Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
S2: Alasan


__ADS_3

Kata orang, jangankan cinta, iman saja bisa naik turun. Seperti Angkasa yang masih saja menatap Gantari dari kejauhan. Ia melihat segala pergerakan wanita itu dengan begitu penuh perhatian.


Meski jauh, tapi Angkasa bisa melihat Gantari tidak dalam keadaan baik-baik saja. Wanita yang pernah atau mungkin masih dicintainya itu tampak seperti sedang menahan rasa sakit.


Sebuah mobil sedan silver keluar dari garasi dan tak lama setelah itu Ardiman keluar dari sana dengan tergesa. Kemudian, membimbing Gantari untuk ikut masuk ke dalam mobil tersebut.


Deg!


Darah Angkasa berdesir. Apa yang terjadi pada Gantari? Dia kenapa?


Angkasa memacu mobilnya setelah mobil yang ditumpangi Gantari melesat di depannya. Pikirannya mulai berkecamuk. Dadanya mulai bergemuruh.


Kemana si brengs*k Nevan?


Lagi-lagi darah Angkasa berdesir karena seperti dugaannya, Ardiman berbelok ke sebuah rumah sakit. Kali ini Angkasa tidak mengikuti lagi. Ia hanya menatap sedan silver itu dari kejauhan hingga hilang memasuki pelataran parkir.


Angkasa memacu mobilnya lagi. Wajah Gantari yang tampak begitu tersiksa berputar di otaknya. Berbanding terbalik dengan wajah bahagia yang wanita itu tunjukkan seminggu yang lalu ketika mereka bertemu di kediaman Ardiwinata.


Nevan, jangan salahkan aku jika ... cinta itu porsinya meningkat lagi.


...****************...


Gantari menatap tiga kaplet obat di telapak tangannya, lantas menenggaknya dengan sekali tegukkan. Ia kira semuanya sudah selesai, tapi rupanya tubuhnya menolak.


Gantari tersedak, lantas ia berlari ke kamar mandi. Kemudian, memuntahkan obat yang baru saja ditelannya tanpa sisa.

__ADS_1


Tenggorokannya terasa pahit dan perih di saat yang bersamaan. Mungkin itu yang membuat Gantari meneteskan air matanya. Tapi, tidak. Meski rasa di kerongkongannya mereda, namun air mata itu belum juga surut.


Gantari membekap mulutnya sendiri akibat tangisnya yang kian pecah. Ia ingin sekali meraung sekuat mungkin. Ia ingin sekali meratapi dan mengeluhkan nasibnya. Ia mau seluruh dunia tahu, jika ia menderita. Namun, tidak boleh. Dia tidak boleh begitu.


Akhirnya, hanya isak tangis tertahan dalam kesendirian yang bisa Gantari lakukan. Ia hanya memberi dirinya hak untuk menangis diam-diam.


...****************...


Cinta tertinggal, sang pemilik sudut hati yang tidak akan pernah terganti. Walaupun, sebenarnya ingin.


"Kamu udah makan?"


Shanessa tersentak lagi. Mungkin lama-lama dia bisa kena serangan jantung kalau terus-terusan disapa Angkasa, tapi lucunya dia suka.


"Ta-tapi, 10 menit lagi baru jam makan siang, Pak."


"10 menit bonus buat saya," balas Angkasa ringan, lantas berbalik dan mulai melangkah pergi. Meninggalkan Shanessa yang wajahnya sudah merah seperti tomat.


Shanessa mengipas-ngipasi wajahnya yang terasa panas dengan telapak tangan. Kemudian, meraih handbag dan berlari mengejar Angkasa yang seperti biasa berjalan cepat.


Kali ini mereka tidak makan di kantin kantor. Angkasa mengajaknya makan di luar.


"Saya dengar, nasi goreng dendeng lemak viral baru-baru ini," mulai Angkasa sembari mengendalikan kemudi mobilnya. Kemudian, melirik pada Shanessa yang tidak merespons ucapannya.


"Kenapa? Kamu diet?"

__ADS_1


"Oh, enggak." Shanessa menggeleng cepat. "Tapi, kalau mau pesan harus masuk antrian dulu, Pak."


"Sudah saya pesan."


Wajah Shanessa merona lagi. Ia bahkan tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Diperlakukan spesial memang selalu bikin melayang, kan?


"Ngomong-ngomong ...." Angkasa menjeda ucapannya. Ia tampak menimbang sejenak, lalu menoleh pada Shanessa dan melanjutkan, "Gantari kenapa?"


Hilang sudah gelitik di dada Shanessa dan berganti dengan perasaan sesak yang mencekik. Shanessa diam, tidak menjawab.


"Gantari sakit apa?" Sebenarnya, Angkasa akan menanyakan hal ini setelah makan, tapi ia terlalu tidak sabaran untuk menunggu. "Nevan kemana? Si brengs*k itu ninggalin Gantari?"


"Gantari cuma main. Biasa saja kan kalau dia datang ke rumah kakek?" balas Shanessa dingin.


Angkasa menghela napasnya. "Jangan bohong. Tadi pagi dia masih ada di rumahmu."


Mendengar ucapan Angkasa tersebut, sontak membuat mata Shanessa melebar tak percaya. Ia menatap Angkasa tajam. Hatinya kepalang terluka. "Jadi ini alasannya?"


Angkasa menoleh lagi, lalu mengangkat sebelah alisnya.


"Jadi ini alasannya kamu bersikap baik padaku?" ucap Shanessa tajam.


"Kamu jangan salah paham."


"Berhenti! Aku mau turun."

__ADS_1


__ADS_2