Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Bonchap: Mantan Terindah


__ADS_3

Semenjak masa kehamilan, Gantari semakin ada-ada saja tingkahnya. Ia jadi susah tidur kalau Nevan tidak mengusap rambutnya sampai ia terlelap. Itulah mengapa Gantari selalu menekuk wajah kalau Nevan harus melakukan perjalanan bisnis keluar kota.


Beruntung ada Fikri yang terkadang cukup bisa diandalkan untuk menangani urusan di luar kota. Jadi, Gantari tidak perlu sering-sering menekuk wajahnya.


"Mas?"


"Hm?" Tangan Nevan masih setia mengusap puncak kepala Gantari, meski kesadarannya sudah nyaris hilang.


"Mantan terindah kamu, siapa?"


Nevan menarik paksa kelopak matanya agar rasa kantuk bisa sedikit berkurang. Ia menoleh ke arah jam dinding dan melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tumben-tumbennya sang istri belum terlelap.


"Pinggang kamu sakit?" tanya Nevan tidak nyambung, hingga membuat Gantari mendecakkan lidah.


Nevan dengar, sih, begitu. Semakin besar usia kandungan, semakin sulit pula si calon ibu tidur.


"Mantan terindah kamu siapa, Mas?"


"Ada. Mantan waktu SMP," balas Nevan ringan. Kelopak matanya makin terasa berat, tapi dia tahan karena tahu Gantari akan merajuk kalau ditinggal tidur duluan.


Gantari memutar tubuhnya menghadap Nevan, menatap sang suami penuh selidik. Dia dan Nevan baru kenal semasa SMA. Jadi, dia tidak tahu sudah mampir kemana saja suaminya itu ketika SMP.


"Siapa? Emang cantik? Kok bisa terindah?"


"Karena namanya Indah."


"Bohong!"


"Jangan menanyakan hal yang bikin sakit hati sendiri, Dihyan." Nevan melanjutkan kegiatannya mengusap puncak kepala Gantari yang tadi sempat terhenti karena sang istri membalik tubuhnya.


"Kok sakit hati? Emang dia banyak lebihnya?"


Nevan melebarkan matanya, lantas terkekeh. "Banyak lebihnya gimana? Gemuk maksud kamu?"


Gantari sedang tidak ingin tertawa karena kalau tertawa, fokusnya akan teralihkan. Ia justru mencubit perut Nevan, hingga sang suami beringsut cepat ke belakang. Hilang sudah rasa kantuknya.


"Buruan jawab!'


"Iya, iya. Dia itu perhatian."


"Terus?"


"Ehm, kalau ngomong selalu lembut."


"Oh!"


"Ayo tidur. Udah tengah malam, nggak baik buat ...."

__ADS_1


"Nggak usah sok perhatian sama aku! Sana nostalgia sama mantan kamu aja!"


Hah? Nevan melongo, terlebih karena Gantari menggeser bantalnya hingga ke pinggir tempat tidur. Menciptakan jarak lebar di antara mereka. Kemudian, berbaring membelakangi dirinya sambil tersungut-sungut.


"Istri lagi hamil malah muji-muji perempuan lain."


"Ya Allah, Dihyan."


***


Drama mantan terindah rupanya tidak berhenti sampai di situ saja. Sejak saat itu, Gantari selalu meniru tingkah si mantan, lembut dan perhatian.


"Kamu udah makan belum?"


Nevan melongo. Dia baru saja akan menyuap makan malamnya dan Gantari malah bertanya seperti itu.


"Ini kan lagi mau makan, Dihyan."


"Oh! Kan biar perhatian."


Nevan menatap Gantari pasrah, lalu mulai menyantap makan malamnya. Suasana kembali tenang, hingga Gantari kembali bersuara dengan suara super manja.


"Makan yang banyak, ya, biar aku nggak cedih."


Uhuk! Nevan menghentikan suapannya, lalu menatap Gantari ngeri.


"Tadi malam kamu yang mancing duluan, ya. Aku ingetin aja, mana tau kamu lupa."


"Harusnya kamu kuat iman dong, biar nggak kepancing."


Nevan menghela napasnya pelan. "Iya, aku salah. Maaf, ya, Sayang."


Kali ini Gantari tidak mendebat lagi. Ia mengatup mulutnya, lalu kembali fokus ke makananya.


Case closed. Semoga saja.


***


Magrib sudah usai beberapa saat yang lalu, bahkan kini waktu Isya sudah hampir tiba. Namun, Nevan belum juga kunjung pulang. Gantari sudah sejak tadi mondar-mandir di depan pintu dengan tangan yang tidak henti-hentinya mengusap perut yang kian membuncit. Maklum, usia kandungannya kini sudah memasuki minggu ke-25.


"Papamu mana, ya, Nak?" gumam Gantari khawatir. Wajahnya sudah mulai terlihat panik karena biasanya Nevan selalu memberi kabar jika pulang terlambat, tapi tidak kali ini.


Gantari berjalan cepat menuju meja depan dan mengambil ponselnya. Ia memeriksa ulang pesan masuk, lalu beralih ke menu panggilan. Mencoba menelpon Nevan untuk kesekian kalinya. Namun, tetap saja Nevan masih belum bisa dihubungi.


"Ya, Allah lindungi suamiku."


Tiba-tiba air mata Gantari merembes ke pipi, lantas ia mengusapnya dengan cepat. Pikirannya jadi kacau. Hatinya jadi gelisah.

__ADS_1


Tidak lama terdengar suara azan berkumandang, pertanda Isya akhirnya tiba, tapi Nevan tetap saja belum pulang. Gantari akhirnya memutuskan duduk di kursi tamu. Harusnya sekarang ia menunaikan salat Isya, tapi pikirannya masih tidak tenang.


Tak lama duduk, Gantari berdiri lagi. Berkali-kali ia mengintip lewat jendela berharap Nevan segera pulang.


Matanya sontak melebar ketika sebuah mobil APV hitam masuk ke dalam pekarangan rumah. Ia memutar anak kunci dengan cepat, lantas melangkah keluar rumah dengan tergesa. Nevan yang baru saja keluar mobil dibuat keheranan melihat Gantari yang berjalan cepat ke arahnya.


"Kenapa, Dihyan?"


Gantari tidak menjawab. Ia langsung menubruk Nevan dan memeluknya erat. Air mata yang sedari tadi mengantri, akhirnya tumpah juga.


"Maafin aku, ya."


Nevan yang masih tidak mengerti dengan situasi saat ini tampak kebingungan. "Maaf kenapa?"


"Maaf udah nyebelin."


Mendengar ucapan Gantari tersebut, mau tidak mau membuat Nevan terkekeh kecil. Kemudian, dia mengusap sayang kepala istrinya itu dan tidak lupa mengecup keningnya singkat.


"Dimaafin."


"Kamu kenapa pulang telat?"


"Ada meeting dadakan. Jadi, sekalian aja aku salat Magrib di luar."


"Kenapa nggak ngabarin?"


"Udah."


Gantari melonggarkan pelukannya dan menatap Nevan dengan mata basah. "Nggak ada."


"Aku minta tolong Bi Murni buat ngabarin kamu. Tadi nomor kamu nggak aktif. Emang Bi Murni nggak bilang?"


Gantari menangis lagi, hingga membuat Nevan makin panik. "Bi Murni malah sibuk belajar bikin brownies lumer tuh di dapur sama Virna. Mungkin dia kelupaan."


Bukannya prihatin, Nevan justru terkekeh geli. Ia mengusap air mata di pipi Gantari, lalu merangkul sang istri dan membawanya masuk ke dalam rumah. Angin malam tidak baik untuk ibu hamil.


"Ngomong-ngomong, Dihyan ...."


"Hm?"


"Aku kangen kamu."


"Heleh!"


***


Spesial untuk kalian yang katanya KANGEN 😝

__ADS_1


__ADS_2