Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
S2: Dilema


__ADS_3

"Gimana kaki kamu?"


Shanessa yang sedang fokus menghadap monitor komputer dengan jemari yang lihai mengetik di atas keyboard sontak menoleh. Kemudian, terperanjat kaget. Meski katanya mereka pacaran, namun kehadiran Angkasa selalu berhasil membuat Shanessa salah tingkah.


"Kaget aja terus," sungut Angkasa, lalu menyenderkan tubuhnya di sudut meja kerja Shanessa.


"U-udah mendingan, Pak."


Angkasa melirik kaki Shanessa sebentar, lalu mengangguk. Ia memang baru pulang dari luar kota dan terakhir kali bertemu dengan gadis itu seminggu yang lalu ketika mengantarnya pulang.


"Bapak kapan balik?" tanya Shanessa memberanikan diri.


"Kemarin siang, tapi saya langsung pulang, nggak mampir ke kantor."


Ada raut kecewa yang tercetak di wajah Shanessa, namun gadis itu memilih tetap mengangguk saja.


"Kamu marah?"


Shanessa terkesiap lagi, lalu menggelengkan kepalanya cepat.


"Kamu marah karena saya nggak pernah membalas pesan kamu?"


"E-enggak, Pak."


"Terus?" sebuah senyum miring terulas di bibir Angkasa. Menggoda Shanessa kadang memang seasik itu.


"Nggak ada terusannya, Pak," balas Shanessa yang mulai tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.


Ya, selama seminggu mereka memang tidak berkomunikasi sama sekali. Jangankan berinisiatif menelpon dan mengabarkan kepulangannya, Angkasa bahkan tidak pernah membalas pesan yang setiap hari Shanessa kirimkan.


"Saya sibuk. Kamu tau, kan?"


Kali ini Shanessa tidak langsung menjawab. Ia justru menundukkan kepalanya dan meremas jemarinya sendiri.


"Tapi, Bapak sering menelpon Leo."

__ADS_1


Angkasa melongo, lalu terbahak keras, membuat Shanessa mengangkat wajahnya lagi.


"Leo itu asisten saya. Jadi, wajar saja kalau saya sering menghubungi dia."


Mendengar jawaban Angkasa tidak langsung membuat rasa kesal di hati Shanessa hilang. Apa susahnya mengetik beberapa kata untuk balasan pesannya? Tidak akan sampai lima menit, kan?


"Nanti saya antar pulang."


Shanessa melebarkan matanya. Mode merajuknya seketika raib dan berganti dengan mode panik. Ia bangkit dari duduknya, lantas menggeleng cepat.


"Nggak usah, Pak. Aku nggak marah, kok."


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa. Pokoknya aku nggak marah. Jadi, nggak usah diantar." Shanessa menggigit bibir bawahnya, lalu melangkahkan kakinya hendak beranjak dari sana. Namun, Angkasa keburu menahan tangannya.


"Tumben?" Angkasa mengangkat sebelah alisnya, menatap Shanessa lekat. "Ada yang kamu sembunyikan dari saya, ya?"


Shanessa menahan napasnya, lalu mencoba mengukir senyum semanis mungkin. "Nggak ada."


"Terus?"


Waktunya tidak tepat. Andai Gantari sedang tidak di rumah, mungkin Shanessa akan melompat saking girangnya. Apalagi, jarang-jarang Angkasa mau melakukan kontak langsung seperti tadi. Benar-benar kesempatan yang sayang sekali terpaksa dilewatkan.


...****************...


"Gimana?"


"Apanya?"


Fikri yang gemas langsung mengambil berkas yang sedang dibaca Nevan, hingga membuat Nevan menatapnya dengan kening berkerut.


"Gue baru baca. Jadi, belum bisa kasih keputusan," protes Nevan.


"Bukan itu! Gimana Gantari?"

__ADS_1


Nevan terdiam. Tenggorokan mendadak tercekat. "Ini jam kantor. Bisa kita bicarakan masalah kerjaan aja?"


"Loe kira dengan menghindar masalah bakal selesai?"


Fikri meletakkan berkas yang tadi diambilnya ke atas meja, lantas beranjak dari sana. Ia melangkah keluar ruangan Nevan dengan perasaan jengkel.


"Loe kira ini mudah buat gue?" gumam Nevan setelah Fikri menutup pintu. Ia mengusap kasar wajahnya, lantas menatap layar laptop dengan background foto pernikahannya dengan Gantari.


...****************...


Angkasa melanjutkan mobilnya menuju kediaman keluarga Ardiwinata. Di sampingnya ada Shanessa yang tumben-tumbennya jadi pendiam sekali.


"Sebenarnya yang sakit kaki atau hati kamu?"


Shanessa tersentak, lalu menoleh pada Angkasa tanpa jawaban. Ia hanya menatap Angkasa yang lagi-lagi tersenyum usil. Kemudian, wajahnya menjadi awas ketika melihat Angkasa memainkan ponselnya dengan sebelah tangan.


"Jangan main hp sambil nyetir, Pak."


Angkasa tidak menggubris protes Shanessa karena ia hanya memainkan ponselnya sebentar saja, lantas mengembalikannya lagi ke tempat semula. Bersamaan dengan itu, terdengar suara dentingan dari ponsel Shanessa, pertanda ada pesan masuk.


Shanessa meraih ponsel di dalam tasnya, lalu menyentuh tombol power dan seketika senyum geli terulas dari bibirnya.


"Nggak usah dijawab sekarang juga kali, Pak."


Angkasa melirik Shanessa, lalu senyum tiba-tiba terkulum dari bibirnya. Sebenarnya, diam-diam ia sudah terbiasa dengan sikap kekanak-kanakan Shanessa.


Akhirnya yang dinanti-nanti tiba juga. Mobil Angkasa menepi di depan pagar kediaman Ardiwinata karena Shanessa memang tidak menawarinya mampir.


"Hati-hati, ya, Pak," ucap Shanessa setelah berhasil melepas sabuk pengaman. Tangannya bahkan sudah bergerak menarik handel pintu, tampak begitu terburu-buru.


Meski merasa aneh, namun Angkasa tetap menganggukkan kepalanya. Ia mengangguk lagi ketika Shanessa yang sudah berdiri di luar mobil melambaikan tangan padanya, lalu mulai memutar tubuh dan berjalan memasuki perkarangan rumah. Benar-benar terburu-buru sekali.


Angkasa mengakat bahunya cuek, lantas memacu kembali mobilnya setelah Shanessa sudah benar-benar tak tampak lagi. Namun, tak jauh karena mobil itu kembali berhenti.


Angkasa membuka kembali kaca jendela dan mengedarkan pandang ke arah rumah besar tersebut. Tidak ada yang aneh. Ia akan kembali menutupnya, namun diurungkan ketika melihat sosok seorang wanita yang keluar dari rumah itu dengan langkah tertatih.

__ADS_1


Wanita itu ... Gantari Dihyan Irawan.


__ADS_2