdeham. "Saya serius. Enam tahun yang lalu saya bukan siapa-siapa, jadi wajar jika pernikahan kami tidak terekspos."


Huda kehilangan kendali dirinya. Dia menggebrak meja, lantas dengan napas tersengal berkata, "Jika semuanya tidak benar, aku anggap ini sebuah penghinaan."


Kemudian, Huda pergi dengan menarik paksa putrinya. Sebelum semakin jauh, Mariah menoleh dan tersenyum tulus pada Nevan.


Seolah berterima kasih, tanpa kata.


***


"Loe pulang naik taksi, ya. Gue mau langsung ke rumah Dihyan."


Sontak saja Fikri langsung memanyunkan bibirnya. Namun, ketika Nevan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah, rautnya langsung berubah cerah.


"Ok. Hati-hati di jalan, Pak. Semoga malam ini menyenangkan," ucap Fikri sumringah, sembari menarik uang yang diulurkan Nevan.


Nevan menyipitkan matanya pada Fikri yang langsung ngacir mencari taksi. Teman satunya itu memang mudah luluh jika sudah melihat uang.


Setelah mobil dihidupkan, Nevan memeriksa ponsel dan rupanya waktu sudah menunjukkan pukul 20.45 WIB. Rasanya dia tadi tidak terlalu lama menghabiskan waktu bersama Huda.


Nevan memacu mobilnya ke luar perkarangan hotel, namun lagi-lagi dia harus bersabar karena jalan lumayan padat dan terkadang malah tersendat. Berkali-kali dia mengembuskan napasnya gusar, pikirannya melayang pada Gantari yang pasti sudah menunggunya sejak tadi.


Benar, Gantari memang sedang menunggu Nevan. Meski jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB, namun Gantari yakin Nevan pasti akan datang.


Hari ini dia tampil feminim dengan sedikit polesan di wajahnya malam-malam begini. Berharap, keputusan yang sudah ia bulatkan dapat terealisasi segera dan menjadi momen tidak terlupakan.


Gantari ingin kembali pada Nevan.


Nevan berkali-kali menekan klakson mobilnya dengan kesal. Beberapa mobil memaksa memakai jalur yang bukan seharusnya, hingga membuat macet semakin parah. Ingin mengumpat juga percuma. Akhirnya, Nevan hanya bisa berharap polisi lalu lintas dapat segera mengatasinya.


Akhirnya, kata pasti sudah berubah menjadi mungkin. Mungkin Nevan datang dan mungkin juga tidak.

__ADS_1


Gantari memutuskan memasak mie instan dan memakannya sendiri. Entah karena kurang air atau bercampur dengan air matanya, yang jelas mie instan itu terasa begitu asin, hingga membuat Gantari menangis sesenggukan.


Selesai memakan dua bungkus mie instan sekaligus, Gantari membawa mangkuk kotornya ke wastafel. Dia tidak berniat untuk mencucinya dan lebih memilih mematikan lampu kamar.


Gantari ingin cepat-cepat tidur.


Di luar ada Nevan, dengan napas terengah sedang menatap rumah Gantari yang tertutup rapat. Pandangan beralih pada kamar Gantari yang sudah gelap gulita, hingga membuatnya menghela napas kecewa.


Rupanya, Gantari tidak menunggu dirinya.


***


Fikri mendobrak masuk ke ruangan Nevan tanpa permisi seperti biasa. Wajahnya cukup tegang untuk hitungan waktu sepagi ini.


"Pak Nevan!"


Nevan yang sedang sibuk membaca laporan dari divisi pemasaran, mendongak. Firasatnya jadi ikutan tidak enak melihat raut wajah Fikri.


"Bapak masuk berita online!" beritahu Fikri yang dibalas decihan sebal oleh Nevan.


"Jangan ngebuat jantung gue sakit. Soalnya hati gue lagi sakit sekarang," sungut Nevan, lantas kembali menekuri laporannya.


"Nevandra Ardiona melakukan pernikahan bisnis dengan putri pemilik Bedongkong Resort, begitu judul beritanya."


Nevan sontak mendongak, lalu membulatkan matanya tak percaya.


"Hah?"


Nevan segera berdiri dengan gusar. Dia meraih ponselnya dan dengan cepat menghubungi nomor Gantari.


Panggilan pertama.


Panggilan kedua.


Panggilan ketiga


Dan, semuanya tidak dijawab.


Gantari sedang duduk di depan televisi dengan kepala tertunduk. Tatapannya tengah fokus pada layar datar di tangannya. Sekilas, ponsel yang sedang ia pegang itu berkedip-kedip menampilkan nama Nevan beberapa kali dan ketika panggilan itu terhenti, layar ponselnya kembali menampilkan laman pencarian dan di sana ada berita daring yang judulnya sama persis seperti yang Fikri ucapkan pada Nevan.


***


Bang Nevan : Konflik aja terus.


Jika : Marah aja terus.

__ADS_1


Bang Nevan : Kamu kira enak perasaan dimainin?


Jika : Abang kira enak mikir alur?


Bang Nevan : Udahlah, Jika. Abang capek.


Jika : Abang 🤧


***


Angkasa : Jika! Oi, Jika!


Jika : 🙄


Angkasa : Eh! Denger kagak orang manggil, Oi!


Jika : Apaan? Mau marah-marah lagi?


Angkasa : Ya, kagaklah. Udah bagus ini, Jika.


Jika : Au ah!


Angkasa : Eh, kamu mau jadi adek Abang, nggak? Semua mau kamu pasti Abang turuti, deh.


Jika : Ceile, Abang. Sori, Pak. Jika udah terikat kontrak sama Bang Nevan.


Angkasa : Brak!


Jika : Astagfirullah!


Angkasa : Jadi kamu nolak aku?


Jika : Bang Nevan, tolongin Jika 🤧


Angkasa : Nevan, Nevan! Udah gue buang ke laut tuh orang!


Jika : Jika tampol juga, nih orang! Songong beud! Pak Ang tau kagak kalau Jika bisa aja buat Pak Ang berjodoh sama Bu Fatimah?


Angkasa : Eh! Kok kamu gitu?


Jika : Bodo! Lihat aja besok, Jika nikahin Pak Ang sama Bu Fatimah, biar Bapak jadi Papanya si Anwar sekalian.


Bang Nevan : HOAKAKAAK. Sini ... sini ... Jika adek Bang Nepan tercayang.


Jika : Peluk, bang.

__ADS_1


Bang Nevan : Ogah!


Jika : Sedih amat, yak, jadi author 🤧


__ADS_2