Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Bonchap: Bergerak


__ADS_3

Jam dinding masih menunjukkan pukul 2 dini hari ketika Gantari terbangun dari tidurnya dengan mata melebar. Tatapannya langsung tertuju cukup lama pada perutnya sendiri.


Gantari bangkit dan menyenderkan tubuhnya ke kepala ranjang. Kemudian, menguncang-guncangkan tubuh Nevan yang berbaring di sampingnya.


Nevan yang sedang nyenyak-nyenyaknya tidur tentu saja terkejut. Wajahnya begitu waspada ketika melihat raut serius Gantari.


"Apa? Kenapa?"


"Mas!"


"Kanapa, Dihyan?" Nevan bangkit dengan cepat dan duduk menghadap Gantari, khawatir. Meski kepalanya sendiri masih terasa sedikit pening.


"Dia bergerak."


"Siapa?" Nevan menyisir pandangannya ke seluruh penjuru kamar siaga, lantas perhatiannya fokus ke arah jendela. Ia beringsut turun dari tempat tidur dengan rambut berantakan setelah menoleh ke jam dinding terlebih dahulu. Kemudian, ia berjalan mendekati jendela dan menyingkap gorden. Tidak ada apa-apa.


"Mas!"


Jendela dalam keadaan aman. Tidak terlihat ada pergerakan yang mencurigakan juga di luar. Kemudian, ia menoleh pada Gantari yang masih duduk di atas tempat tidur.


"Dimana yang bergerak, Dihyan?" tanya Nevan dengan suara parau.


"Di perut."

__ADS_1


Wajah bantal Nevan tampak kebingungan. Kinerja otaknya melamban kalau bangun tidur dalam keadaan kaget begini. "Apanya?"


"Anak kamu bergerak di perut."


"Anak siapa?"


"Anak kamu!" sembur Gantari jengkel. Dia ikut turun, lalu menarik tangan Nevan dan mengajaknya kembali ke tempat tidur. Kemudian, mereka duduk di tepi ranjang.


Gantari tersenyum, lalu mengarahkan tangan Nevan yang ada di genggamannya ke arah perut. Tatapannya melembut.


"Tadi gerakannya kuat," ucap Gantari pelan.


Darah Nevan seketika berdesir. Meski ia belum merasakan gerakan apapun, tapi mendengar Gantari bercerita begitu membuatnya ikut terhanyut.


"Coba panggil, Mas."


Nevan menatap Gantari lama, lalu perlahan pandangannya mulai beralih pada perut buncit sang istri. Hatinya menghangat. Ia mencondongkan tubuhnya dan mulai mengusap-usap pelan perut Gantari.


"Ini papa, Sayang." Ah! Bicara seperti itu saja, rasanya Nevan sudah ingin menangis. Sedangkan, Gantari juga sama harunya.


"Kamu sehat-sehat, ya. Baik-baik di sana dan jangan menyusahkan mama."


Nevan melebarkan matanya. Ia menengadah menatap Gantari, lantas senyum lebar terbit di bibirnya. "Bergerak!"

__ADS_1


Gantari mengangguk. Ia mengusap sayang rambut Nevan, ketika Nevan sudah menunduk dan kembali fokus menatap perutnya lagi.


"Mungkin ini yang namanya jatuh cinta tanpa bertemu." Nevan bergumam, lalu melanjutkan, "Assalamualaikum, Sayang! Perkenalkan, aku calon cinta pertamamu."


Gantari terkekeh, namun kemudian dia dibuat kaget ketika Nevan berteriak. "Bergerak lagi, Dihyan. Ya Allah!"


Setetes air mata akhirnya lolos dari sudut mata seorang Nevandra Ardiona. Ia mencium perut Gantari cukup lama dengan mata terpejam. Beberapa doa sedang ia minta. Kemudian, ia menegakkan tubuhnya dan beralih dengan memeluk Gantari. Mencium kening Sang Istri bertubi-tubi.


"Semoga kebahagiaan ini selalu Allah ridhoi."


Gantari tidak tahan untuk tidak menangis juga. Ia ikut meneteskan air mata dan membalas pelukan Nevan dengan erat.


"Aamiin, ya Rabb."


***


Aku percaya, setiap manusia punya cerita bahagianya sendiri dan punya cerita sedihnya sendiri. Berhentilah, membandingkan kisah bahagia dan kisah sedihmu dengan orang lain. Berhentilah, meminta orang lain untuk bertanggung jawab atas kebahagian dan rasa sedihmu. Perasaanmu adalah tanggung jawabmu sendiri.


Selamat mengusahakan banyak kebahagiaan!


***


Kalau ini spesial untuk yang ngancam aku kalau cuma update satu bab 😝

__ADS_1


Habis baca like + komen, dong, jangan diem-diem bae kayak mantan 🙄


__ADS_2