
"Pengen nangis tau nggak, sih!" Shanessa berteriak frustasi. Ia menelungkupkan wajahnya ke atas meja Perpustakaan.
Lexa yang berada di samping sedang mengetik langsung menoleh, lantas cekikikan. "Sabar, beb. Ini yang namanya perjuangan."
Shanessa bangkit lagi. "Kalau bukan karena janji sama Nevan, entah deh gue bisa kuat atau enggak."
"Janji apaan?"
"Nyelesain kuliah, baru dinikahin," jawab Shanessa tersungut-sungut.
Mendengarnya Lexa langsung ngakak, namun ia segera membekap mulutnya sendiri ketika sadar orang-orang mulai terusik.
"Nyesek beud," bisiknya pada Shanessa yang langsung dihadiahi cubitan sang teman.
"Eh! Ngomong-ngomong sepupu lo itu beneran pindah kerja ke kantor tunangan lo?"
"Sementara doang."
"Walaupun sementara," Lexa memutar tubuhnya menghadap Shanessa, tanda obrolan mode serius dimulai. "Lo nggak takut?"
Shanessa tak lantas menjawab. Ia hanya mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.
"Gimana kalau Nevan tergoda ke lain hati," lanjut Lexa hati-hati.
"Gila, lo!" sentak Shanessa tak suka. Ia menyentil pelan kening Lexa.
"Gue sebagai teman lo cuma bisa ngingetin biar lo lebih hati-hati. Gimana pun juga Gantari itu cewek," kata Lexa sembari mengelus keningnya.
Shanessa memuta bola matanya. "Tapi dia sepupu gue."
"Yaelah, sepupu yang baru lo kenal juga."
"Udah lima tahun, ya, Lex. Nggak sebenar!" sergah Shanessa.
"Saudara kandung yang kita kenal dari brojol aja ada tuh yang berani ngerebut suami saudaranya sendiri. Apalagi ini yang cuma lima tahun," cerita Lexa sembari membetulkan letak kacamatanya.
"Siapa?"
"Ada tuh di novel yang seliweran di beranda FB gue," jawab Lexa cuek, lalu kembali menghadap laptopnya dan mengetik lagi, tidak menghiraukan Shanessa yang menatap sebal ke arahnya.
***
Farez sedang makan sendirian di kantin rumah sakit pagi ini ketika Rendy datang dan ikut bergabung. Wajah dokter muda itu ceria seperti biasa.
"Boleh usul nggak, sih?"
Farez mengangkat kepalanya dengan mulut yang masih mengunyah mendengar sang teman bersuara.
"Keluarga pasien udah mumet, makanannya malah bikin nggak nafsu begini," lanjutnya.
Farez diam saja, diladeni pun percuma. Lagi pula dia juga memang tidak begitu suka dengan menu kantin rumah sakit.
"Ren...,"
Kali ini Rendy yang mengangkat kepala mendengar namanya disebut. Ancang-ancang kalau mendapat serangan argumen.
"Menurut lo, gue harus gimana, sih?"
O, masalah hati ini mah, pikir Rendy. Ia meminum air mineral beberapa teguk. Kemudian memasang ekspresi berpikir.
"Kita nggak akan tau jawabannya kalau nggak dijalani, sob."
Masalah hati, Rendy memang pakarnya. Sudah berapa perawat yang dibuat baper dan berakhir patah hati olehnya, karena Rendy hanya setia pada istrinya seorang.
"Percuma mikir harus gimana, dia gimana, nantinya gimana. Udah buruan eksekusi aja," Rendy berdeham, kemudian melanjutkan, "Ibarat pasien nih, penyesalan membiarkan pasien mati perlahan karena takut ini itu lebih gede ketimbang kematian pasien pasca operasi."
Farez tercenung. Tidak menyangka teman konyolnya itu bisa bijak juga.
__ADS_1
"Pelan-pelan liatin perhatian, lo. Liatin kalau lo itu tertarik sama dia," lanjut Rendy membara.
"Caranya?"
Luar biasa dokter muda kita ini. Untung sang teman sabar, lagi pula jarang-jarang Farez terbuka soal hati, maka Rendy kembali menjelaskan.
"Cuma lo yang tau. Setiap orang punya gayanya sendiri," tutupnya. Kemudian Rendy melanjutkan makan dengan cepat. Waktu operasi selanjutnya sudah hampir tiba.
Lelaki 29 tahun di hadapannya itu masih terdiam, mencoba mencerna ucapan teman sejawatnya barusan.
Belakangan ini Gantari selalu datang ke rumah sakit sekitar pukul 12.00 WIB. Walau hanya berkunjung sekitar satu jam saja, namun kunjungannya rutin terjadi setiap hari. Tidak seperti biasanya yang hanya datang hari Minggu saja dan itu seharian.
Namun, sekarang Gantari tidak lagi membawa bekal makan siang seperti biasa. Padahal itu merupakan hal yang paling dirindukan Farez.
"Hai Dihyan," sapa Farez ketika melihat Gantari menutup pintu. Sepertinya dia akan kembali bekerja.
Sapaan itu dibalas Gantari dengan senyuman. Salah satu alasan yang membuat dada Farez berdesir. "Udah mau balik?"
"Iya, udah hampir jam masuk," jawab Gantari. "Baru siap operasi?"
Farez mengangguk. Kemudian menunjukkan tangannya yang masih dibungkus oleh sarung tangan dengan sedikit darah.
Sepertinya dokter tampan itu buru-buru ingin menjumpai Gantari karena tau rutinitas besuk si wanita pujaan.
Gantari tersenyum lagi. Tidak ada ekspresi ngeri atau jijik ketika melihat sarung tangan yang diperlihatkan Farez barusan. "Tetap jadi orang baik, ya."
Farez terenyuh. Senyum malu-malu terbit di bibirnya.
"Tapi orang baik sedang lapar sekarang," menurutnya ini adalah kesempatan yang tepat untuk selangkah mendekati Gantari.
Gantari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Dia tau itu kode ajakan makan siang, tapi jam istirahat sudah hampir usai.
Melihat gerak-gerik Gantari, Farez paham. Ia buru-buru melanjutkan, " Udah lama nggak makan masakan kamu."
Gantari tertawa kecil. "Besok aku bawain. Tapi, mungkin bakalan dingin."
Setelah melemparkan senyum kecil dan kesepakatan telah terjadi, Gantari pamit. Meninggalkan Farez yang dihujani taburan bunga. Wajahnya merona bahagia. Langkah kakinya terasa sangat ringan dan perutnya menjadi kenyang. Gantari masak untuknya adalah fakta terbaik yang ia dapat hari ini.
Sesampainya di kantor, ponsel Gantari berdering, sang paman yang sedang berada di negeri oranglah yang menelpon menanyakan kabar.
"Makasih banyak, Om."
"Buat?"
"Emang Tari nggak tau kalau ini ide Om."
Terdengar suara tawa dari seberang. "Sama-sama, sayang."
Gantari tersenyum bahagia. Adik dari ayahnya itu selalu menjadi obat penawar rindu baginya jika ia merindukan sang ayah. Kasih sayangnya pada Gantari sudah tidak diragukan lagi dan Gantari tahu itu.
Setiap sore, sepulang kerja, Gantari akan dijemput pak Sarif, supir kakek. Ya, meskipun sementara beda tempat kerja, tapi Gantari tetap di bawah pengawasan sang kakek. Walau pun kecolongan juga.
Gantari bersikap seperti anak penurut yang pulang kerja langsung pulang dan hari Minggu waktunya dihabiskan seharian untuk membesuk sang ibu seperti biasa.
Shanessa kompak, dia bersikap seolah tidak tau apa-apa. Sama seperti pamannya, sepupunya itu juga sayang padanya.
Hari ini Gantari bangun lebih awal. Fajar belum menyapa, namun dia sudah sibuk di dapur untuk menepati janjinya pada Farez. Tiga tingkat kotak makan sudah disesaki capcay baso sapi, jamur crispy, dan roti panggang alpukat isi telur.
Selesai masak dia langsung mandi dan salat subuh dulu. Baru kemudian bersiap berangkat ke kantor.
Gantari masih memegang rekor karyawan datang paling pertama. Kotak makan ia letakkan di pinggir meja, lantas ia beranjak menuju pantry untuk membuat kopi.
Ahmad datang kemudian. Disusul Nanda dan yang lainnya. Fikri yang notabene anak lapangan dan jarang nimbrung di ruangan, hari ini datang dengan gaya kasual. Tasnya penuh sesak dengan laporan. Dia langsung menuju ruangan sang atasan setelah menggoda Gantari sebentar.
Elma juga baru datang. Dia terlambat lantaran ada survei pagi ini dan hidungnya langsung bereaksi. Tak lama mengendus, sumber yang menggoda indera penciumannya berhasil ditemukan.
"Lo bawa bekal, Tar?" tanyanya.
__ADS_1
Gantari tersenyum, kemudian mengangguk.
"Asyik! Bisa nyicip masakan Tari," Widia menimpali.
Nevan yang mengantar Fikri ke depan pintu menoleh mendengar obrolan karyawannya.
"Sori, tapi ini udah ada tuannya," balas Gantari.
Fikri yang juga mendengar langsung memegang dadanya sok patah hati. Sedangkan, teman yang lain menggoda Gantari dengan meneriakkan u panjang.
Nevan tidak mendengarkannya sampai selesai karena dia berbalik dan menutup pintu.
Seperti biasa, ketika jam istirahat tiba Gantari akan mulai bersiap-siap pergi yang berbeda adalah kali ini dia membawa tiga susun kotak makan.
Ketika melewati rekannya Gentari kembali digoda.
"Eh, beneran nggak boleh nyicip?"
"Duh, wanginya, Tar."
"Tinggalin sekotak kek, Tar."
Nevan yang juga mau makan siang melihat Gantari pergi dengan kotak makannya sambil terkekeh geli.
***
Farez mematung. Dia menatap tiga kotak makan dihadapannya dengan tatapan tak percaya. Ini untuknya semua?
Basa-basi tidak akan habis kalau makan sendiri, maka Farez memaksanya Gantari untuk makan bersamanya di taman rumah sakit.
Duh, udah kayak drama Korea aja.
Makan sesuap, pujian langsung dilontarkan. Roti panggang digigit sedikit, ekspresi berlebihan mulai ditunjukkan. Farez memang sedang dimabuk cinta.
Gantari terkekeh melihat tingkahnya.
"Maaf, ya. Gara-gara aku, kamu pasti repot dari subuh."
Disela kunyahan roti panggang alpukatnya Gantari menggeleng. "Nggak apa-apa. Lagian aku belum pernah ngasih sesuatu sebagai tanda ucapan terimakasih karena udah merawat ibu."
Farez memperhatikan.
"Anggap aja ini salah satunya," lanjut Gantari.
Farez menyipitkan matanya. " Kalau ini salah satu, berarti akan ada salah dua, kan?" Kikiknya.
"Mungkin," balas Gantari ringan.
"Boleh nggak, kalau salah duanya aku yang nentuin?"
Gantari tampak berpikir sebentar. Kemudian mengangguk.
Diam-diam Farez merasa lega. Tadinya, dia takut Gantari bakal ilfil padanya.
"Ngomong-ngomong, aku ngelunjak, ya?"
Tidak disangka, Gantari mengangguk kuat membuat Farez meledakkan tawa.
Selesai makan dan melihat keadaan ibu sebentar, Gantari bergegas kembali ke kantor.
Kotak makan ia letakkan kembali ke pinggir meja. Kemudian, ia berlalu menuju ruang rapat. Rapat dengan staf untuk pematangan rencana tahap kedua akan dilakukan hari ini sebelum diajukan pada Nevan.
Nevan juga baru kembali dari makan siang. Kantor masih sepi, karena sebagian karyawan rapat dan sebagian lagi punya tugasnya masing-masing. Hanya ada Irfan dan Sendi di pantry yang sedang membuat minum sambil berbincang.
Nevan mengayunkan langkahnya menuju ruangan. Namun, langkahnya terhenti di depan meja Gantari. Ia melihat kotak makan berwarna hijau yang tadi pagi menjadi topik perbincangan. Tangannya terulur dan mengangkat kotak itu.
Ringan.
__ADS_1
Kotak makan itu sudah kosong. Dia melepaskannya kembali dengan sedikit kasar. Entah kenapa dia merasa kesal.